Puluhan tahun warga desa Air Hitam mengkonsumsi air hujan yang ditampung dari cucuran atap rumah. Sedangkan aktivitas mencuci, mandi, dan aktifitas sehari-harinya lainnya yang berhubungan dengan air di desa ini masih menggunakan air hitam, sesuai dengan nama desa yang dibuka dari rawa pesisir kawasan gambut ini. Lalu dari mana kebutuhan untuk masak dan air minum…? Hujan adalah jawabannya.
Air hujan yang ditampung langsung dari atap rumah dengan menggunakan corong yang diletakkan tepat dibawah pipa tempat air hujan mengalir dan kendi yang terbuat dari tanah berukuran besar sebagai tempat penampungan-nya. Air hujan yang telah tertampung disaring dengan kain tipis pada bibir kendi. “Kendi memang dibuat dengan ukuran besar untuk dapat menampung banyak air. Kendi tidak pernah dipindah-pindahkan karena jika sewaktu-waktu hujan, kami tidak sibuk lagi. Untuk minum, air hujan yang telah ditampung langsung dimasak. Kalau tidak lagi musim hujan, air hitam terpaksa dikonsumsi,” tutur Istikana (38), penduduk Desa Air Hitam.
Desa Air Hitam yang sangat terpencil ini berada di Kecamatan Kualuh Leidong, Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura), Provinsi Sumatera Utara (Utara). Dengan jumlah penduduk lebih dari 7,000 jiwa dan 1,400 Kepala Keluarga (KK). Penduduk desa ini memiliki 70,5% Suku Jawa, 20% Suku Batak dan 0,5% suku campuran, antara lain Banjar, China, dan Melayu.
Tidak tersedianya air bersih di desa Air Hitam yang berjarak + 25 km dari pantai laut Bagan Siapi-api dengan ketinggian + 5 mtr dpl, masuk dalam kategori “daerah pesisir”. Hal ini menjadi penyebab air tanahnya, baik permukaan maupun dasar bumi tidak dapat dikonsumsi karena berbahaya bagi manusia. Kedua jenis air (permukaan dan tanah) memiliki kelemahan masing-masing. Air permukaan, air yang berada dipermukaan tanah seperti air sumur galian, air parit dan air sungai. Air ini tidak layak dikonsumsi karena 3 hal, yaitu warna airnya berwarna khas hitam kemerah-merahan. Hal ini disebabkan karena keadaan tanah yang secara umum gambut rawa, sedangkan sebagaian kecil yang dekat dengan aliran sungai terdiri dari tanah liat putih airnya keruh.
Tekstur tanah gambut maupun liat putih tergolong tanah lunak dan sangat mudah larut dalam air. Hal ini menyebabkan airnya menjadi keruh, kotor dan berbau lumpur dan faktor ketiga adalah rasa air di daerah ini berbeda-beda.
“Untuk daerah sekitar 1 km dari tepian sungai desa Air Hitam hingga sungai yang memanjang arah Utara Selatan desa sekaligus sebagai batas desa sebelah Timur antara desa Air Hitam dan desa Kelapa Sebatang memiliki rasa air yang agak payau dan berbau lumpur. Sementara yang jaraknya lebih dari 1 km airnya berasa agak asam, pahit dan bau, hal ini disebabkan oleh proses pembusukan sisa akar kayu dan daun. Karena desa ini baru dibuka dari hutan menjadi kampung pemukiman pada sekitar 30 tahun yang lalu,” tutur Hadi, masyarakat Air Hitam.
Untuk air tanah sendiri, airnya berasal dari pengeboran di dalam tanah. Air ini juga tidak dapat dikonsumsi, karena air yang dihasilkan dari pengeboran ini memang lebih jernih tapi rasanya semakin tidak enak, rasanya sangat payau bahkan agak asin dan berbau amis, jika digunakan untuk menanak nasi, nasinya menjadi berwarna kebiru-biruan dan cepat basi, sementar jika untuk membuat teh maka air tehnya menjadi berwarna hitam. Dari sumur bor ini sendiri berbeda-beda semakin dalam pengeboranya akan semakin jernih airnya tapi akan semakin asin rasanya. Air ini mengandung kandungan logam berat yang sangat tinggi TDS (total diserfit soorfit) mencapai 1,200 rpm/m kubik.
