TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Mengukur Peningkatan Keberdayaan Masyarakat

11/01/2012

Pemberdayaan Masyarakat | Riset

Dalam buku yang berjudul kemiskinan dan perlindungan Sosial di Indonesia mengagas model jaminan social universal bidang kesehatan Edi Suharto (2009) mengatakan bahwa dampak ekonomi terhadap berbagai program penanggulangan kemiskinan baik di pedesaan maupun di perkotaan bisa dilihat dalam dua demensi yakni demensi pengurangan pengeluaran dan demensi penambahan pendapatan. Lebih lanjut Edi Suhorto menjelaskan bahwa dua demensi terkadang mampu hadir secara bersama-sama dalam satu program, namun adakalanya hadir secara terpisah.

Pada dua dimensi (Pengurangan pengeluaran dan penambahan pendapatan) inilah yang dipandang oleh tim riset independen dari FISIP USU (Linda Elida Siregar dan Herdensi Adnin), terjadi cukup signifikan pada program pemberdayaan yang dilakukan Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia (BITRA Indonesia) terhadap kelompok-kelompok dampingan baik yang ada di Serdang Bedagai, Deli Serdang, Binjai.

Hal tersebut terungkap setelah tim menyelesaikan penelitiannya terhadap program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan BITRA Indonesia pada 4 Kabupaten. Menurut tim riset hal ini agak berbeda dengan program bantuan langsung tunai (BLT) misalnya banyak dikritik oleh berbagai pihak. Karena BLT dianggap menciptakan ketergantungan dan kemalasan serta menimbulkan kemerosotan moral pada masyarakat, bantuan tersebut juga dianggap tidak mencukupi untuk menciptakan perbedaan pada kondisi ekonomi penerima program.

Demikian juga dengan program P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan), yang lebih banyak membangun infrastruktur dibandingkan dengan pemberian modal usaha pada kelompok sasaran. Dengan mengutip tulisan Amartya Sen “development as freedom” Edi Soeharto mengatakan bahwa memang betul bahwa program kebijakan transfer uang atau barang dianggap tidak sepenuhnya mampu menaggulangi kemiskinan. Tidak keliru juga jika program-program tersebut diibaratakan sebagai obat penawar sakit kepala, akan tetapi adalah kesalahan besar jika menganggap program tersebut tidak bermanfaat untuk mengurangi kemiskinan. Bukankah obat sakit kepala dalam dunia medis masih dipakai untuk menawar rasa sakit, sekalipun tidak ada jaminan bahwa obat tersebut dapat menghilangkan sakit kepala secara permanen.

Komponen keberhasilan pemberdayaan BITRA Indonesia diukur dengan menggunakan metodologi riset descriptive dengan kombinasi pendekatan kuantitaif melalui survey dan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam juga sebagai system ricek data trianggulasi melalui focus group discussion (FGD) pada basis langsung ini mengkaji; analisis dampak program terhadap kondisi ekonomi anggota kelompok, dampak social, dampak lingkungan, factor pendorong dan penghambat program dan juga peningkatan partisipasi anggota kelompok terhadap proses perencanaan pembangunan desa dan partisipasi terhadap semua kegiatan di desa.

Berbagai peningkatan terjadi pada semua sisi kehidupan masyarakat dampingan yang diukur dalam riset ini. Rata-rata di atas 60 persen masyarakat kelompok dampingan BITRA Indonesia menyatakan hal tersebut dalam temuan penelitian oleh pihak independen ini. Terutama pada peningkatan ekonomi keluarga dan peningkatan pengetahuan substansial bertani secara organic. Namun pada pemahaman dan tindakan nyata tentang perbaikan lingkungan yang dirasakan masyarakat kurang yakin, yakni hanya 41,7% yang yakin dan 58,3% ragu-ragu. Hal ini dikarenakan masyarakat mempersepsikan bertindak secara organic bukan bagian dari perbaikan lingkungan. (isw)

Baca hasil riset. Klik disini.

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107