Mahalnya biaya pengobatan modern jadi salah satu penyebab kenapa masyarakat enggan untuk berobat ke rumah medis secara umum ke rumah sakit. Kondisi ini sangat terasa bagi masyarakat yang tidak mampu di desa-desa dan daerah pinggiran kota. Untuk itulah, BITRA Indonesia berusaha melakukan pendampingan kepada masyarakat yang memiliki bakat menjadi seorang terapis secara tradisionil agar mudah memberikan akses pada sesama untuk bidang kesehatan. Salah satunya, yaitu melalui program kesehatan alternative dan tanaman herbal berkhasiat obat.
Hal ini disampaikan Iswan Kaputra saat membuka “Training Terapi Elektron dan Iridologi” di Aula Bitra Indonesia, Kamis (29/11). Training yang dilaksanakan selama 2 hari (29-30/11) ini ditargetkan dapat menambah wawasan para praktisi pengobat alternatif dalam hal terapi elektron (listrik) dan mendeteksi penyakit (diagnosa) melalui iris mata (iridology). Paling sedikit 14 praktisi peserta pelatihan yang berasal dari wilayah Langkat, Serdang Bedagai dan Deli Serdang ini dapat memahami dasar-dasar terapi listrik, serta mempraktekkannya di daerah masing-masing. “Akan tetapi, harapan saya kepada para praktisi, dalam pelatihan-pelatihan berikut hendaknya keikut-sertaan para praktisi perempuan bisa mencapai 30-35%,” ujar Iswan Kaputra.
William Sidiq, selaku fasilitator terapi elektron mengingatkan, dalam hal praktek terapi elektron hendaknya para praktisi tidak melakukan kegiatan pengobatan dengan sikap ragu-ragu. “Memang, mulanya ketika mendengar kata listrik saja, tak cuma ragu, malah ada rasa takut,” tutur lelaki yang kerap disapa Willy ini saat mengenang pertama kali dia belajar terapi listrik, tahun 2006 silam.
Menyinggung soal praktisi terapi listrik perempuan, Willy mengakui di Medan memang belum ada. “Saya berharap, kalau praktisi Yanti (yang sekarang ikut pelatihan ini), nanti benar-benar menekuni teknik terapi ini, mungkin baru dialah satu-satunya perempuan,” ujarnya kepada satu-satunya peserta perempuan yang mengikuti pelatihan tersebut.
Terapi listrik, tambah Willy lagi, mempunyai beberapa manfaat, yaitu membersihkan darah, melancarkan aliran darah, perbaikan jaringan sel dalam tubuh, serta menormalkan seluruh fungsi organ tubuh. Juga berguna untuk meningkatkan energi tubuh dan organ tubuh yang mengalami sakit, seperti jantung, paru, ginjal, limpa dan hati. Terapi listrik akan lebih baik bila dipadukan dengan teknik pijat akupresur.
Tak hanya terapi listrik, di hari kedua peserta juga diberikan pelatihan untuk mendiagnosa penyakit dengan teknik iridology, yaitu mendeteksi penyakit melalui mata. Hal ini untuk lebih mempermudah para praktisi melakukan terapi kepada pasiennya. (juhendri)