Sebagai bentuk keberpihakan dan kepedulian terhadap masyarakat pedalaman yang sangat minim akan pengetahuan dan informasi BITRA Indonesia mengadakan kegiatan peluncuran dan bedah buku desa Mekar Makmur, Kec. Sei Lepan, Kab. Langkat pada tanggal 30 oktober 2014. Buku baru yang diluncurkan dan dibedah tersebut adalah buku terbitan BITRA Indonesia bekerjasama dengan InsistPress, Yogyakarta, berjudul “Burung-Burung Kehilangan Sarang, Kisah Konflik Agraria di Sumatera Utara”. Buku ini merupakan hasil riset konflik agraria di Sumatera Utara.
“Buku ini sengaja diluncurkan dan dibedah di daerah terpencil, masyarakat yang tinggal di wilayah kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), karena 10 tahun terakhir di daerah ini sangat marak terjadi land grabbing (perampasan tanah) di Wilayah dataran tinggi Langkat. Ini merupakan upaya preventif sebelum terjadinya perampasan tanah rakyat” Ungkap Muhammad Ikhsan dari BITRA Indonesia, selaku Ketua Panitia.
Dalam kegiatan yang digelar di Balai Desa Mekar Makmur dan disiarkan langsung oleh Radio Komunitas (Rakom) SALAM FM, ini dihadirkan 2 orang narasumber, yakni Wina Khairina dari Hutan Rakyat Institute (HaRI) sebagai peneliti dan penulis, Swaldi dari BITRA Indonesia sebagai penggiat pembela kasus tanah rakyat di Sumatera Utara. Acara dimoderatori oleh Iswan Kaputra yang juga merupakan penulis buku.
“Masyarakat harus mengerti dan mewaspadai gejala-gejala dini bagaimana cara-cara sebuah perusahaan atau pihak ketiga lain, akan menguasai lahan petani. Karena perusahaan bisa saja berkolaborasi dengan pemerintah dengan berbagai cara yang sangat halus, dengan membeli, atau dengan cara yang sangat kasar, bahkan tipu mulihat, untuk menguasai secara sepihak tanah atau lahan pertanian rakyat. Untuk itu secara kolektif petani harus memiliki kelengkapan bukti-bukti data yang bisa dipertanggungjawabkan sebagai kekuatan hukum. Jika tidak ada bantuan dan upaya dari pemerintah, maka petani juga harus membuat peta dan zonasi secara swadaya terhadap lahan yang dikelola dan diusahai.” Ungkap Swaldi dalam paparan materinya.
Acara yang baru pertama kali ada di desa ini sangat menarik perhatian dari masyarakat. Karena tema yang dibahas menyangkut soal sengketa tanah yang sewaktu-waktu bisa dialami oleh masyarakat. “Kami merasa bahwa kegiatan yang dilakukan oleh BITRA Indonesia ini sangatlah bermanfaat untuk menambah pengetahuan, karena selama ini hal seperti itu tidak pernah Saya dapatkan dari media manapun. Beruntung Saya diundang dan dapat menghadiri kegiatan ini. Kami berharap BITRA Indonesia selalu mengadakan kegiatan–kegiatan yang serupa di desa Mekar Makmur untuk menambah informasi dan pengetahuan kami.” Ungkap salah seorang peserta, Cio Bangun (37), warga dusun V Damar Hitam. (Suparno, Radio Komunitas SALAM FM, Mekar Makmur, Sei Lepan, Langkat).