Pertanian organik di Indonesia mulai menarik perhatian masyarakat. Sistem pertanian ini bisa dikatakan sebagai salah satu warisan budaya. Karena itulah, selama tiga tahun berturut-turut Bogor Food Fair dan Festival Herbal Indonesia (BOF 3 & FHI) digelar.
Bertempat di Halaman Muka Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat, acara Bogor Food Fair 3 dan Festival Herbal Indonesia diselenggarakan. Acara yang berlangsung pada tanggal 22-23 Juni 2013 ini bertema Oraganic as Indonesia Heritage, dengan tujuan untuk menggaung dan mensosialisasikan organik sebagai warisan budaya Indonesia.
Sebanyak 44 stand partisipan dan 10 food festival dari seluruh Indonesia ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara. Tentunya masing-masing stand memamerkan aneka produk organik unggulan dari dalam negeri kepada seluruh pengunjung.
Pameran organik berskala nasional ini digagas oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) yang bekerjasama dengan Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI), Institut Pertanian Bogor (IPB) juga Pemerintah Kota Bogor. Selain itu, juga mendapat dukungan penuh dari akademis dan komunitas pemerhati organik.
“Harapan kami masyarakat bisa mengingat kembali bagaimana kekayaan budaya dan kearifan lokal Indonesia dalam teknologi pertanian yang telah dikembangkan nenek moyang kita. Teknologi bertani yang ramah sosial, lingkungan dan ekonomi serta tak lekang oleh waktu,” ungkap Sucipto K. Saputro, Ketua Pelaksana BOF 3 & FHI, dalam pernyataan tertulisnya.
BOF sebagai kegiatan tahunan memiliki target jangka panjang hingga 7-10 tahun, dengan tujuan sebagai pusat perdagangan, pusat pendidikan dan pusat advokasi pertanian organik di Indonesia. Juga diharapkan menjadi bagian dari gerakan pertanian organik dan pameran dagang regional dan dunia.
“BOF menjadi media untuk mempertontonkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memproduksi produk pertanian yang bersahabat dengan alam dan tidak melanggar hak asasi manusia. Dari tahun ke tahun BOF akan semakin dibajiri produk pertanian organik, konsumen dan pedagang produk pertanian organik.” kata Sebastian Saragih, Presiden AOI.
Sementara itu, Wahyu Indriyo dari AKSI juga mengatakan bahwa dalam BOF dan FHI ini, kita bisa menyaksikan beragam industri kreatif yang riil diproduksi oleh masyarakat, berbasis sumberdaya lokal dan kearifan masyarakat. (odi/dyh)
Sumber: http://food.detik.com
——————————-
Lestarikan Produk Organik sebagai Warisan Budaya Bangsa
Perkembangan produk pertanian organik dan herbal merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Guna menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang hal itu, Aliansi Organis Indonesia (AOI) menghelat Bogor Organic Fair 3 (BOF 3) dan Festival Herbal Indonesia (FHI) di halaman muka Kampus IPB Baranangsiang.
Selama dua hari (22-23/6), pengunjung akan diajak mengeksplorasi segala hal yang berhubungan dengan pertanian organik di Indonesia. Baik itu sejarah, proses tanam, produk pertanian organik, kegiatan para komunitas petani dan sebagainya. “Pengunjung bisa cicip-cicip makanan organik, mengunjungi museum pertanian, melihat pameran produk organik, tanaman herbal, dan lain-lain. AOI berharap semua bisa merasakan bahwa organik adalah warisan budaya Indonesia,” ungkap Presiden AOI, Sabastian Saragih.
Acara yang dimeriahkan oleh karnaval delman, dogdog glojor, rampak kendang dan angklung gubrak tersebut merupakan helat tahun ketiga yang diselenggarakan AOI. BOF 3 dan FHI diinisiasi AOI bekerjasama dengan Aosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Pemerintah Kota Bogor.
Tahun ini, pameran organik interaktif berskala internasional itu diramaikan oleh 44 stan partisipan dan 10 food festival yang berasal dari seluruh Indonesia. “Selain untuk menggaungkan pertanian organik dan tanaman herbal pada masyarakat, kami juga ingin menampilkan kekayaan budaya Indonesia,” tutur Ketua Pelaksana BOF 3 dan FHI, Sucipto K. Saputro.
Respon pengunjung terhadap ajang pameran produk organik itu terbilang positif, Nana Asnaniati, misalnya, yang datang bersama suami dan ketiga anaknya. Nanan mengungkapkan, BOF3 dan FHI bisa menambah informasi mengenai pertanian organik. “Buat pengalaman juga untuk anak-anak, mengajarkan bahwa pertanian organik ini sangat bagus. Hidup menjadi lebih sehat dan terhindar dari efek kimia. Saya pribadi juga sudah mencoba menanam organik di rumah, seperti timun dan paria untuk lalapan dan konsumsi sendiri,” ujar Nanan setelah mencicipi kue kering yang terbuat dari labu organik.
Begitu juga dengan pasangan suami istri Irfan Munaf dan Luky Irfan, yang mengunjungi museum pertanian. Meski masih terbilang sederhana, Irfan dan Luky berkata museum mini dalam pameran tersebut sudah cukup menginformasikan tentang proses pertanian tradisional. “Sebagai start sudah bagus, barangkali nanti bisa ditambah dengan menampilkan secara real dan lengkap alat-alat bercocok tanam tradisional hingga modern. Misalnya alat bajaknya dibawa juga, agar pengunjung terutama anak-anak bisa melihat dan mengenal lebih,” tukas mereka. (Shelbi Asrianti)
Sumber: Jurnal Bogor, Edisi 23 Juni 2013