Ancaman terhadap aktivis dan organisasi masyarakat sipil tidak lagi hanya terjadi di ruang fisik. Di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital, serangan seperti phishing, peretasan akun, kebocoran data pribadi, hingga doxing dapat menjadi pintu masuk bagi risiko yang lebih besar, termasuk intimidasi, persekusi, dan ancaman keselamatan fisik.
Kesadaran inilah yang mendorong BITRA menggelar Pelatihan Safeguarding bertajuk “Dari Ancaman Digital ke Risiko Fisik: Pelatihan Safeguarding untuk Perlindungan Aktivis dan Organisasi BITRA” pada 24–25 April 2026 di Le Polonia Hotel & Convention, Medan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas individu dan organisasi dalam membaca, mencegah, serta merespons risiko secara lebih terintegrasi.
Direktur BITRA, Rusdiana, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa pelatihan ini penting untuk memastikan kerja-kerja organisasi tetap berjalan dengan aman di tengah meningkatnya risiko yang dihadapi aktivis dan organisasi masyarakat sipil.
“Ancaman terhadap kerja-kerja masyarakat sipil saat ini semakin kompleks. Risiko digital dapat berdampak pada keselamatan fisik, psikologis, maupun keberlanjutan kerja organisasi. Karena itu, BITRA perlu memperkuat kapasitas staf dan membangun sistem perlindungan yang lebih baik, agar setiap orang dapat bekerja dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan saling melindungi,” ujar Rusdiana.
Melalui pendekatan safeguarding, perlindungan tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan administratif, tetapi juga sebagai komitmen organisasi untuk memastikan keselamatan, martabat, dan kesejahteraan setiap individu. Pendekatan ini penting karena berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan psikologis dan seksual, masih kerap tidak dilaporkan akibat lemahnya sistem perlindungan, ketimpangan relasi kuasa, serta budaya yang menormalisasi kekerasan.
Selama dua hari pelatihan, peserta dibekali materi mengenai analisis situasi, kesadaran situasional, pemetaan risiko, penilaian ancaman, perencanaan keamanan, serta pengelolaan risiko psikososial. Pada hari kedua, pelatihan berfokus pada keamanan digital, termasuk kebersihan perangkat, manajemen identitas, perlindungan akun, autentikasi dua faktor, serta komunikasi yang aman.
Pelatihan ini juga diarahkan untuk mendorong lahirnya rekomendasi awal kebijakan safeguarding organisasi. Rekomendasi tersebut mencakup penguatan kode etik, standar operasional prosedur, mekanisme pengaduan yang aman dan terpercaya, serta kapasitas respons terhadap kasus.
Melalui pelatihan ini, BITRA berharap seluruh staf memiliki kesadaran dan kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi risiko digital, fisik, maupun psikososial. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan kerja organisasi yang lebih aman, inklusif, dan berpihak pada perlindungan setiap individu.
Tinggalkan Komentar