Yayasan BITRA Indonesia bersama Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat (BKMA) Kementerian Kebudayaan RI akan menggelar Workshop Penguatan Sistem Pangan Lokal melalui Kearifan Lokal dalam Sekolah Lapang Adaptif Iklim. Kegiatan ini berlangsung di dua lokasi, yakni Kabupaten Langkat pada 19 Agustus 2025 dan Kabupaten Serdang Bedagai pada 21 Agustus 2025, dengan melibatkan petani, budayawan, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta.
Workshop ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi pangan global yang cenderung lebih berpihak pada bisnis skala besar daripada kesejahteraan petani kecil. Di tengah krisis iklim, cuaca ekstrem, dan mahalnya input pertanian kimia, posisi petani semakin rentan.
“Pangan lokal sejatinya lebih sehat, ramah lingkungan, dan mampu bertahan dalam situasi ekstrem. Inilah saatnya kita kembali menumbuhkan kemandirian desa dengan bertumpu pada budaya dan tradisi,” ungkap Berliana Siregar, panitia penyelenggara workshop.
Krisis iklim telah merusak lahan pertanian, memicu gagal panen, dan menurunkan kesejahteraan petani. Di sisi lain, pola konsumsi masyarakat dunia yang semakin instan membuat pangan lokal terpinggirkan. Padahal, pangan tradisional seringkali lebih sehat, beragam, dan sesuai dengan kondisi alam setempat.
BITRA Indonesia menilai penting untuk mengangkat kembali tradisi seperti mamona-mona di Batak Toba, Turun Sawah di Melayu dan Jawa, serta ritual penghormatan alam sebagai filosofi menjaga keseimbangan manusia dan lingkungan. “Pertanian organik berbasis tradisi merupakan jalan tengah yang tidak hanya menghasilkan pangan sehat, tetapi juga memperkuat nilai budaya dan menjaga bumi,” tambah Berliana.
Sekolah Lapang Iklim: Belajar dari Lahan dan Budaya
Melalui program Sekolah Lapang Iklim (SLI), BITRA Indonesia telah mendampingi lebih dari 300 petani di 14 desa. SLI mengajarkan teknik budidaya ramah iklim, pembuatan pupuk organik, pestisida alami, serta manajemen air. Tidak hanya itu, pembelajaran juga mengintegrasikan unsur budaya, seperti nyanyian, pantun, tarian, hingga doa syukur panen yang diwariskan leluhur.
Generasi muda, tokoh adat, perempuan, hingga penyandang disabilitas juga dilibatkan agar pertanian menjadi ruang pembelajaran lintas generasi. “Kami ingin memastikan bahwa pertanian bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ruang perawatan budaya dan sosial,” jelas Restu Aprianta Tarigan, Manager Program BITRA Indonesia.
Dalam sambutannya, Restu menekankan bahwa kolaborasi lintas pihak adalah kunci keberhasilan menjaga kedaulatan pangan. “Petani harus diberi ruang untuk berkembang dengan tetap berpegang pada budaya dan kearifan lokal. Workshop ini adalah momentum membangun sinergi demi terciptanya sistem pangan yang sehat, adil, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber penting, yakni :
Di Kabupaten Langkat, Muhammad Hidayat dari Pusat Informasi Tanah Melayu membawakan topik “Pangan Lokal dan Kehidupan Masyarakat di Pesisir Sumatera Utara”.
Di Kabupaten Serdang Bedagai, Ir. Soekirman – Ketua KSBN Sumut sekaligus praktisi pertanian organik – akan memaparkan “Sistem Pangan Lokal Berkelanjutan dalam Budaya dan Tradisi Batak”.
Dari Kementerian Kebudayaan, Dr. Julianus Limbeng, M.Si (Pamong Budaya Ahli Madya, Dirjen BKMA) akan menyampaikan materi “Kebijakan Pemerintah dalam Melindungi dan Mengembangkan Kebudayaan Lokal dalam Mendorong Pangan Nasional”.
Selain diskusi, workshop juga akan menampilkan atraksi kebudayaan (tarian tradisional, puisi, musik keroncong), serta pameran produk pangan lokal seperti lapet, ombus-ombus, uwi masak, dan pupuk organik hasil kreasi kelompok tani.
Kedua workshop ini akan dipandu oleh Iswan Kaputra selaku moderator. Enampuluhan peserta, dengan 30 persen perempuan, berasal dari kelompok tani, akademisi, budayawan, pemerintah, swasta, hingga instansi seperti BMKG, BPBD, dan Politeknik Pembangunan Pertanian Medan.
Workshop ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis kearifan lokal, membangun jejaring kolaboratif antarpetani, pemerintah, swasta, dan masyarakat adat, serta mendokumentasikan sumber pangan lokal sebagai warisan generasi mendatang.
“Dialog lintas perspektif ini penting untuk merumuskan langkah nyata. Petani harus diberi ruang untuk memberi makan dunia, namun tetap dengan kesejahteraan mereka sendiri,” ujar Restu Aprianta Tarigan.
Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), hingga jaringan internasional, BITRA Indonesia berharap gerakan pangan lokal ini menjadi bagian dari upaya mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya menjaga keseimbangan people (manusia), planet (bumi), dan prosperity (kesejahteraan).
Kegiatan yang digelar di Aula Kantor Camat Secanggang, Langkat (19 Agustus 2025), serta Taman Herbal Socfindo, Dolok Masihul, Serdang Bedagai (21 Agustus 2025), ini diharapkan menjadi tonggak kebangkitan pangan lokal Sumatera Utara.
“Dengan menghargai budaya dan tradisi, kita sebenarnya sedang menyiapkan masa depan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Pangan bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga identitas, martabat, dan keberlangsungan bangsa,” tutup Berliana Siregar.
Tinggalkan Komentar