Yayasan BITRA Indonesia saat ini tengah menyelenggarakan Sarasehan ke-38 yang dirangkaikan dengan Expo Pangan Sehat pada 10–12 Februari 2026 di Desa Air Hitam, Kecamatan Aek Leidong, Kabupaten Labuhanbatu Utara. Kegiatan ini mengusung tema “Pertanian Ramah Iklim untuk Adaptasi Dampak Perubahan Iklim dan Bencana” sebagai respon atas meningkatnya krisis iklim dan bencana hidrometeorologi yang berdampak langsung pada ketahanan pangan.
Sarasehan ini diselenggarakan di tengah dampak nyata bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera pada Desember 2025. Di Sumatera Utara, tercatat lebih dari 38.878 hektare lahan pertanian terdampak, dengan 5.570 hektare mengalami puso (gagal panen total) serta potensi kerugian ekonomi mencapai Rp1,13 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan keterkaitan kuat antara krisis iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya kerentanan pangan masyarakat.
Direktur BITRA Indonesia, Rusdiana, dalam sambutannya menegaskan bahwa sarasehan ini menjadi ruang pembelajaran dan konsolidasi bagi petani serta pemangku kepentingan untuk memperkuat praktik pertanian berkelanjutan. “Pertanian ramah iklim bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk melindungi sumber penghidupan petani dan menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.
Pemilihan Desa Air Hitam sebagai lokasi sarasehan didasarkan pada potensi pertanian desa, kekompakan masyarakat, serta komitmen warga dalam menjaga kelestarian alam. Desa ini dinilai memiliki peluang besar untuk pengembangan pertanian organik dan penerapan inovasi berbasis kearifan lokal.

Kegiatan Sarasehan ke-38 BITRA diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri dari petani lokal, perwakilan kelompok dampingan BITRA dari tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara dan satu kabupaten di Aceh, akademisi dari Universitas Asahan dan Universitas Labuhan Batu, mahasiswa, serta pemangku kepentingan terkait. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Bupati Labuhanbatu Utara bersama Ketua DPRD Labuhanbatu Utara.
Rangkaian kegiatan meliputi Expo Pangan Sehat yang menampilkan produk pertanian lokal segar dan olahan, inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan, serta kunjungan lapangan (peer to peer learning) ke lahan pertanian organik. Peserta juga terlibat dalam diskusi dan sarasehan untuk berbagi pengalaman, merumuskan komitmen bersama, serta menyusun rencana tindak lanjut penguatan pertanian ramah iklim dan regenerasi petani muda.
Melalui sarasehan yang sedang berlangsung ini, BITRA Indonesia berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara petani, masyarakat, akademisi, dan pemerintah dalam mendorong pertanian berkelanjutan sekaligus memperkuat daya lenting masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana.

Tinggalkan Komentar