TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Sistem Polikultur, Apa Bisa Diterapkan ?

05/07/2009

Desa Air Hitam yang berada di sebelah selatan Kecamatan Tanjung Leidong Kabupaten Asahan dulunya dikenal sebagai daerah persawahan karena mayoritas masarakatnya menjadikan padi sebagai tanaman pokok.

Pertanian padi yang di tekuni masarakat sejak awal dibukanya desa semakin hari penghasilanya makin tidak menjanjikan. Selain tidak seimbangnya harga penjualan dengan biaya pengelolaan, juga ada ancaman kekeringan dan banjir yang merupakan momok tersendiri dan sama sekali tidak bisa dihindari petani.

Banjir yang datang hampir setiap tahun sering mengakibatkan tanaman padi masyarakat musnah, sehingga untuk satu kali musim (sekali dalam tahun) tidak jarang petani harus menyemai dan menanam padi beberapa kali. Hal inilah kiranya yang membuat petani menjadi kapok untuk menanam padi, dan terpaksa mencari tanaman lain untuk menggantikan padi.

Demikian diungkapkan Anto, salah seorang penduduk desa Air Hitam yang mengaku tahun lalu menanam padi satu Hektar hanya menghasilkan 13 goni padi.

Oleh karena itu, sejak tahun 1990-an masarakat desa Air Hitam Kecamatan Kualuh Leidong Kabupaten Labuhan Batu sudah mulai menanam sawit sebagai tanaman pengganti bahkan sekarang diperkirakan 95% sawah yang sudah berubah fungsi menjadi kebun sawit. Namun sayang sekali, harga jual Tandan Buah Segar (TBS) di desa Air Hitam sering anjlok sehingga membuat petani harus mempunyai tanaman alternatif yang lebih menguntungkan dari banyak segi. Ketika ditanya tentang pertanian sistem polikultur yang ditawarkan Divisi pertanian BITRA Indonesia dalam penerbitan Majalah Hanura edisi ke-1, Sutrisno warga dusun Sidomulyo sangat tertarik sekali, apalagi setelah melihat dalam tabel dapat memberikan keuntungan berlipat dari tanaman kelapa sawit.

“Kalau memang system polikultur dapat di terapkan di desa Air Hitam tentu akan sangat menguntungkan petani namun persoalanya, rata-rata lahan yang masih kosong merupakan lahan gambut, apa bisa diterapkan?”ungkapnya saat dikonfirmasi Tim Hanura baru-baru ini.

Memang hal ini perlu ditindak-lanjuti mengingat separuh wilayah desa ini terdiri dari lahan gambut yang tidak semua tanaman dapat tumbuh, karena kadar asamnya masih sangat tinggi, lanjut Sutrisno.

Selain itu, masih menurut Sutrisno, persoalan bibit juga menjadi kendala bagi masyarakat, karena bibit-bibit itu sangat sulit didapatkan di desa terutama duku dan petai cina yang memang belum ada ditanam petani di desa tersebut.

Untuk itu masyarakat desa Air Hitam berharap khususnya BITRA dapat memberikan penjelasan dan menindak lanjuti bagaimana penerapan system pertanian polikultur di lahan gambut atau bila mungkin sudi menjenguk langsung sehingga akan dapat memberikan keterangan yang lebih jelas seperti yang diharapkan masyarakat, imbaunya. Hadi Siswoyo (Ketua Kelompok CU BIMA, Desa Air Hitam, Kec Kualuh Leidong, Labuhan Batu Utara)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107