Aceh Selatan, 6–9 Oktober 2025 – Upaya menghidupkan kembali kejayaan dua komoditas unggulan Aceh Selatan—pala dan nilam—terus digalakkan melalui rangkaian kegiatan Sekolah Lapang (SL) Pala dan Nilam. Dalam 3 hari pelaksanaan di tiga lokasi berbeda – Gampong Jambo Papeun Kecamatan Meukek, Gampong Gunung Rotan Kecamatan Labuhan Haji Timur, dan Gampong Mutiara Kecamatan Sawang – program ini menjadi tonggak penting bagi kebangkitan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, serta penguatan kapasitas petani lokal.
Kegiatan pertama berlangsung pada 6 Oktober 2025 di Gampong Jambo Papeun, Kecamatan Meukek. Pembukaan SL ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, KPH IX, dan Yayasan BITRA Indonesia. Keuchik Gampong Jambo Papeun, Umar M, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk mewujudkan keberhasilan program.
“Kerjasama seluruh pihak sangat diperlukan untuk mensukseskan sekolah lapang pala dan nilam. Kami juga berharap Kepala KPH IX dapat membantu melegalkan lahan masyarakat yang selama ini berada di kawasan hutan,” ujarnya.
Direktur Yayasan BITRA Indonesia, Dra. Rusdiana, menjelaskan bahwa dua komoditas unggulan di Gampong Jambo Papeun akan menjadi fokus pendampingan selama delapan bulan ke depan.
“Sekolah lapang ini akan dilaksanakan sebanyak 16 kali dengan berbagai narasumber dan fasilitator. Komitmen peserta menjadi kunci keberhasilan agar tujuan peningkatan produksi dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari Kepala KPH Wilayah IX Aceh, Irwandi, SP., MP., yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam. “Jangan wariskan air mata untuk anak cucu, tapi wariskan mata air,” pesannya penuh makna.
Ia menambahkan, KPH IX akan menurunkan tim untuk membantu pengurusan TORA bagi masyarakat yang telah mengelola lahan minimal 20 tahun serta menyalurkan 300 bibit durian, mangga, dan rambutan untuk memperkuat demplot pala dan nilam di desa tersebut.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Aziman, turut mengajak seluruh peserta untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. “Mari kita sukseskan program yang telah direncanakan demi menciptakan masyarakat yang sejahtera dan mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Aceh Selatan, H. Nyaklah, SP., MM., menyoroti tantangan serius yang dihadapi petani pala. “Dahulu pernah dilaksanakan SL pala, namun dari 14.000 bibit yang ditanam hanya sekitar 4.000 yang bertahan. Karena itu, kami sangat mendukung kegiatan pendampingan ini untuk mengembalikan eksistensi pala sebagai komoditi unggulan Aceh Selatan,” jelasnya.
Kegiatan kedua dilaksanakan pada 8 Oktober 2025 di Gampong Gunung Rotan, Kecamatan Labuhanhaji Timur. Sebanyak 30 petani terlibat aktif dalam Sekolah Lapang Pala yang difasilitasi oleh Yayasan BITRA Indonesia.
Keuchik Gampong Gunung Rotan, Fakharurrazi, menyampaikan harapannya agar seluruh peserta dapat menerima dan mempraktikkan ilmu dengan baik. “Semoga semua peserta menerima ilmu dengan baik dan menerapkannya di kebun masing-masing. Dengan begitu, hasil pala kita akan semakin berkualitas,” ujarnya penuh optimisme.

Perwakilan BITRA Indonesia, Miskun, menambahkan bahwa pendampingan intensif akan terus dilakukan hingga para petani benar-benar mandiri. “Sebanyak 30 petani akan mendapat pendampingan melalui sekolah lapang ini, sehingga mampu meningkatkan kejayaan pala di Aceh Selatan. Kami berharap dari sinilah lahir petani-petani tangguh yang mampu membawa pala kita kembali berjaya,” katanya.
