Udara panas Kota Medan semakin hari tambah menyiksa. Kadang turun hujan tapi tidak teratur. Malah sering terjadi pada bulan-bulan di luar kebiasaan. Curahnya sangat tinggi sehingga membanjiri pemukiman yang terletak tidak jauh dari tepi sungai. Berita tentang bencana tanah longsor atau petani gagal panen karena kekurangan, atau bahkan kelebihan air menjadi hal yang sangat sering kita dengar. Semua itu adalah penanda bahwa iklim planet bumi kita tengah mengalami perubahan. Orang sering menyebut telah terjadi perubahan iklim. Perubahan iklim atau climate change erat dihubungkan dengan praktek penggundulan hutan dan pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan sawit.
Kita semua prihatin dengan keadaan ini. Karena itu, dengan daya upaya yang ada setiap pihak saling berlomba untuk melakukan sesuatu agar udara panas yang menyiksa ini bisa berkurang menjadi lebih ringan.
Pada momentum memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni, Yayasan Bitra bersama Menteri Lingkungan Hidup Prof Dr Balthasar Kambuaya MBA dan kelompok-kelompok masyarakat di Kecamatan Percut Sei Tuan melakukan kegiatan penanaman pohon secara massal pada hari Sabtu, 9 Juni 2012.
Aksi tanam pohon ini dilakukan di bantaran Sungai Percut, di desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan. Kegiatan ini melibatkan 700-an warga masyarakat yang secara massal menanam pohon bersama menteri, deputi menteri LH dan para pejabat kementrian, pejabat propinsi, anggota DPR RI/DPRD, pejabat kabupaten, camat dan kepala-kepala desa. Jumlah pohon yang ditanam sebanyak 5500 batang terdiri dari pohon mahoni, trembesi, durian, mangga, nangka dan petai.
Pilihan lokasi di sekitar bantaran sungai ini merupakan bagian dari program konservasi DAS yang sedang dilakukan Yayasan Bitra. Di bahagian lain di lokasi ini telah ditanam 11.000 batang pohon duku dan tanaman pelindung seperti mahoni, trembesi, petai, manggis dan durian. Usianya akan mencapai 1 tahun. Kenapa pohon duku? Daerah tembung terkenal dengan buah duku, namunsekarang semakin langka karena lahan bercocok tanam kian sempit tergusur oleh pemukiman penduduk. Bantaran sungai sebagai kawasan DAS menjadi alternative yang paling memungkinkan untuk dimanfaatkan. (Yd)