BITRA kembali menggelar Training Penilaian Partisipatif Kebencanaan dan Adaptasi Risiko Perubahan Iklim atau PACDR, kali ini bagi masyarakat Desa Rambung Baru dan Desa Bingkawan, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, 7 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas warga dalam mengenali ancaman bencana, memahami kerentanan wilayah, serta menyusun langkah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim di tingkat desa.
Pelatihan berlangsung di balai pertemuan warga dengan suasana terbuka, asri, dan penuh keakraban. Para peserta yang terdiri dari perwakilan warga, tokoh masyarakat, serta unsur desa tampak mengikuti kegiatan secara aktif. Mereka duduk lesehan di atas tikar anyaman, berdiskusi langsung bersama tim fasilitator dalam suasana kekeluargaan namun tetap serius.
Dalam pelatihan ini, Tim fasilitator mendorong warga untuk menjadi aktor utama dalam proses penilaian risiko. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam memetakan kondisi desa, mengidentifikasi ancaman, serta menilai kapasitas yang dimiliki masyarakat.
Salah satu sesi dilakukan melalui diskusi kelompok dengan menggunakan media peta desa atau peta bahaya yang digambar secara kolaboratif di atas kertas plano. Melalui metode ini, warga diajak menandai titik-titik rawan, sumber daya yang tersedia, serta wilayah yang berpotensi terdampak bencana maupun perubahan iklim.

Fasilitator juga memandu peserta menggunakan proyektor untuk menjelaskan matriks penilaian risiko dan kerentanan. Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta menyampaikan pengalaman, pengetahuan lokal, serta pandangan mereka terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Pendekatan partisipatif ini menjadi penting karena warga merupakan pihak yang paling memahami kondisi bentang alam, sosial, dan ekonomi desa mereka. Dengan begitu, hasil pemetaan dan analisis risiko yang disusun dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Melalui Training PACDR ini, BITRA berharap masyarakat Desa Rambung Baru dan Desa Bingkawan mampu merumuskan ancaman spesifik, mengenali kerentanan, serta mengidentifikasi kapasitas yang dapat diperkuat di tingkat komunitas.
Hasil dari pelatihan ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rencana aksi desa yang lebih aplikatif, sehingga kedua desa mampu tumbuh menjadi komunitas pedesaan yang adaptif, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana serta tantangan perubahan iklim di masa depan.
Tinggalkan Komentar