Pola Pertanian Terintegasi di Lahan Sempit (<1000 m)
Pertanyaan pembantu
Apa itu pola pertanian terpadu/terintegasi?
Cerita miris tentang petani kita seakan tidak ada habisnya, kemiskinan dan stigma sosial yang merendahkan kaum tani selalu ada dalam setiap babak cerita tentang petani nusantara. Disisi lain kita juga sering mendengar berita tentang trilyun dana digelontorkan dengan label bantuan untuk kaum tani. Bukankah itu sesuatu yang Kontradiktif ???
Salah satu yang sering juga dikeluhkan dan digambarkan sebagai salah satu indikator petani gurem adalah kepemilikan lahannya yang tidak lebih dari 0,3 ha/keluarga tani yang kemudian disusul dengan kebijakan reforma agraria, berharap dan berdoa saja bahwa kebijakan RA tersebut salah satunya untuk diberikan kepada kaum tani yang minim lahan tersebut.
Tapi pertanyaan mendasar kali ini, selain banyaknya program pemerintah yang salah sasaran serta kurang tepatnya pendekatan dan strategi pelaksanaan di lapangan, apakah lahan yang minim menjadi penyebab utama kaum tani tidak mampu beranjak untuk bahkan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya sendiri?
Fakta lapangan menunjukan banyak keluarga petani yang memiliki lahan >0,3 ha juga belum mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Artinya kepemilikan lahan yang minim bukan satu-satunya faktor penentu soal kesejahteraan keluarga tani. Ada beberapa pakar kampus dan lapangan yang melihat soal manajemen kelola usaha tani dari keluarga petani yang cenderung menjadi masalah terbesarnya, seperti ketepatan pemilihan komoditi yang akan ditanam, penerapan pola pengelolaan lahan, serta methode budidaya.
Salah satu yang menjadi sorotan saat ini untuk menunjang keberhasilan usaha tani keluarga petani yang memiliki lahan sempit adalah dengan memaksimalkan pengelolaan lahan melalui pola pertanian yang terintegrasi. Secara harfiah, pertanian terintegrasi adalah pola pertanian yang saling mendukung antara satu komoditi dengan komoditi yang lainnya, sehingga biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin dengan memanfaatkan komoditi lainnya yang ditanam dan atau dikelola secara bersamaan dalam satuan lahan petani. Termasuk didalamnya bagaimana pengendalian hama terpadu (PHT) dapat dilakukan dengan memadukan keselarasan antar tanaman atau dengan bahasa ;ainnya teknik tumpang sari yangn saling menjaga dan menguntungkan.
Dalam pola pertanian teritegrasi, lahan yang dibutuhkan dapat bervariasi tergantung bagaimana petani mau men set-up pola pertaniannya serta berapa input yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani. Yang perlu diperhatiakan adalah lahan yang ada harus di set up dengan memperhatikan input jangka panjang (tahunan), jangka menengah (bulanan) serta jangka pendek (harian/mingguan).
Jika yang ingin dikelola adalah kambing/domba untuk jangka panjang, unggas atau ikan untuk jangka menengah serta sayuran umur pendek untuk jangka pendek, maka dengan lahan 0,1 ha sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga petani.
Point penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan pertanian terintegrasi adalah efektifitas penggunaan lahan, bukan luasan. Karena dengan luas diatas 1 ha pun jika tidak efektif perencanaan dan pengelolaannya akan menjadi tidak maksimal.
Untuk komoditi yang dapat diusahakan dalam pola pertanian terintegrasi hakekatnya tidak ada batasan, dapat disesuaikan dengan potensi yang ada di lingkungan setempat. yang terpenting adalah komoditi yang akan dikelola tetap harus dibagi dalam 3 kluster (tahunan, bulanan dan harian) serta keterhubungan yang saling mengisi dan saling menguntungkan antar komoditi baik dalam hal pemanfaatan komoditinya maupun dalam upaya pengendalian hama secara alami.
Contoh pilihan komoditi yang dapat dikelola dan memiliki keterhubungan antar komoditi:
Komoditi pelengkap: Tanaman herbal yang diperlukan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, berfungsi sebagai penyuplai kebutuhan dapur dan juga dibutuhkan untuk menjaga kesehatan ternak; kunyit, jahe, salam, serai, sirih, kencur, belimbing, pepaya, jambu batu.
Beberapa fungsi dari tanaman herbal dan buah untuk peternakan dan pertanian:
Dalam prakteknya seluruh komoditi herbal tersebut akan lebih baik jika diproses melalui fermentasi hingga memunculkan enzimnya. Dengan teknik ini maka petani memiliki stok untuk perawatan ternak untuk jangka waktu tertentu.
