Dipenghujung tahun, BITRA Indonesia menggelar kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia dengan tema “Overcoming Disruption, Transforming the AIDS Response” di Medan. Kegiatan ini menghadirkan Syamsidar Barus sebagai narasumber dan diikuti oleh para peserta muda yang tampak aktif mengikuti sesi edukasi serta diskusi.
Dalam kegiatan tersebut, Syamsidar Barus menyampaikan materi mengenai pengenalan HIV dan AIDS, mulai dari pengertian, cara penularan, upaya pencegahan, hingga pentingnya membangun sikap yang tidak diskriminatif terhadap orang dengan HIV/AIDS. Materi disampaikan secara interaktif melalui presentasi dan dialog bersama peserta.
Syamsidar menekankan bahwa pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS sangat penting untuk mencegah penyebaran informasi keliru di masyarakat. Menurutnya, HIV tidak menular melalui interaksi sosial biasa seperti berjabat tangan, duduk bersama, berbagi ruangan, atau berkomunikasi dengan orang yang hidup dengan HIV. Karena itu, masyarakat perlu menghapus stigma dan perlakuan diskriminatif yang selama ini masih sering dialami oleh orang dengan HIV/AIDS.
Kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar lebih memahami pentingnya pencegahan HIV/AIDS melalui perilaku hidup sehat, akses informasi yang benar, pemeriksaan kesehatan, serta keberanian untuk mencari layanan kesehatan apabila membutuhkan bantuan. Peserta diajak untuk melihat isu HIV/AIDS bukan hanya sebagai persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan hak asasi manusia, kesetaraan akses layanan, dan dukungan sosial.
Suasana diskusi berlangsung aktif. Para peserta duduk melingkar dan mengikuti penjelasan narasumber dengan serius. Beberapa peserta juga terlibat dalam tanya jawab mengenai mitos dan fakta seputar HIV/AIDS, cara pencegahan, serta pentingnya dukungan lingkungan bagi orang yang hidup dengan HIV.
Melalui kegiatan ini, BITRA berupaya memperkuat kesadaran publik, khususnya di kalangan anak muda, agar berperan dalam pencegahan HIV/AIDS serta menyebarkan informasi yang benar di lingkungan masing-masing. Edukasi seperti ini diharapkan dapat membantu mengurangi stigma, memperluas pemahaman masyarakat, dan mendorong respons yang lebih inklusif terhadap isu HIV/AIDS.
Peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia ini diakhiri dengan ajakan kepada seluruh peserta untuk menjadi bagian dari perubahan, yaitu dengan menjaga diri, menghargai sesama, tidak menyebarkan stigma, serta mendukung upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS secara lebih manusiawi.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa penanggulangan HIV/AIDS memerlukan kerja bersama, mulai dari edukasi, pencegahan, dukungan sosial, hingga penghormatan terhadap hak setiap orang untuk hidup sehat dan bermartabat.
Tinggalkan Komentar