Upaya pelestarian hutan di Desa Mekar Makmur kembali menemukan semangat baru. Sejak tahun 2007, warga desa melalui kelompok swadaya masyarakat Lembaga Permata Rimba Damar Hitam (LPRD) telah berjuang melakukan konservasi kawasan ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan Kawasan Penyangganya dengan menjaga hutan dari ancaman perambahan, konflik satwa – manusia, dan praktik merusak hutan yang lainnya. Namun, keterbatasan sumber daya membuat perjuangan itu sempat terhenti, sementara konflik manusia dengan gajah dan harimau juga aktivitas perusakan hutan terus berlanjut.
Situasi ini mendorong Bitra Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat, hadir mendampingi warga sejak Juni 2025 hingga Januari 2026. Dalam kurun waktu singkat, Bitra Indonesia menggelar berbagai kegiatan: pelatihan jurnalistik warga, pelatihan Sistem Informasi Desa (SID) untuk perangkat desa, serta pendampingan langsung kepada LPRD dalam pengawasan hutan dan penanganan konflik satwa.
Gajah Liar Jadi Potensi Ekowisata
Salah satu terobosan Bitra Indonesia adalah mengubah cara pandang warga terhadap keberadaan gajah liar. Jika sebelumnya gajah dianggap ancaman karena sering masuk ke kebun, kini kehadirannya dilihat sebagai peluang ekonomi melalui konsep ekowisata. Bekerja sama dengan pelaku pariwisata di Stabat, sejumlah wisatawan asing dari Inggris, Swiss, dan Prancis telah datang menyaksikan gajah liar di habitat alaminya menggunakan alat teropong dari jauh, sehingga tidak mengganggu proses kehidupan gajah liar itu sendiri. Meski sempat terkendala bencana banjir dan longsor pada November 2025 lalu, minat wisatawan tetap tinggi, termasuk dari Jerman.
Desa Melek Informasi
Lewat pelatihan sistem informasi desa (SID), Desa Mekar Makmur kini memiliki website resmi yang memudahkan warga mengakses informasi desa. Tak hanya itu, sebanyak 30 warga dilatih menjadi jurnalis warga, sehingga mereka mampu menulis dan menyebarkan berita tentang kondisi desa, termasuk pelanggaran di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Bitra juga memfasilitasi pertemuan antara LPRD, Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dan aktivis lingkungan untuk mencari solusi atas konflik satwa, memperjuangkan keutuhan dan konservasi hutan.
Dukungan Penuh Masyarakat
Kepala Desa Mekar Makmur bersama para tokoh masyarakat menghimbau agar seluruh warga mendukung kegiatan Bitra Indonesia. Harapan besar disampaikan oleh LPRD agar pendampingan terus berlanjut, mengingat konflik satwa dan praktik perusakan hutan belum sepenuhnya berhenti. “Yang terpenting, bagaimana hutan yang tersisa bisa dijaga dan diwariskan kepada anak cucu,” ujar salah satu tokoh desa.
Pendampingan Bitra Indonesia telah membuka jalan baru bagi Desa Mekar Makmur. Dari pengawasan hutan hingga ekowisata gajah, warga kini memiliki harapan untuk menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Perjuangan masih panjang, namun semangat kolaborasi antara masyarakat, LPRD, dan Bitra Indonesia menjadi fondasi kuat bagi masa depan desa yang lestari. (Suparno | JWD Mekar Makmur)
Tinggalkan Komentar