Serikat Tani | Serdang Bedagai
Masalah pertanian di negeri ini memang semakin menumpuk saja. Sebut saja ancaman kemajuan teknologi pertanian (revolusi hijau), perubahan iklim global, penyebaran ternak yang tidak merata, pupuk non organik yang menjadi ancaman ekosistem, kekurangan lahan pertanian, hingga harga yang tidak memihak kepada petani. Petani yang seharusnya menjadi tulang punggung ketersediaan pangan (baca: pemberi makan dunia) justru tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka. Petani kekurangan, tersudutkan, dan tidak terjamin kesejahteraan hidupnya.
Karena itu, Serikat Petani Serdang Bedagai (SPSB) terus berupaya mencari solusi atas permasalahan petani yang ada di Serdang Bedagai. Menjawab persoalan itu, SPSB mengadakan Seminar & Kongres II SPSB di Wisma Amerta, Perbaungan, Serdang Bedagai. SPSB diharapkan menjalin kerja sama untuk menyelesaikan berbagai masalah petani di Sergei.
“Banyaknya masalah yang terjadi di sektor pertanian tidak terlepas dari perkembangan kemajuan teknologi dan peran pemerintah. Pemerintah lebih memihak pada investor, sehingga konflik tanah banyak terjadi. Seharusnya tuntutan reformasi agraria segera di wujudkan oleh pemerintah. Tetapi, hingga sekarang tuntutan-tuntutan yang diajukan belum terlaksana. Untuk itu, SPSB harus bersama-sama menyelesaikan masalah yang ada, ini tanggung jawab kita bersama,” kata Asriadi, Ketua SPSB periode 2008-2010.
Sebagai wadah perjuangan kaum tani di daerah kabupaten, keberadaan SPSB tentu akan memudahkan petani menyampaikan aspirasi dan persoalan yang mereka alami di lapangan. “Dalam konsep sosial, SPSB memang sengaja dilahirkan dan didorong agar SPSB dapat menjadi tempat penampung aspirasi bagi kaum tani. Dengan adanya SPSB akan lebih memudahkan penyelesaian masalah yang ada,” tutur Wahyudi, direktur BITRA Indonesia.
Menyoal permasalahan petani, dengan kemajuan teknologi yang ada, informasi menjadi media yang sangat penting. Petani membutuhkan media yang berisi tentang bahan dan data serta teknologi informasi yang mendukung. “Para petani masih membutuhkan informasi dan teknologi berdasarkan kepada kebutuhan yang dirasakan, sehingga para petani mampu membuat perkiraan atau ramalan jenis komoditi yang bisa diusahakan petani,” tandas Leli, Kepala BP4K, Serdang Bedagai.
Dalam penyelesaian masalah pertanian, kerjasama yang baik dari berbagai pihak, baik dari tokoh masyarakat serta instansi terkait dengan kelembagaan pertanian menjadi hal terpenting. “Pemerintah mengharapkan adanya kerjasama yang baik seluruh elemen masyarakat dan instansi-instansi yang terkait, demi memajukan pertanian di Indonesia, khususnya kabupaten Serdang Bedagai,” tambahnya.
Upaya-upaya penyelesaian masalah pertanian terus di upayakan melalui pemerintah Kabupaten, seperti memberi bantuan bibit, bantuan ternak, pengembangan sapi ternak betina, dan memberikan bantuan sarana produksi pertanian (saprotan). “Tahun 2010, 16 kecamatan mendapat bantuan bibit padi dan kedelai. Tak hanya itu, meningkatkan populasi ternak dengan cara suntik kawin juga telah dilakukan di dua tempat. Sebaiknya tim SPSB mengajukan proposal kepada pemerintah agar bantuan-bantuan lebih baik lagi,” tutur Mega Hadi, Perwakilan Dinas Pertanian.
Penyelesaian masalah yang ada pada bidang pertanian tidak hanya dapat dilihat dari satu sektor saja, karena masalah pertanian memiliki banyak sektor yang harus mendapat dukungan dari berbagai pihak dan petani itu sendiri. Merubah mentalitas dan cara berpikir, menjadi salah satu aspek yang harus diubah oleh petani. Selain itu, petani di harapkan dapat melakukan politik tani, merubah pola pikir, dan membersihkan petani dari politik tani.
“Sekarang telah terjadi pergeseran lahan oleh pemerintah kepada para petani, sehingga lambat laun pengalihan fungsi tanah telah terjadi. Untuk itu, para petani harus dapat menjadi subjek, bukan menjadi objek terhadap masalah yang ada. Petani juga harus lebih agresif dan proaktif dalam melakukan tindakan. Jika petani dapat bersikap agresif, maka petani tidak akan terjerumus kepada politik pemerintahan,” ungkap Usman Sitorus, Anggota DPRD Serdang Bedagai.(Elfa/Eka)