
Ditengah krisis pangan akibat dampak perubahan iklim, dukungan dan perlindungan terhadap perempuan penghasil pangan harus segera diberikan dan kian mendesak.
Demikian tuntutan Shout! kelompok anak muda dan Aliansi untuk Desa Sejahtera di Jakarta yang disampaikan melalui kegiatan flash mob pada Hari Bebas Kendaraan, 13 Maret 2011 di Jakarta.
”Secara global, perempuan menghasikan 50% pangan untuk penduduk, tetapi ironisnya 70% orang miskin adalah perempuan. Kenaikan harga pangan yang terus terjadi akan menambah besar jumlah orang miskin dan kekurangan gizi” Jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator nasional Aliansi untuk Desa Sejahtera.
Meskipun peran perempuan dalam menghasilkan pangan sangat penting, dukungan negara sangat minim.”Negara yang tidak mengakui perempuan sebagai nelayan atau petani menjadi salah satu faktor dari minimnya dukungan dan perlindungan bagi mereka.” tambah Tejo lagi. Belum lagi, kebijakan yang diambil pemerintahan SBY untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan bangsa cenderung memilih pembangunan industri pangan skala besar yang padat modal dengan orientasi ekspor, mengabaikan penghasil pangan skala kecil, yang diantaranya adalah perempuan.
”Kegiatan flash mob ini merupakan wujud nyata penghargaan dan dukungan dari kami, anak muda terhadap perempuan penghasil pangan skala kecil, diantaranya petani, nelayan dan pekebun kecil yang berperannya besar dalam menyediakan pangan tetapi paling diabaikan, juga paling menderita akibat dampak perubahan iklim.” Tambah Yunika Permatasari, salah satu anggota Shout! menjelaskan aksi yang mereka lakukan.
Kami melakukan apa yang dapat kami lakukan sebagai anak muda, untuk menyuarakan kepentingan perempuan penghasil pangan terkait dengan perayaan hari perempuan internasional, 8 Maret lalu dan krisis pangan yang terus terjadi, tutur Citra Pertiwi, yang juga anggota Shout!. Selain anggota SHOUT, kegiatan ini juga didukung oleh anggota Anak Pelangi dan KOPHI.
Banyak studi membuktikan, diantaranya yang dilakukan oleh IAASTD selama 4 tahun terakhir, pertanian berskala besar, dengan asupan kimia tinggi merupakan penyumbang polusi, perubahan iklim, deforestasi, kesenjangan sosial dan kehancuran keanekaragaman hayati dan budaya. Diperlukan perubahan fundamental kearah pertanian berkelanjutan, dalam skala kecil dengan menggunakan sumber daya setempat, yang memberi ruang bagi perempuan untuk menjamin ketersediaan kebutuhan pangan yang berkeadilan.
Tanpa ada dukungan nyata, dengan membuka akses terhadap sumber daya, kredit, teknologi, pelatihan, pendidikan untuk perempuan penghasil pangan agar dapat terus menghasilkan dan meningkatkan produksi pangan ditengah cuaca ekstrim, Indonesia akan menghadapi krisis pangan yang berkelanjutan.
***
Catatan:
Orang yang paling menderita saat harga pangan naik adalah orang miskin. Di Indonesia 63% pengeluaran keluarga miskin untuk pangan. Perempuan paling sedikit mendapat makanan saat krisis, karena mereka akan mendahulukan suami dan anak untuk mendapatkan makanan.
Aliansi untuk Desa Sejahtera merupakan aliansi dari 18 Ornop dan jaringan dengan fokus kerja mengupayakan penghidupan pedesaan yang lestari dengan pendekatan pada 3 komoditas : (1) beras/pangan, ketua pokja Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP); (2) sawit, ketua Pokja Sawit Watch dan (3) ikan, ketua Pokja Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)
Aliansi untuk Desa Sejahtera memiliki 4 pilar untuk memperkuat penghidupan di pedesaan (1) akses terhadap sumber daya alam, (2) akses pasar, (3) adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, dan (4) keadilan gender.
SHOUT! Indonesia merupakan kumpulan anak muda yang bersedia memberikan sebagian waktu, tenaga, pikiran untuk memperkuat suara kelompok produsen kecil. Dalam melakukan kegiatannya, SHOUT terbuka bekerjasama dengan kelompok anak muda yang memiliki kepedulian yang sama.
Sumber: http://desasejahtera.org