TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Pupuk Organik Hasilkan 14 Ton Padi Per Hektar

06/04/2015 , ,

bandung-pupuk

Peluang Petani Jual Lahan Bisa ditekan

Uji coba budidaya padi dengan menggunakan pupuk hayati atau pupuk organik di Kelurahan Cipamokolan, Kecamatan Rancari, Kota Bandung, Jawa Barat, menghasilkan padi 14 ton per hektar. Padahal, apabila menggunakan pupuk kimia rata-rata 4 ton per ha.

Panen dilakukan Sabtu (4/4). Uji coba itu dilakukan Yayasan Heritage pada lahan seluas 2 ha. Penanaman dimulai pada Januari 2015 dengan menggunakan bibit lokal, IR 64, dengan menerapkan sistem Agriculture Growth Promoting Inoculant (AGPI), yakni sistem budidaya padi berbasis mikroba.

Sistem ini dibantu dengan pupuk hayati yang disebut dengan Bio Max Grow (BMG), yaitu suatu inokulan berbentuk cair yang mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba asli Indonesia yang sangat dibutuhkan dalam penyuburan tanah secara biologi. Mikroba dimaksud, antara lain, Azospirillum sp, Azotobacter sp, mikroba pelarut unsur fosfor (P), serta Lactobacillus sp.

Mikroba dan enzim itu dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. BMG juga memacu zat hijau daun lebih produktif dalam meningkatkan proses umbi/benih/bulir/buah lebih padat dan berisi.

Formula pupuk hayati mikroba atau BMG ditemukan oleh Lukman Gunarto, pakar mikrobiologi tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Lukman juga menjabat dalam Dewan Pakar Yayasan Heritage.

Pada 30 hari pertama, perkembangan anakan padi IR 64 yang biasanya 15-20 batang dengan menggunakan BMG jumlah anakan berkembang menjadi 30 sampai 70 batang. Saat dipanen diperoleh hasil 9-16 kilogram gabah kering panen. Dengan demikian, volume produksi rata-rata 14 ton per ha. Hasil ini jika semuanya menggunakan pupuk hayati.

Menurut Ketua Yayasan Heritage Herdiwan, petani juga bisa menggabungkan separuh pupuk hayati dan kimia. Pola ini pun bisa hemat. Petani menggunakan pupuk kimia yang biasanya mengeluarkan biaya Rp 2,3 juta per ha. Dengan kombinasi pupuk di mana hanya menggunakan pupuk kimia 50 persen, maka ongkos pupuk kimia hanya Rp 1,1 juta dan pupuk hayati Rp 500.000. “Artinya, biaya pupuk hemat Rp 600.000, tetapi produksinya dapat mencapai lebih dari 8 ton per ha,” ujar Herdiwan.

Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup Jawa Barat Thio Setiowekti berpendapat, penggunaan pupuk organik patut didukung oleh pemerintah. “Paling tidak jika hasilnya sangat menguntungkan petani, dan kesejahteraan petani meningkat, hal itu tentu dapat mengurangi nafsu petani menjual lahan mereka. Alokasi anggaran untuk pupuk bersubsidi juga dapat dialihkan untuk pembelian beras petani,” kata Thio.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat Uneef Primadi mengemukakan penerapan pupuk organik sangat memungkinkan. Sampai saat ini di wilayah Jawa Barat terdapat lebih kurang 16.000 kelompok tani yang sudah menggunakan pupuk organik yang tersebar pada areal seluas 50.000 hektar. Produktivitas rata-rata mencapai 6-7 ton per ha. “Dengan pupuk hayati ini secara bertahap penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi,” ujar Uneef.

Hal senada dikatakan anggota Komisi IV DPR Ono Surono yang ikut hadir dalam panen itu. “Kami akan mendorong penggunaan pupuk hayati,” ujarnya. (sem)

Sumber: Kompas | 06 April 2015

Foto: http://serambipetani.org

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107