Masyarakat harus makan produk organik karena lebih sehat, tidak mengandung bahan-bahan kimia buatan seperti pupuk dan pestisida. Petani pun seharusnya bisa mengembangkan pertanian organik karena bahan-bahan untuk pupuk dan pestisida organik (alami) ada di sekitar kita. Demikian ungkap Sitti Rahmah, petani organik dari Pittusunggu, Sulawesi Selatan di sela acara South to South Film Festival di Goethe Institut, Menteng, Jakarta, (15/3).
“Meski harga produk organik yang kami hasilkan seperti beras dan sayur-sayuran masih sama dengan produk non-organik, namun kami tetap mensyukurinya. Petani bisa mengonsumsi hasil panen pertanian organik yang menyehatkan. Selain itu petani bisa mendapatkan pendapatan dengan menjual sisa hasil panen,” ungkap salah satu penerima penghargaan sebagai 7 perempuan pejuang pangan ini.
Menurutnya itulah keuntungan yang didapatnya dan juga petani lainnya dengan mengembangkan pertanian organik. Di samping bahan-bahan input pertanian seperti pupuk dan pestisida organik (alami) yang lebih murah karena dibuat sendiri dari bahan yang ada di sekitar. Selama ini pengalamannya, dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia buatan harganya mahal dan hasil panen pun tidak memuaskan.
Perlu penyadaran konsumen
Di daerahnya, produk organik masih dihargai sama dengan produk non-organik karena belum adanya kesadaran dari konsumen untuk menghargai dan memberinya nilai lebih, meski mereka tahu manfaat produk organik untuk kesehatan. Untuk itu bersama MAP (Mangrove Action Project), petani organik di lahan payau ini berupaya menggandeng Dinas Kesehatan setempat untuk bekerjasama memasarkan produk organik dan memberi penyadaran konsumen bahwa produk organik yang sehat sehingga layak mendapatkan harga yang lebih dari yang non-organik.
Sejak tiga tahun lalu Sitti Rahmah bersama petani di kelompoknya memanfaatkan lahan tidur seluas 8 hektar di pesisir Pangkep, Sulawesi Selatan. Tanaman yang dikembangkan adalah padi jenis tahan air payau yang ditanam dengan sistem legowo (SRI-System Rice Intencification), sayur-sayuran seperti bayam, sawi hijau, kacang panjang, kangkung, terong dan daun bawang. (ANP/SNY)
Sumber: http://organicindonesia.org