Musim panen jengkol yang seharusnya membawa berkah justru menimbulkan kekecewaan bagi para petani di Dusun V, Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Kec Sei Lepan, Langkat. Melimpahnya hasil panen tidak sebanding dengan harga jual di pasaran, membuat petani kesulitan memasarkan hasil kebun mereka.
Jengkol, buah yang digemari banyak kalangan sebagai lalapan maupun bahan sayur, memang memiliki daya tarik tersendiri. Meski harus dihindari oleh penderita asam urat karena kandungan purinnya yang cukup tinggi (80–100 mg per 100 gram), jengkol tetap menjadi primadona di meja makan masyarakat kota maupun desa.
Namun, saat panen raya tiba, harga jengkol justru merosot tajam. Sugianto (52), salah satu petani jengkol, mengeluhkan kondisi ini. Ia memiliki tiga pohon jengkol yang berbuah lebat, namun belum ada satu pun agen yang bersedia mengambil hasil panennya.
“Sudah aku tawarkan berapa pun harganya, yang penting laku. Daripada dihabiskan monyet atau pecah di pohon,” ujarnya dengan nada kecewa, saat berbincang dengan JWD Mekar Makmur 28 Oktober 2025 lalu.
Muslim Sitepu (67), warga lainnya, menyampaikan keluhan serupa saat berbincang di acara perwiritan.
“Dimakan sendiri nggak habis, dijual murah pun nggak ada yang mau ambil,” tuturnya dengan nada dongkol.
Adi, seorang agen jengkol, menjelaskan bahwa anjloknya harga disebabkan oleh pasokan besar dari luar daerah, terutama dari Aceh. Ia menyebutkan bahwa harga jengkol yang dulu bisa mencapai Rp 25.000 per kilogram (dengan kulit), kini hanya Rp 8.000, bahkan di tingkat petani hanya Rp 5.000.
“Itu belum termasuk biaya panjat, kumpul, dan langsir ke rumah. Dulu saya berani ambil Rp 15.000, sekarang nggak nutup ongkos,” jelasnya lewat pesan WhatsApp.
Fenomena ini menjadi ironi bagi para petani. Musim panen yang seharusnya menjadi masa penuh harapan justru berubah menjadi masa penuh kegelisahan. Ketika pasar tak mampu lagi menampung hasil panen, para petani dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana mengubah limpahan hasil bumi menjadi berkah, bukan beban. Suparno | JWD Mekar Makmur.
Tinggalkan Komentar