Dalam ranah teori ekonomi tidak kita kenal istilah Perekonomian Rakyat. Namun Prof. Dr. Mubyarto (alm) pernah mengatakan bahwa Perekonomian Rakyat adalah sektor ekonomi yang menghidupi bagian terbesar rakyat Indonesia. Sementara itu UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah telah memberikan kriteria tentang masing-masing entitas usaha tersebut. Dari kriteria-kriteria itu, Kementerian Koperasidan UKM telah menghitung bahwa mayoritas dari 55.081.027 unit usaha yang ada di Indonesia adalah Usaha Mikro. Jumlah Usaha Mikro sekitar 50.697.000 unit (92,04%), Usaha Kecil 4.340.000 unit (7,88%), Usaha Menengah 39.657 unit (0,072%), dan Usaha Besar 4.370 unit usaha (0,008%).
Usaha Mikro yang merupakan 92,04% ditambah Usaha Kecil 7,88% seluruhnya mencapai 99,92% dari seluruh entitas usaha dan berjumlah 55.037.000 unit usaha itu diperkirakan menghidupi sekitar 220 juta jiwa atau meliputi 91,66% dari seluruh penduduk Indonesia, saat ini. Dengan demikian, Usaha Mikro dan Usaha Kecil bersama-sama merupakan sektor Perekenomian Rakyat seperti dimaksud Prof. Mubyarto, karena menghidupi sebagian besar Rakyat Indonesia.
Menurut Urata, bidang Usaha Mikro sangat beragam yang dapat dikelompokkan dalam bidang-bidang kegiatan usaha berikut:
1) Kegiatan primer dan sekunder: pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan (semua dilaksanakan dalam skala terbatas dan subsisten), pengrajin kecil, penjahit, produsen makanan kecil, dan lain-lain;
2) Kegiatan tersier: transportasi (dalam berbagai bentuk), kegiatan sewa menyewa baik rumah, tanah, maupun alat produksi, dan lain-lain;
3) Kegiatan distribusi: pedagang di pasar, pedagang kelontong, pedagang kaki lima, penyalur dan agen, serta usaha sejenisnya dan
4) kegiatan jasa lain: pengamen, penyemir sepatu, tukang cukur, montir, tukang sampah, juru potret jalanan, tukang ojek dan sebagainya.
Inilah kekuatan dan sekaligus kelemahan kita. Secara ekonomi dan sosial sebenarnya mereka berada dalam posisi yang strategis, karena:
1) Jumlahnya sangat besar & punya potensi berkembang cepat;
2) Tetapi vulnerable, bila tak diberdayakan menyebabkan kemiskinan makin besar & menjadi beban seluruh bangsa;
3) Bila diberdayakan secara tepat akan menjadi Usaha Kecil, yang kemudian berkemungkinan menjadi Usaha Menengah;
4) Usaha Mikro yang mendapat pelayanan keuangan pendapatannya meningkat perbulan rata-rata 87,34% (Mat Syukur, disertasi, 2002) dan
5) Dari penelitian terhadap usaha kecil (53% dari Usaha Mikro, sektor pembiayaan merupakan faktor determinan Usaha Mikro “naik kelas” menjadi Usaha Kecil (JBIC, REDI, Bappenas, Development Alternatives).
Kalau kita setia pada Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang menjadi semangat pendorong Indonesia merdeka, maka main streaming kebijakan pengembangan Perekonomian Rakyat tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tetapi nyatanya? Dilupakan! Dalam perjalanan pasca kemerdekaan, beberapa kali kita mengalami kemujuran perbaikan ekonomi, tetapi hanya dinikmati para elit dan tidak berdampak perbaikan kehidupan rakyat banyak. Maka berbagai upaya advocacy tetap perlu digencarkan disamping berbagai upaya Masyarakat Warga (civil society) meningkatkan keberdayaan masyarakat berkelanjutan, berupa capacity building dan aksesibilitas pada sumber daya.
Pertanyaannya, siapa akan melakukan tugas luar biasa besar ini? Apakah Pemerintah, LSM, Dunia Usaha, atau Universitas? Jelas, sendiri-sendiri mereka tidak mampu melakukannya, melainkan semuanya harus bergandengan tangan memanggul tugas mulia ini. Pada titik ini pandangan Social Solidarity Economy instrumental. Yaitu dengan sinergi membangun kerjasama dan mewujudkan gerakan fungsional meningkatkan keberdayaan masyarakat berkelanjutan. Dalam kerangka ini, walaupun sikap kita berpihak pada yang lemah, miskin dan terpinggirkan, upaya pemberdayaan itu tidak boleh membenturkan yang kecil dengan yang besar, yang miskin dengan yang kaya, yang terbelakang dengan yang maju, yang tradisional dengan yang modern, yang informal dengan yang formal dan sebagainya, melainkan harus mengembangkan kerjasama dengan prinsip kesetaraan.
Inilah panggilan sejarah generasi ini. Semoga kita bisa ikut berperan aktif menggerakkan keberdayaan rakyat berkelanjutan.
Salam takzim, Bambang Ismawan.
Sumber: Nawala Bisma, Info September 2013
Foto: http://www.anneahira.com