Camat Labuhanhaji Timur, Azhar, S.Pd., MM., juga memberikan apresiasi dan pesan khusus bagi peserta. “Peserta yang ikut SL diharapkan dapat menularkan pengetahuan kepada petani lain, sehingga manfaatnya dirasakan masyarakat luas. Dengan begitu, kita bersama-sama bisa mengembalikan masa jaya pala di daerah ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dalam budidaya. “Harapannya ada penangkaran atau budidaya burung murai batu sebagai predator alami hama pada tanaman pala. Kita perlu pendekatan ekologis agar produksi pala meningkat tanpa merusak alam,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 9 Oktober 2025 di Gampong Mutiara, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan. Pada kesempatan ini, para peserta yang berasal dari berbagai gampong di Kecamatan Sawang mendapatkan pelatihan praktik lapangan mengenai pengendalian hama terpadu, teknik pemangkasan, dan perawatan tanaman pala serta nilam.
Keuchik Gampong Mutiara, Sayuddin, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada BITRA Indonesia dan KPH IX atas perhatian mereka terhadap petani di wilayah Sawang. “Selama ini banyak petani yang berjuang sendiri menghadapi tantangan budidaya. Sekolah lapang ini membuka wawasan baru dan menumbuhkan semangat untuk bangkit bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan fasilitator BITRA Indonesia, Erizal, menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam setiap tahapan sekolah lapang. “Kami ingin petani bukan sekadar penerima materi, tetapi menjadi subjek perubahan. Dengan belajar bersama di lapangan, para petani akan mampu menemukan solusi dari tantangan nyata yang mereka hadapi,” ujarnya.
Kegiatan di Gampong Mutiara juga mendapat dukungan dari Camat Sawang, Zunawanis, S.STP, M.Ec.Dev., yang mengapresiasi langkah kolaboratif ini. Ia berharap ke depan kegiatan serupa dapat diperluas ke desa-desa lain di Kecamatan Sawang. “Melalui pendampingan berkelanjutan seperti ini, kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi desa, sekaligus mengembalikan citra Aceh Selatan sebagai sentra pala dan nilam terbaik di Indonesia,” tegasnya.
Di tengah semangat kebersamaan itu, tampak wajah-wajah antusias para petani yang kembali menaruh harapan besar pada kejayaan pala dan nilam—dua komoditas yang telah lama menjadi kebanggaan Aceh Selatan. Bagi mereka, sekolah lapang ini bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong, memperkuat kemandirian, dan menanamkan cinta terhadap tanah sendiri.
Salah satu peserta dari Gampong Mutiara, Hasanuddin, mengungkapkan rasa optimisnya. “Dulu kami sempat hampir menyerah karena hama dan cuaca yang tak menentu, tapi dengan pendampingan seperti ini kami merasa tidak sendiri. Ada harapan baru untuk pala dan nilam kami,” ucapnya penuh semangat.
Hal senada juga diungkapkan Nur, peserta perempuan dari Gampong Gunung Rotan. Ia merasa bangga bisa ikut serta dalam program ini. “Kami, ibu-ibu tani, kini belajar cara memelihara bibit, mencampur pupuk organik, dan mengendalikan hama secara alami. Rasanya bangga sekali bisa berperan dalam menghidupkan kembali pala Aceh Selatan,” ujarnya tersenyum.
Sementara itu, Ruslan, petani dari Jambo Papeun, menambahkan bahwa sekolah lapang memberi dampak sosial yang besar bagi masyarakat. “Kami jadi sering berdiskusi, saling bantu, dan lebih yakin menghadapi tantangan pertanian. Ini bukan sekadar belajar, tapi membangun kebersamaan untuk masa depan,” katanya haru.
Lebih dari sekadar peningkatan produksi, kegiatan Sekolah Lapang Pala dan Nilam menjadi simbol kebangkitan ekonomi rakyat dan kedaulatan petani. Dengan ilmu baru, dukungan pemerintah, serta pendampingan dari BITRA Indonesia dan KPH IX, para petani kini melangkah lebih yakin menuju masa depan pertanian yang produktif dan ramah lingkungan.
Dari kebun-kebun kecil di Gampong Jambo Papeun, Gunung Rotan, hingga Mutiara, harapan baru kembali tumbuh. Sinergi lintas pihak ini diharapkan menjadikan Aceh Selatan sebagai sentra pala dan nilam unggulan nasional, sekaligus model pembangunan desa berbasis masyarakat yang mampu memadukan konservasi alam dengan kesejahteraan ekonomi rakyat.
Tinggalkan Komentar