Biaya pengeborannya mahal. Untuk pengeboran dangkal, kisaran kedalaman antara 6 – 12 meter, biaya pengeboran sekitar Rp 700,000,- tapi airnya masih keruh dan sumurnya mudah tumpat, sementara untuk sumur bor besar dengan kedalaman mencapai 80 – 140 meter biaya pengeboran mencapai Rp 7,000,000,- bayar kontan, sementara jika diangsur selama 1 sampai 2 tahun mencapai Rp 9.000.000,- s/d Rp 11,000,000,-/satu unit sumur bor.
Dikarenakan kedua jenis air tidak dapat dikonsumsi maka akhirnya mesyarakat desa Air Hitam dan sekitarnya menggunakan air hujan untuk kebutuhan masak dan minum, karena ditinjau dari segi kejernihan dan rasa, air hujan masih jauh lebih baik dibanding kedua jenis air diatas. Tapi ternyata air hujan juga bukan air yang sehat untuk dikonsumsi oleh manusia secara terus-menerus.
Air hujan yang mengandung mineral rendah, PH (keasaman) rendah (3,0 s/d 6,0), kandungan organik tinggi (> 10), zat besi tinggi (> 0,3), sehingga jika digunakan untuk air minum dalam jangka panjang dikhawatirkan akan menyebabkan rapuhnya tulang dan gigi. “Memang kami pernah mendengar bahwa air hujan dapat menyebabkan kerapuhan pada gigi dan tulang, tapi mau gimana lagi, yang ada hanya ini…?” tambah Istikana.
“Dampaknya lambat tapi pasti, dirasakan oleh hampir seluruh warga desa ini dan desa sekitarnya. Anak-anak dan orang dewasa, laki-laki dan perempuan akan mendapat dampak langsung berupa lemahnya daya tahan tubuh, masuarakat selalu terserang penyakit, seperti penyakit lambung, ginjal dan kerusakan gigi pada anak-anak dan orang dewasa. Menurut para ahli salah satu penyebab penyakit ini adalah akibat mengkonsumsi air yang kurang sehat. Penerima dampak terbesar akibat konsumsi air hujan terus menerus terlihat jelas pada anak–anak, sedikit sekali anak-anak di desa ini yang berusia di atas tiga tahun yang punya gigi bagus dan utuh,” tambah Hadi.
Hadi juga menjelaskan bahwa kemungkinan penyebabnya adalah pada musim kemarau debu-debu akan beterbangan terbawa angin dan akan mengendap di atap rumah penduduk. Pada saat hujan datang debu akan tersapu bersama air ditampung oleh masyarakat dan akan dikonsumsi untuk menanak nasi, memasak sayur dan minum setiap harinya. Terlepas dari tercemarnya air akibat polusi di udara, debu yang terbawa bersama air sudah pasti mempengaruhi kebersihan air, hal ini dipastikan karena setiap masyarakat menguras tempat penampungan air hujan, pasti ditemukan endapan lumpur didalam kendi tempat penampungan air hujan. Banyak atau sedikit endapan itu ditentukan seberapa lama wadah tersebut dikuras.
Saat ini, untuk konsumsi air telah ada dua isi ulang depot air di desa ini. “Dengan jalan yang buruk dan jauh, malas juga untuk beli air isi ulang. Jadi kalau air hujan lagi tidak ada, mau nggak mau kami meminum air tanah,” tambah Istikana.
“Untuk air depot isi ulang, satu galon dihargai lima ribu rupiah,” ungkap Yono, masyarakat Dsa Air Hitam lainnya.
Masayarakat mengkonsumsi air hujan mulai sejak tahun 1997-an, dimana sebelumnya penduduk mengkonsumsi air parit, sungai maupun. Saat itu walaupun berwarna hitam tetapi air masih memiliki warna yang jernih, segar dan tidak berbau. Perubahanya terjadi setelah hutan habis dibabat.
“Air disini hitam yang sesuai dengan nama desa kami Air Hitam, memang sudah ada sejak dulu karena gambut sehingga air tidak bisa bersih,” tutur Tukiman (49). (Elfa)