TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Nilai Ekologis Bambu pada Pertanian Organik

30/01/2012

Ekologi | Keanekaragaman Hayati

Bambu mempunyai peran penting bagi ekologi pertanian organik di sekitarnya terutama untuk serapan air. Pasalnya bambu dapat menjaga debit air sungai, mencegah erosi tanah, habitat mikro organisme yang hidup di sekitar rumpun bambu sebagai bakteri perombak bahan-bahan organik terutama P (phospor) dari alam. Selain itu, rebung atau bambu muda juga bisa digunakan sebagai hormon pertumbuhan tanaman organik.

“Rumpun bambu di sekitar area persawahan padi dan bermacam jenis sayur-sayuran di pinggir sungai, mampu menjaga debit dan kualitas air sungai, menyimpan air untuk musim kemarau, menangkap partikel-partikel tanah yang dibawa air sungai, dan menjaga tanah di pinggiran sungai agar tidak mudah runtuh. Selain itu batang bambu yang kuat cocok untuk pagar, anyaman, bahan bangunan dan lain-lain,” jelas Tahir Muhammad, salah satu petani organik di Desa Huko-Huko, Kecamatan Pomala, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (7/11)

Untuk mendapatkan dan memanfaatkan mikro organisme yang hidup di sekitar rumpun bambu ini, bisa dilakukan dengan dua cara. Yaitu pertama dengan metode ‘Kering’ (bakteri aerob). Caranya yaitu dengan menggunakan umpan nasi, nasi dikepal-kepal, biarkan sampai dingin. Kemudian simpan nasi di dalam bakul, keranjang atau wadah apa saja, lalu ditutup dengan daun bambu. Biarkan selama  3-5 hari.

Selanjutnya mikroorganisme (jamur atau bakteri) tersebut dibiakkan dengan cara fermentasi. Yaitu dengan memasukkan umpan nasi ke tempat atau wadah tertutup yang diberi air dan gula secukupnya (bisa gula merah atau gula pasir). Biarkan kurang lebih selama 48 jam, setelah itu tempat/wadah bisa dibuka. Setiap hari buka tutup untuk membuang gas yang dihasilkan, aduk-aduk lalu tutup rapat lagi. Mikroorganisme yang sudah dibiakkan atau diperbanyak tersebut kemudian diaplikasikan untuk mengurai bahan-bahan organik menjadi pupuk kompos.

Kedua yaitu dengan metode “Basah” (bakteri anaerob), dengan menggunakan umpan nasi. Ambil nasi (sebaiknya setengah matang). Masukan nasi ke tempat/wadah piring atau baskom. Buat lubang dengan cara digali di sekitar rumpun bambu dengan kedalaman kurang lebih 50 cm, atau seperlunya. Masukkan umpan nasi yang sudah diletakkan di piring atau wadah ke dalam lubang. Kemudian tutup lubang tersebut dengan rapat, usahakan umpan nasi tidak tercampur tanah waktu lubang ditutup. Setelah 5 atau 7 hari, ambil umpan nasi tersebut kemudian perbanyak (biakan) dengan cara fermentasi seperti di atas (poin pertama).

Rebung atau bambu muda juga bermanfaat sebagai hormon pertumbuhan tanaman. Biasanya petani menyemprotkan hormon pertumbuhan dari rebung ini pada tanaman padi pada fase vegetatif, dimulai sekitar 2 pekan setelah tanam. Cara membuat hormon pertumbuhan ini yaitu dengan mengambil rebung dari rumpunnya lalu menghaluskannya atau menumbuknya kemudian mencampurkan air secukupnya (1 kg rebung dicampur dengan air 1 liter).

Setelah itu fermentasi selama kurang lebih 2-3 hari, hormon bisa diaplikasikan pada tanaman  dengan perbandingannya 1:10 (1 liter hormon dicampur 10 liter air) dengan cara disemprotkan ke daun. Sebaiknya penyemprotan dilakukan pada pagi hari sebelum pukul 09.00 atau sore hari setelah pukul 03.00. Fungsinya untuk merangsang dan mempercepat pertumbuhan batang. (ANP/SNY)

Sumber: www.organicindonesia.org

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107