Info Penting
Selasa, 23 Apr 2024
  • Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sistem pangan dan energi, produktivitas ekonomi dan integritas lingkungan semuanya bergantung pada siklus air yang berfungsi dengan baik dan dikelola secara adil. Kita harus bertindak berdasarkan kesadaran bahwa air bukan hanya merupakan sumber daya yang dapat digunakan dan diperebutkan – namun merupakan hak asasi manusia, yang melekat pada setiap aspek kehidupan. ---Hari Air Sedunia tahun 2024 adalah 'Air untuk Perdamaian'.---
  • Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sistem pangan dan energi, produktivitas ekonomi dan integritas lingkungan semuanya bergantung pada siklus air yang berfungsi dengan baik dan dikelola secara adil. Kita harus bertindak berdasarkan kesadaran bahwa air bukan hanya merupakan sumber daya yang dapat digunakan dan diperebutkan – namun merupakan hak asasi manusia, yang melekat pada setiap aspek kehidupan. ---Hari Air Sedunia tahun 2024 adalah 'Air untuk Perdamaian'.---
28 Maret 2024

Petani Panombeian Belajar Adaptasi Iklim dengan SLI

Kam, 28 Maret 2024 Dibaca 8x Lingkunan Hidup / Perubahan Iklim

 Petani Panombeian bergotong royong melakukan pemberantasan hama tikus pada bedengan sawah mereka.

Berawal dari serangan hama tikus pada akhir 2023 hingga awal 2024 lalu, yang menghancurkan sekitar 65% lahan padi sawah masyarakat desa Panombeian, kecamatan Panombeian Panei, kabupaten Simalungun, karenanya dilakukan serial diskusi antara masyarakat, kelompok tani Horas Jaya dengan Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia. Hasil beberapa kali diskusi disimpulkan bahwa selain pola tanam yang tidak seragam, anomali iklimlah yang menjadi salah satu penyebab pola serangan hama tikus menjadi begitu ganas.

Kesimpulan ini sejalan dengan apa yang dihasilkan pada riset Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dipublikasikan pada Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Volume 2 No. 3, edisi Maret 2022. Menyatakan, “Pengaruh iklim pada pertanian dapat dirasakan secara langsung seperti terjadinya banjir akibat iklim ekstrem maupun dampak sekunder yang menyebabkan peningkatan serangan organisme pengganggu tumbuhan khususnya padi sawah. Faktor utama yang harus diperhatikan dalam menentukan waktu dan pola tanam serta variasi tanaman yang sesuai dengan pola iklim di daerah yang bersangkutan.” Berikutnya disebutkan bahwa, “unsur iklim penyinaran matahari, kelembaban rata-rata, dan suhu udara rata-rata berpengaruh nyata terhadap luas tambah serangan tikus”.

Maka sejak Senin, 25 Maret 2024 dimulailah sekolah lapang iklim (SLI) untuk pertanian pangan di desa ini. SLI merupakan salah satu upaya meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi bencana iklim. Petani belajar memahami Iklim dan dampaknya terhadap sektor pertanian. Pemberdayaan petani merupakan kata kunci dalam kegiatan ini, melalui pertemuan mingguan hingga satu musim tanam (3 – 4 bulan ke depan) sebagai media belajar di lahan demo plot sesuai dengan topik yang menjadi kajian terhadap persoalan yang dihadapi bersama.

Pada pertemuan perdana Sekolah Lapang Iklim (SLI), kelompok tani Horas Jaya, desa Panombeian mengikuti materi pengantar perubahan iklim yang difasilitasi oleh Iswan Kaputra dari BITRA Indonesia.

Dipimpin Ketua Kelompok, Riama Simanjuntak, kelompok tani Horas Jaya membuat pupuk organik dan pestisida nabati yang bahannya berasal dari ketersediaan/kekayaan alam pada lingkungan sekitar desa.

Kelompok Horas Jaya juga mencari/mengumpulkan pupuk dari kotoran kambing, sapi dan kerbau yang tercecer karena digembalakan pada kebun sawit masyarakat, kotoran dikumpulkan untuk dibawa pada lahan sawah, pertanian pangan padi organik mereka.

Tim dari BITRA Indonesia, audiensi kepada pihak Balai Besar Wilayah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara untuk menjalin kerja sama dan saling berbagi ilmu pengetahuan dengan masyarakat tani dampingan BITRA pada SLI yang akan dilakukan pada desa-desa dampingan BITRA Indonesia.

Petani pemandu dan petani peserta turun ke sawah untuk melakukan agro eco system analysis (AESA), mengamati, mencatat, mendeskripsikan dan mempresentasikan serta merumuskan alternatif solusi yang dihadapi. “Proses mingguan secara berkesinambungan (learning cycle base on experience and learning by doing) diharapkan menumbuhkan semangat untuk kembali bertani, melahirkan berbagai inovasi upaya adaptasi dampak anomali iklim, bahkan lahirnya pemimpin pemimpin petani di tingkat lokal. Ucap Berliana Siregar, Manager Divisi Community Development and Envirovment (CDE) BITRA Indonesia. (Isw)

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar