Dalam upaya mendukung kesehatan alami dan kemandirian masyarakat desa, BITRA Indonesia memlakukan pelatihan pembuatan jamu herbal, baik dalam bentuk instan (padat) maupun cair, bagi anggota Kelompok Tani Lepar Lau Tengah, Desa Rambung Baru dan Desa Bingkawan, Kecamatan Sibolangit. Kegiatan ini berlangsung di Sayum Sabah dan diikuti dengan antusias oleh para peserta, mayoritas petani yang ingin memanfaatkan kekayaan hayati lokal untuk pengobatan tradisional.
Pelatihan yang digelar pada 18-19 April ini menghadirkan dua narasumber yakni Misdi dan Salbiah dari Asosiasi Praktisi Penyehat Tradisional Sumatera Utara (APASU). Keduanya telah dikenal luas sebagai penyehat dan praktisi jamu tradisional yang berpengalaman dalam meracik dan mengembangkan ramuan herbal berbasis kearifan lokal.
Dalam sesi pelatihan, para peserta tidak hanya dikenalkan pada berbagai jenis tanaman obat yang mudah dijumpai di sekitar lingkungan desa, tetapi juga diberikan praktik langsung cara pengolahan bahan menjadi jamu cair dan instan yang higienis dan tahan lama. Mulai dari tahap pemilihan bahan, proses perebusan, penyaringan, pengeringan, hingga pengemasan, semua dilakukan dengan pendekatan sederhana namun berstandar kesehatan.
“Jamu bukan hanya soal warisan leluhur, tapi juga soal kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatannya,” ujar Salbiah dalam sesi pembukaan. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan tanaman lokal seperti jahe, kunyit, temulawak, dan serai yang tidak hanya berkhasiat tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, Misdi menjelaskan bahwa pengolahan jamu secara tepat dapat membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok tani. “Selain dikonsumsi sendiri, produk jamu ini bisa dijual, terutama jika dikemas menarik dan mengikuti standar sederhana keamanan pangan,” ujarnya.
Azam, perwakilan BITRA Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat desa berbasis kesehatan tradisional dan lingkungan berkelanjutan. “Kami melihat potensi besar di desa-desa untuk mengembangkan produk herbal yang sehat, murah, dan mudah diakses. Apalagi masyarakat sudah memiliki kedekatan dengan alam dan pengalaman dalam bercocok tanam.”
Pelatihan ini ditutup dengan sesi diskusi kelompok dan rencana tindak lanjut, di mana peserta menyusun strategi pembentukan unit kecil produksi jamu berbasis komunitas yang nantinya dapat mendukung ketahanan kesehatan dan ekonomi keluarga dan kelompok tani.


I like the efforts you have put in this, regards for all the great posts.
Very interesting information!Perfect just what I was searching for!
Tinggalkan Komentar