TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Pemanfaatan Jalan Desa dengan Penghijauan Bernilai Ekonomis

29/11/2011

Gagasan Kampung | Penghijauan Desa

Setiap wilayah pasti punya potensi walaupun  berbeda-beda. Termanfaatkan atau tidaknya potensi tersebut bergantung dari sejauh mana kreatifitas dan kejelian masyarakatnya melihat potensi tersebut.

Seperti yang dilakukan Kelompok Credit Union Bina Maju Bersama (CU BIMA) desa Air Hitam yang baru-baru ini menggelar musyawarah bersama masyarakat pasar 7 desa Air Hitam untuk mensosialisasikan program penanaman pohon karet disepanjang jalan lorong pasar 7. “Ini baru langkah pertama, kedepan kita akan sosialisasi dan membangun kerja sama dengan setiap masyarakat lorong desa ini.” Ujar Adi, tokoh muda dari desa ini, optimis.

Cu Bima melihat bahwa kondisi jalan lorong yang menghampar rata sepanjang 3,5 km yang dimiliki setiap lorong dari 9 lorong dalam satu desa ini, adalah peluang yang sangat besar yang sampai saat ini belum digarap. Padahal jika dikelola secara serius hasil dari jalan lorong ini akan menghasilkan pemasukan yang sangat luar biasa untuk kepentingan umum masyarakat lorong tersebut, mulai dari pembangunan jalan sampai supsidi biaya pendidikan, apalagi untuk desa Air Hitam segala perawatan atau bahkan pembangunan sarana umum semuanya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat“. Kalaulah bernapas saja harus dari Pemerintah mungkin masayarakat desa air hitam sudah mati semua”, kata Kamto (37) warga desa.

Setiap lorong di desa ini memiliki jalan rata sepanjang 3,5 km dengan lebar lebih 6 meter yang terdiri dari 70 – 80 kapling tanah masyarakat. Setiap kapling atau setiap rumah masyarakat masing-masing rencananya akan diberi gang selebar 6 meter untuk lalu lintas dan mengeluarkan hasil kebun masyarakat, sehingga total yang tidak bisa ditanam adalah 6 X 80 kapling =  480 meter, kalau dikurangkan 3,5 km dikurang 480 meter maka sisa yang dapat ditanam sepanjang 3,020 meter, jika dengan jarak tanam per-pohon masing 2 meter maka akan mengasilkan tanaman sebanyak 1,600 pohon atau setara dengan 2 hektar tanah jika lahan tersebut dikhususkan untuk kebun.

Jika ditanam pohon karet pada kiri-kanan jalan, maka masyarakat akan punya kebun keret tanpa tanah (hamparan lahan khusus kebun) sebanyak 4 Hektar. Menurut keterangna petani karet, dalam per-hektar kebun karet dengan harga jual getah rata Rp 13.000,-/kg bisa menghasilkan sebanyak Rp 1.500.000/minggu atau Rp 6 – 8 juta/bulan, kalu dikali 4 Ha maka sama dengan Rp 24 – 32 juta/bulan. Dengan pendapatan sebanyak ini, keperluan dan kebutuhan bersama lorong atau bahkan desa, apa saja bisa dipenuhi oleh masyarakat lorong dengan kepadatan penduduk rata 40 – 60 KK. Sementara dari sisi sosial, tanaman karet tepi jalan ini diperkirakan sudah bisa menghidupi 2 keluarga dengan gaji masing-masing 2 juta perbulan sebagai upah menderes/menyadap, jika tanaman sudah produksi.

Selain itu, program ini juga dapat dijadikan sebagai referensi bagi masyarakat bahwa sawit bukanlah satu-satunya pilihan, apalagi dampak negatif yang diterima pekebun sawit khususnya untuk desa Air Hitam sudah dirasakan, selain dampak ekologis dampak secara ekonomi juga dirasakan akibat ketergantungan terhadap harga pasar yang tidak menentu, rendahnya posisi tawar masyarakat dan kerusakan sarana jalan menjadikan harga tandan buah seggar (TBS) di desa ini jauh sangat rendah dibanding desa-desa lain, dalam tahun 2011, harga TBS dari desa ini hanya berkisar antara Rp 600 – 800/kg bahkan pernah mencapai Rp 300,- sementara biaya pemanenenan dan pengangkutan mencapai Rp 200,-/kg. “Berapapun harga sawit ya… Harus kita jual, mau gimana lagi, kalu tidak dipanen buahnya busuk dan akan merusak pohonya”, ungkap Bero (62) petani sawit yang sangat mendukung program ini.

