Training leadership yang baru saja dilaksanakan oleh BITRA Indonesia bagi pengurus Serikat Pekerja Rumahan Sejahtera ternyata menghasilkan banyak perubahan pada peserta pelatihan tersebut. Misalnya bagi Mislam, salah satu peserta pelatihan yang merupakan seorang pekerja rumahan penganyam kawat panggangan yang baru 2 bulan menjabat sebagai ketua di kelompoknya itu. Dia menggantikan Bu Ika yang sudah satu tahun memimpin kelompok penganyam kawat tersebut.
Perempuan berusia 46 tahun yang kerap dipanggil Bu Ilam ini mengakui bahwa dia mendapatkan banyak manfaat dari setiap pelatihan yang diikutinya. Begitu pula dari pendidikan kepemimpinan yang difasilitasi oleh BITRA Indonesia pada 20-22 Agustus 2015 lalu, di Hotel Grand Antares, Medan. Dari perbincangan penulis (pendamping lapangan) dengan Bu Ilam, diketahui bahwa ternyata pemahaman Bu Ilam tentang kepemimpinan, sebelum ikut pelatihan berbeda dengan pemahamannya setelah menyelesaikan pelatihan. “Dulu, dalam pikiran saya, yang pantas disebut pemimpin itu adalah seperti presiden, gubernur, dan kepala desa,” ujarnya.
Menurut Bu Ilam, posisinya sebagai ketua di kelompok juga belum pantas disebut pemimpin. Baginya, sosok pemimpin itu adalah laki-laki yang gagah dan tegas. “Kayak Pak SBY itu lho,” ucapnya menambahi.
Namun, setelah mengikuti proses pelatihan kepemimpinan, pemikiran tersebut akhirnya ditampiknya. Kini Bu Ilam menyadari bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin. “Menjadi seorang pemimpin ternyata tidak memandang jenis kelamin,” ujarnya.
Beruntung suami Bu Ilam sangat mendukung kegiatan istrinya tersebut. Saat penulis juga menyempatkan waktu untuk berbincang dengan suami Bu Ilam, penulis menanyakan pendapat bapak tersebut tentang organisasi yang diikuti oleh istrinya. Ternyata laki-laki berusia 50-an itu sangat menyetujui organisasi dan kegiatan yang diikuti istrinya. Dia melihat perubahan yang baik terjadi pada istrinya. Dia menceritakan bahwa setiap pulang dari pendidikan dan pelatihan, istrinya dengan bersemangat selalu bercerita tentang proses pendidikan dan betapa bermanfaatnya pengetahuan-pengetahuan baru yang didapatnya.
“Belajar tidak mengenal usia”. Hal itulah yang juga selalu ditanamkan Bu Ilam dalam hidupnya. Semoga harapan dan keinginan para pekerja rumahan untuk menjadi pemimpin dapat terwujud melihat betapa bersemangatnya perempuan-perempuan ini belajar untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Saat ini, para pekerja rumahan semakin bersemangat menyerukan: “Perempuan Bisa Menjadi Pemimpin”.
Dewi Bernike Tampubolon (Pendamping Pekerja Rumahan Deli Serdang)