“Masak petani nanya harga padi ke pedagang?” pertanyaan Anwar ini cukup menggelitik. Bapak dua anak berusia tiga puluh lima tahun yang juga berprofesi sebagai petani di Desa Sei Buluh, Kecamatan Sei Bamban, Serdang Bedagai, Sumatera Utara ini terenyuh melihat kondisi petani kebanyakan hari ini.Di tahun 2010, pemerintah berencana mengurangi subsidipupuk dari Rp18 triliun menjadi Rp11,3 triliun. Ini berarti harga pupuk di pasaran akan kembali naik, dengan perkiraan dua kali lipat dari harga semula. Jika biasanya harga pupuk eceran sekitar RP1.500 per kilogram, maka dengan pengurangan subsidi tersebut harga eceran bisa menembus angka Rp2.500 per kilogram.
Dengan kenaikan harga pupuk di pasaran, maka petani yang masih menggantungkan lahan pertaniannya pada pupuk kimia pabrikan harus bersiap diri mengencangkan ikat pinggang, sebab dapat dipastikan biaya produksi akan melonjak tajam. Sementara rencana untuk menaikkan harga beli gabah belum tentu arahnya. Apabila harga eceran pupuk naik menjadi dua kali lipat dari harga sebelumnya, maka harga beli gabah juga harus dinaikkan minimal 20 persen. Apabila tidak, maka petani akan terus-terusan tergencet dari sektor hulu hingga hilirnya.
Meskipun ada tetapan harga eceran gabah, sebagian besar petani juga masih akan kewalahan menghadapi permainan pasar yang kendalinya berada di tangan tengkulak dan para spekulan. Salahsatu faktor yang menyebabkan petani selalu kalah dalam menentukan harga padi dan terjerumus dalam permainan harga dikarenakan petani mulai kehilangan kearifan lokalnya untuk menyimpan dan mengolah padinya sendiri, sehingga para petani akan dihantui ketakutan yang sangat besar apabila padinya tidak dapat segera terjual.
“Kebanyakan petani takut kalau-kalau padinya nanti tidak bisa terjual, lagi pula kalau sedang panen raya maka harganya cenderung turun akibat padi banjir di pasaran,” tutur Anwar, terkenang kembali keresahan sesama petani apabila musim panen tiba sebelum kemudian mereka kembali untuk menggalakkan lumbung desa.
Lumbung Membawa Berkah
“Kalau orang-orangtua kami dulu sering menyimpan padi di tempat penyimpanan yang terbuat dari bamboo dan disimpan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” ujar Jauhari, lelaki berusia enam puluh tahun yang kemudian menjadi penggerak munculnya kembali lumbung di tempatnya.
Jauhari masih mengingat tutur budaya yang dulu sering di dengarnya turun- temurun dari keluarganya mengenai betapa pentingnya lumbung sebagai ucapan terima kasih kepada Dewi Sri, dewi padi yang telah memberi berkah berupa hasil panen melimpah. Tetapi kemudian, seiring meningkatnya kebutuhan dan perubahan drastis pola pertanian, maka budaya memiliki lumbung pun perlahan tapi pasti, semakin berkurang. Bahkan sempat menghilang di Desa Sei Buluh, Kecamatan Sei Bamban ini.
Lambat laun para petani di desa itu mulai merasakan dampaknya. Disadari atau tidak, kekuatan para petani untuk mempertahankan harga semakin melemah. Menurut Jauhari, dulu petani di desanya tidak menyerah begitu saja dengan harga yang ditetapkan para pedagang dan penampung, sebab mereka masih punya lumbung. Berangkat dari keadaan itu, Jauhari berinisiatif menghidupkan kembali budaya lumbung di desanya.
Bermodalkan gudang penyimpanan yang dimilikinya, Jauhari memperbolehkan petani-petani di desanya menyimpan padinya di gudang tersebut. Ia tidak memungut bayaran. Itu semata dilakukannya untuk menanamkan kembali budaya menyimpan padi di kalangan petani di desanya. Sejak itu, banyak petani yang mulai tertarik menyimpan padinya di gudang Jauhari, sebab mereka merasa memiliki tabungan yang bisa dipergunakan sewaktu-waktu dan bisa dijual ketika harga gabah sedang bagus.
Dari perubahan kecil ini, Jauhari bersama dengan Anwar berinisiatif mengembangkan gudang penyimpanannya itu ke dalam bentuk sebuah kelompok simpan pinjam beras. Berbekal pengalaman dan pengetahuan, akhirnya berdirilah Kelompok Lumbung Pangan Seroja Jaya yang hingga saat ini telah berhasil menghimpun sebanyak 52 anggota dan telah memiliki usaha kelompok mulai dari usaha simpan-pinjam, cadangan pangan dan gabah, jual-beli gabah, penggilingan gabah sampai penangkaran benih padi.
Kini para petani yang tergabung dalam kelompok tidak lagi risau dengan hasil panen mereka, sebab harga jual tidak pernah lagi terjun bebas seperti dulu. Para pedaganglah yang kini bertanya berapa harga gabah yang diajukan kelompok. Kedepannya, kelompok ini berencana memasarkan langsung hasil panennya dalam bentuk beras yang dikemas apik dalam karung.
Keberhasilan ini berawal dari kesadaran untuk bersama-sama mengaktifkan kembali lumbung yang sempat mati suri. Kiranya, di Desa Sei Buluh ini, Dewi Sri kembali tersenyum riang.*