Gagasan dari Ketua CU Bima. Jika program ini terealisasi akan sangat membantu upayanya mengkampayekan tanaman karet sebagai pengganti sawit yang dari banyak sisi lebih menguntungkan. Tanaman karet adalah tanaman yang punya sisi sosial tinggi karena membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak tanpa mengurangi pendapatan bersih jika dibanding dengan tanaman sawit, bayangkan jika satu orang tua punya kebun karet 2 Ha saja, berarti bisa memperkerjakan 2 orang anaknya (yang telah dewasa) selama 15 hari/bulan dengan upah Rp 60.000,-/hari kerja (HK). Berarti setiap anak akan memperoleh pengahasilan dari kebun orang tuanya @ Rp 900.000/bulan tanpa mengurangi penghasilan orang tuanya. Sementara jika tanaman sawit 2 Ha hanya membutuhkan tenaga memanen 4 HK/bulan, dengan asumsi menghasilkan 5 ton TBS/bulan dikali ongkos memanen Rp 100/kg berarti yang dikeluarkan hanya Rp 500,000. Untuk sipemilik sendiri dengan penghasilan 5 ton TBS dikalikan harga saat ini (Nopember 2011) Rp 770/kg, maka penghisilan kotornya adalah Rp 3.850.000,- tidak sebanding dengan karet yang mencapai Rp 6 juta/Ha/bulan.

Sebagai suatu rencana yang melibatkan orang banyak dan bersinggungan langsung dengan masyarakat, rencana pelaksanaan program ini bukan tanpa hambatan, selain tidak jarang juga masyarakata yang punya tanggapan miring terhadap rencana kegiatan pragram ini. “Saya secara pribadi tidak setuju dengan rencana ini, karena jalan kita tanah liat bukan dari batu, kalau kanan kirinya ditanam karet jalan akan terlindung dari matahari, jika turun hujan akan lama keringnya dan becek”. Ungkap salah satu warga yang menolak.

Menjawab kemungkinan resiko tersebut, Supriadi mantan bendahara CU BIMA, orang yang pertama kali menggagas progran ini punya pandangan sendiri, menurutnya resiko itu memang benar kalau kita memandang dari sudut pandang sekarang ini“. Namun dengan pendapat setiap bulan sebanyak yang telah diperhitungkan, jalan kita bukan hanya batu saja, tapi bisa kita buat aspal, jadi sudah gak ada masalah, kalau sudah aspal jalan kita mau gak kena matahari selamanya juga gak akan becek”. Tegas Supriadi dengan penuh keyakinan. Bahkan menurutnya ini akan menjadi hal unik yang menarik untuk jalan lorong yang ikut progran ini, secara otomatis pohon karet yang tumbuh besar akan mentutupi atas jalan yang akan terlihat seperti lorong goa yang terbuat dari daun, kita tinggal memasang lampu jalan setiap 50 meter kanan kiri, dapat dibayangkan keindahan seperti apa yang akan tampak pada malam hari. Hal ini membuka peluang desa Air Hitam didatangi orang karena keunikannya. Atau menarik minat orang datang dan menjadi wisata desa.

Sementara CU BIMA sendiri akan mendapat keuntugan yang juga cukup besar yang akan dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan selaa ini, diantanya pendidikan, meliputi pendidikan anak usia dini (PAUD) dan juga sekolah SMA alternatif, sehingga harapanya beberapa tahun mendatang CU BIMA mampu menyediakan sarana pendidikan yang bebas biaya bagi anak-anak sekolah di desanya. CU BIMA mendapatkan bagian dari hasil produksi panen sebesar 30% dari setiap lorong yang ikut program ini, tentu saja ini bukan hasil tanpa kerja, karena CU BIMA yang melakukan pengelolaan mancakup penyediaan bibit, penanaman sampai perawatan.

Selain manfaat ekonomi yang tinggi bagi pembangunan desa, manfaat lingkungan dengan ikut mengkonservasi desa dengan penghijauan karet, manfaat sosial dan mungkin juga wisata. Akan ada lagi manfaat besar yang didapatkan desa dan masyarakatnya, terutama CU BIMA, saat karet tua yang telah tidak produktif ditebang untuk peremajaan kembali pohon karet, maka kayu hasil karet tua yang ditebang juga dapat dimanfaatkan atau dijual dengan nilai ekonomis yang sangat tinggi untuk keperluan berbagai macam perabotan jenis ramin.

Upaya dan kerja keras harus terus dilakukan oleh pengurus CU BIMA agar program ini dapat terealisasi, karena pengurus yang telah dididik secara matang dalam CU dengan prinsip kemandirian, sangat yakin program ini dapat menjadi solusi dari masalah-masalah yang ada diantaranya masalah kerusakan jalan dan lingkungan yang selama ini dirasakan masyarakat desa Air Hitam pada umumnya. Semoga…

Ditulis Oleh: Hadi Siswoyo (Ketua Credit Union Bina Maju Bersama – CU BIMA, Desa Air Hitam, Kualuh Leidong, Labuhan Batu Utara).

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107