(teknik pembuatan fermentasi herbal akan diulas pada tulisan yang lain)
Produk turunan dari komoditi utama yang dapat dijalankan secara bersamaan;
Dalam perencanaan ruang di lahan pertanian terintegrasi yang perlu dirancang pertama adalah: a). Apa saja komoditi yang akan dikelola; b) list infrastruktur pendukung yang harus ada seperti tempat istirahat pengelola, gudang peralatan, gudang pakan dll.; c) klasifikasi jenis komoditi yang membutuhkan sirkulasi udara penuh dan paparan sinar matahari penuh, sehingga dalam penempatan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komoditi; d). Perhatikan juga faktor keterhubungan antar komoditi, seperti kandang kambing yang feses dan urinnya akan dikelola harus dekat dengan gudang komposter, atau kolam sebagai penampung limbah pakan dan bahan buangan lainnya harus berada pada siklus terakhir dalam alur drainase lahan.
Contoh penataan ruang usaha pertanian terintegrasi (DeKARSYA farm)

Berapa modal yang dibutuhkan untuk memulai pola terintegrasi ini?
Jika berdialog dengan masyarakat, sering kali kita menjumpai bahwa modal selalu menjadi alasan dibalik ketidak berdayaan masyarakat dalam mengelola lahan pertaniannya, dan sebagai mentor atau fasilitator kadang kita juga agak kesulitan untuk menjawab dan memberikan alternatif yang bisa ditempuh dengan modal kemandirian.
Mari kita coba untuk mengkalkulasi berapa modal yang dibutuhkan masyarakat untuk memulai mengolah lahan secara terintegrasi dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki warganya:
Jika pilihan komoditi yang akan dikelola adalah: 1. Kambing sebagai tabungan (pendapatan jangka panjang); 2. Ayam kampung sebagai pendapatan jangka menengah dan sayuran umur pendek sebagai pendapatan harian. Maka kalkulasi modal operasional sebagai berikut:
Sehingga total biaya yang dibutuhkan untuk memulai pola pertanian terintegrasi ini cukup dengan Rp. 1.810.000
Apa saja produk turunan yang masih bisa diolah?
Dengan skema seperti diatas, produk turunan yang masih bisa kita olah untuk dimanfaatkan kembali dalam pola pertanian terintegrasi adalah:
Lalu bagaimana dengan kebutuhan untuk infrastruktur pendukung, seperti kandang kambing, kandang ayam dan pagar keliling lahan?
Untuk pembuatan infrastruktur tersebut, kita bisa mengakalinya dengan potensi yang ada di sekitar kandang atau yang banyak bahannya di kampung seperti:
Bagaimana untuk mendukung operasional, terutama pemberian pakan ternak dan pupuk tanaman kangkung?
Disinilah fungsi pola pertanian terintegrasi bicara, dimana keterkaitan antar komoditi diperhatikan, sehingga kalaupun harus ada yang dibeli, maka jumlahnya relatif kecil. Berikut penjelasannya:
Berapa estimasi pendapatan yang bisa diperoleh petani?
Dengan pola, jenis dan jumlah awal komoditi yang dibudidaya, dapat kita estimasikan pendapatan petani sebagai berikut:
Catatan: masa pemeliharaan ayam kampung semi intensif selama 3 bulan, untuk teknis pemeliharaan ayam kampung yang mudah akan dibuat bahasan tersendiri.
Untuk skala medium, berapa pendapatan yang bisa didapatkan oleh petani:
Jika usaha permulaan dengan modal yang minim serta proses belajar yang terus dari praktik lapangan dilakukan oleh petani, maka setelah 3 tahun bisa ditingkatkan skala usahanya ke skala medium. Dengan semakin banyaknya kuantiti yang dipelihara, maka tentu saja teknik dan polanya sedikit berubah, seperti pakan kambing jika jumlahnya sudah diatas 10 ekor, maka kita bisa memakai pakan fermentasi. Ayam jika jumlahnya sudah diatas 50 ekor, maka pakannya harus dibuat dengan memakai teknik yang lebih memudahkan dengan tidak melupakan kandungan nutrisi pakan. Sama halnya dengan kangkung, jika kuantitinya sudah semakin banyak, maka sistem pengelolaan serta pemasarannya harus diperhatikan agar kangkung yang dipanen setiap hari tetap bisa terjual habis.
Sehingga jika bicara pendapatan untuk skala yang lebih besar tentunya bisa berkali lipat dari pendapatan skala kecil. Intinya coba dulu skala kecil dan setelah itu mari kita kalkulasi dan praktekan skala mediumnya, dijamin hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan petani sekeluarga.
Nah menarik bukan jika lahan kita dikelola dengan baik???
Salam | Farid
Sumber: https://walhi.or.id/wilayah-kelola-rakyat/