Antusiasnya para petani Langkat yang mengikuti pelatihan jurnalistik kali ini dinilai cukup baik. Terbukti banyaknya pertanyaan seputar jurnalistik yang menjadi bahan diskusi pada pelatihan tersebut. Demikian kesimpulan Iswan Kaputra, Manager ICT&RD, BITRA Indonesia, saat menutup acara Pelatihan Jurnalistik Dasar Bagi Petani Langkat yang diselenggarakan BITRA Indonesia, di Gedung Pelayanan Sosial-PPTKS, Stabat, Kabupaten Langkat, Minggu (30/9).
Pelatihan jurnalistik merupakan program BITRA Indonesia untuk meningkatkan kemampuan akses masyarakat petani terhadap media, minimnya ruang ekspose pada media umum untuk masalah yang dihadapi masyarakat, selama ini menjadi kendala. Sehingga para pengambil kebijakan selalu salah arah karena tidak memahami masalah sejati yang terjadi pada masyarakat, khususnya petani dan masyarakat pedesaan.
Selain itu pelatihan ini juga ditujukan agar masyarakat dapat berkreasi mengekspresikan tulisan dalam media alternative yang dapat dikelola oleh komunitas. Akses masyarakat terhadap informasi, dimana internet kini juga telah masuk desa melalui telepon genggam dan program Kemenkominfo, diharapkan masyarakat dapat mempublikasikan persoalannya melalui berbagai media dan jejaring sisial yang ada di internet.
Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari (29-30/9) ini diikuti 24 petani dari berbagai kelompok tani dampingan BITRA yang ada di wilayah Kabupaten Langkat. Peserta tamu juga mengikuti dari Labuhan Batu Utara dan Dairi(3 orang).
“Tujuan kegiatan ini adalah untuk menjadikan para peserta pelatihan sebagai jurnalis (pewarta warga) yang punya idealisme tinggi dari kelompok-kelompok masyarakat. Secara khusus, untuk tahap awal (tahap berlatih), para pewarta warga tersebut diminta memberikan informasi dan mengungkapkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari di kampung dan sekitarnya, melalui tulisan-tulisan mereka untuk dipublikasikan di Newsletter Bitranet, Website Bitra.or.id dan portal berita masyarakat se-Indonesia Suarakomunitas.net agar dibaca kelompok masyarakat yang lain. Begitupun, silakan menulis kemana saja. Sebab tak tertutup kemungkinan tulisan para peserta pelatihan ini bisa dimuat di media lain, ataupun di media cetak lokal yang ada di Sumatera Utara,” jelas Iswan memotivasi.
“Pelatihan jurnalistik semacam ini,” tambah Iswan lagi, “bukan semata-mata untuk menciptakan pewarta warga. Tetapi untuk mengajarkan masyarakat bagaimana mengenal media dan dunia tulis-menulis. Hal terpenting adalah soal kesadaran bahwa informasi bisa merubah keadaan.”
Sebelumnya, pada sesi pertama, Sabtu (29/9), fasilitator pelatihan Tohap Simamora dari Suara Komunitas, memaparkan “Dasar-dasar Jurnalistik” dan “Kode Etik Jurnalistik”. Paparannya dimulai dengan kajian “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, pengertian berita, teknik membuat berita, dan unsur-unsur jurnalistik lainnya. Menurut Tohap, bahasa jurnalistik harus singkat, padat dan tegas dengan melihat aspek penentu nilai berita; seperti aspek waktu, aspek jarak, aspek penting, aspek akibat/dampak, aspek keluarbiasaan, aspek pertentangan/konflik, aspek kemajuan/kebaruan dan aspek human interest.
Mengenai Kode Etik Jurnalistik, Tohap mengingatkan, wartawan harus professional dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Adapun soal kebebasan pers, sebenarnya kebebasan sudah ada. Hanya saja wartawan banyak yang tak peduli pada etika jurnalistik, sehingga kebebasannya kebablasan. “Untuk itulah, meski warga (bukan wartawan) juga dapat memberitakan sendiri masalahnya, sebagai pewarta warga, tetapi warga tersebut juga harus mematuhi kode etik jurnalistik yang ada,” jelasnya.
“Sebagai pewarta warga,” lanjut Tohap, “warga yang melakukan tugas jurnalistik harus sadar akan perannya. Menulis tentang lokasi sekitarnya. Sebab kita berhak mengelola informasi demi kebaikan dan kemajuan warga itu sendiri.”
Senada dengan Tohap, Muhamad Hidayat, fasilitator selanjutnya, dari Jaringan Radio Komunitas (JRK) Sumut, mempertegas tentang fungsi dan peran warga sebagai pewarta, yang tentunya harus memahami kerja jurnalistik. Hidayat menjelaskan bagaimana sebuah informasi (berita) disebarluaskan, dan bagaimana mengubah informasi menjadi aksi. “Melalui “media konvergensi” seperti Suara Komunitas misalnya, berita yang dimuat akan tersebar secara cepat dan meluas, hingga terbaca ke pihak-pihak yang berkompeten (pengambil kebijakan-red), bahkan jika disertakan nomor kontak pihak yang berkompeten akan mendapatkan sms tentang berita ini langsung ke telepon genggamnya,” jelasnya.
Pada sesi praktek jurnalistik, para peserta ditugaskan untuk menulis reportase singkat sesuai dengan materi pelatihan yang telah diberikan fasilitator. Dimulai dengan wawancara antarpeserta pelatihan, lantas membuat tulisan “profil kelompok” yang diwawancarai, baik kisah suka (success story) maupun kisah duka (kendala-kendala yang dihadapi kelompok).
Hasan, seorang peserta dari Kelompok Tani Subur, Pantai Gemi, Stabat, mengaku senang atas pelatihan jurnalistik yang diadakan BITRA ini. Menurut Hasan, wawasannya tentang dunia jurnalistik jadi bertambah. Kepada BITRA, lanjutnya berharap, pelatihan jurnalistik seperti ini jangan sampai terputus hanya sampai di sini saja.
Untuk itu, menyambut baik harapan Hasan tadi, Iswan dari BITRA, siap menerima apresiasi para peserta yang berasal dari berbagai kelompok tersebut (seperti KT Subur, Salam FM, Secanggang, SERBILA, Rosella, Murni, Mawar, ARSUB). “Bitra Indonesia sangat terbuka bagi peserta yang ingin berdiskusi lebih “dalam” mengenai jurnalistik, baik yang datang langsung ke kantor BITRA maupun saat BITRA berkunjung ke tempat peserta masing-masing,” katanya. (juhendri)