Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, kec. Binanga, Kabupaten Tapanuli Selatan, adalah salah satu dusun yang terletak jauh dipedalaman Sumatera Utara, diapit hutan registerr 40 Tapanuli Selatan dan hutan tanaman produksi milik PT.Toba Pulp Lestari (TPL). Dusun itu dihuni 40 keluarga atau 285 jiwa, terpencil dari dusun yang lain, dan tak terjangkau listrik, apalagi telkomunikasi.
Untuk mencapai kota kecamatan Binanga sedikitnya perlu 14 jam perjalanan daratdari Medan atau sekitar 4 jam dari ibukota Tapsel, Padang Sidimpuan. Dari Binanga kedesa itu, perjalanan menembus belantara sejauh 22 kilometer. Hanya mobil-mobil gardan ganda yang sanggup melintasi jalan lumpur menuju dusun tersebut.
Dusun Sigoring-goring merupakan dusun yang sangat tertinggal, baik dari segi pembangunan, maupun pendidikanya. Didusun ini hanya terdapat satu sekolah SD yang hanya memiliki satu ruang kelas, sehingga seluruh siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI bercampur jadi satu, dan hanya ada satu orang guru yang mengajar disana. Dan yang sangat memprihatinkan, murid-murid di SD tersebut masih menggunakan buku-buku pelajaran kejar paket A, B, dan C terbitan tahun 1997, yang sebenarnya ditujukan untuk ujian persamaan.
Menurut Raja Dima (37), guru yang mengajar disana, sekolah itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1982. sejak dibangun, sekolah itu belum pernah mendapat bantuan sedikitpun dari pemerintah. SD yang berada ditepi hutan TPL itu hanya memiliki 27 siawa, yaitu kelas I sebanyak sembilan siswa, kelas II delapan siswa, kelas III tujuh siswa, kelas IV satu siswa, dan kelas VI dua siswa. Sedangkan kelas V tidak ada siswanya. Semangkin tinggi kelasnya, semangkin sedikit siswanya yang sekolah. Anak-anak lebih memilih membantu orang tuanya bekerja, sehingga jika dirasa sudah bisa membaca dan menulis saja itu sudah cukup.
Raja Dima Siregar mengatakan hingga saat ini dia sudah enam bulan mengajar lima kelas di SD Dusun Sigoring-goring tanpa gaji, terhitung mulai desember 2004 – mei 2005. Dan sebagai gantinya masyarakat memberinya delapan puluh kaleng beras atau setara dengan 1.280 kg pertahun. Lelaki kelahiran Desa Sidingka Aek Sigama kecamatan Gunung Tua itu tidak pernah mengeluh dengan apa yang dia dapatkan sekarang. Justru yang dikhawatirkanya adalah nasib anak didiknya yang belajar dengan buku pelajaran yang sudah tidak layak pakai.
Tak satu muridpun yang memilik buku pelajaran. Mereka hanya mengandalkan keterangan dari guru yang menggunakan materi dari buku-buku yang sudah kadaluarsa itu. Kendati demikian, anak-anak selalu mencatat pelajaran di buku tulis mereka masing-masing dengan sangat semangat.
Untuk mengatasi proses belajar-mengajar, karena semua kelas digabung menjadi satu, Raja Dima menggunakan metode bergilir, dimana setelah menuliskan pelajaran untuk kelas I, Raja Dima menhapusnya kemudian menuliskan pelajaran untuk siswa kelas II, demikian seterusnya dia harus bergilir menerangkan pelajaran yang dituliskanya di dua papan tulis tersebut.
Hari minggu para siswa SD Sigoring-goring tetap masuk sekolah. Mereka libur pada hari kamis bersamaan dengan pekan dikota Binanga. Saat pekan para orang tua termasuk Raja Dima pergi ke kota untuk menjual hasil pertanian sekaligus membeli barang kebutuhan selama seminggu.
Siswa SD Sigoring-goring memakai seragam coklat, bercampur dengan seragam merah putih dan sebagian lainya tidak berseragam. Hampir seluruh siswa tidak memakai alas kaki, sedangkan Raja Dima hanya mengenakan sandal jepit.
Awalnya Raja Dima tidak pernah berfikir untuk menjadi seorang guru, tetapi karena guru yang sebelumnya mengajar mengundurkan diri pada bulan oktober 2004 sehingga kegiatan belajar-mengajar sempat terhenti. Karena merasa kasihan kepada anak-anak, apalagi banyak orang tua murid berharap dia bisa mengajar anak-anak mereka. Akhirnya dia memutuskanuntuk menjadi guru disana.
Menjadi seorang guru yang mendapatkan bayaran 80 kaleng beras pertahun, jelas tidak dapat memadai, inilah yang membuat Raja Dima merasa susah dan menyebabkan banyak guru yang tidak tahan. Untuk menutupi kebutuhan hidupnya Raja Dima mengandalkan kerja kerasnya sebagai seorang petani. Lelaki muda beranak tiga ini mengarap sawah sekitar 2500 meter persegi yang dapat menghasilkan beras sebanyak 100 kaleng. Sejak dia jadi guru, pengolahan sawah lebih banyak dilakukan istrinya. Selain itu pada waktu-waktu tertentu khususnya pada waktu libur Raja Dima pergi kehutan mencari kayu cendana dan menjualnya untuk menambah penhasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Sebelumnya Raja Dima dan seluruh warga desa hidup dengan mengandalkan pertanian dan hasil tanaman karet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rata-rata perorang memiliki dua hektar yang ditanami 200 pohon. Tetapi sejak terjadi perampasan lahan secara paksa oleh pengusaha, penghasilan masyarakatpun menghilang karena kebun dan rumah mereka habis terbakar.
Harapan Raja Dima pemerintah mau membuka mata dan melihat bagaimana miskinya masyarakat disana khususnya mengenai pendidikan, karena fasilitas yang mereka pakai sekarang ini sudah tidak memadai. Apalagi sekarang ini tanah-tanah kami terus direbut, bahkan rumah dan kebun dibakar habis, tapi belum ada yang peduli, Katanya.