TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Menghapus Subsidi Lewat Kotoran Sapi

30/06/2014 , ,

image

Seandainya para peternak sapi perah di Kampung Cadasngampar, Desa Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, tidak mau repot mengolah kotoran sapi, tinggal buang saja ke sungai yang ada di belakang kandang. Sungai Cipabelah selebar 5-6 meter yang berhulu di Gunung Tangkubanparahu itu airnya cukup stabil dan mampu menggelontorkan sekitar 6 ton kotoran sapi setiap hari.

Akan tetapi, hal itu tidak mereka lakukan. Mereka sadar bahwa membuang limbah ke sungai bakal menyengsarakan ribuan warga di sepanjang aliran sungai. Selain itu, para peternak yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Peternak (Gapoknak) Sugih Mukti Mandiri itu juga melihat, kotoran sapi adalah ”emas berbau” alias barang berharga.

Ceu Emah (40) dan Yayah (35), keduanya ibu rumah tangga di Cadasngampar, sudah merasakannya. Warga yang berasal dari rumah tangga miskin itu tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli elpiji karena bahan bakar memasak dan penerangan petromaks biogas didapat dari kandang sapi. Pengeluaran untuk membeli elpiji 3 kilogram dan listrik pada sebuah rumah tangga bisa mencapai Rp 150.000 per bulan.

Ceu Emah dan Yayah adalah dua dari sekitar 100 warga Cadasngampar yang masuk program uji coba reaktor biogas Gapoknak Sugih Mukti Mandiri. ”Kami baru memiliki satu reaktor dengan kapasitas 50 meter kubik yang mampu mengeluarkan gas untuk 15 kompor dan penerangan listrik 2.000 watt,” kata Ketua Gapoknak Sugih Mukti Mandiri Taryat Ali Nur Sidik, pertengahan Mei.

Sebetulnya reaktor biogas 50 meter kubik ini bisa dipacu menjadi 10.000 watt, tetapi tegangannya tidak stabil. ”Jika kapasitas 2.000 watt, penggunaannya bisa stabil selama 24 jam. Malah reaktor ini merupakan reaktor biogas paling besar yang selama ini diujicobakan di lingkungan peternak sapi di Indonesia,” ujar Dendi Hermadi, penyuluh biogas Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Subang.

Satu reaktor itu juga mampu mengeluarkan gas untuk bahan bakar memasak di empat dapur umum dan penerangan di kandang sapi. Atas kemandirian dan terobosan itu, Pemerintah Provinsi Jabar bersedia membantu penguatan daya reaktor biogas senilai Rp 500 juta untuk delapan reaktor pada 2015.

Bantuan itu dijanjikan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat berkunjung ke Subang pada akhir Maret lalu. Kelompok usaha berbasis warga mandiri yang tak menggantungkan diri pada bantuan pemerintah atau lembaga lain harus terus didorong karena mampu menjadi penggerak ekonomi rakyat. ”Kita harus mendukung kelompok ini,” ucapnya.

Pupuk organik
Inovasi yang dilakukan Gapoknak Sugih Mukti adalah contoh dari upaya kemandirian energi yang kini tengah diwacanakan pemerintah. Energi yang dihasilkan para peternak ini berkelanjutkan karena berasal dari sumber lokal yang tersedia secara terus-menerus.

Secara nasional saat ini kebutuhan gas elpiji 4,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi elpiji di dalam negeri hanya 2,5 juta ton. Hal ini berarti hampir 40 persen dari total kebutuhan elpiji nasional dipenuhi dengan impor. Dengan pertumbuhan penduduk dan konsumsi yang terus naik, sedangkan produksi tak bertambah, ketergantungan terhadap impor elpiji akan semakin tinggi.

”Ini seperti yang terjadi pada minyak bumi,” ujar Direktur Pengusahaan Hilir Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Mohamad Hidayat. Menurut dia, pembangunan jaringan gas bagi rumah tangga mendesak dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi lokal demi mewujudkan ketahanan energi (Kompas, 8/3).

Anggaran subsidi energi tahun 2014 Rp 282 triliun. Ini terdiri dari subsidi untuk BBM, elpiji tabung 3 kg, dan gas cair untuk kendaraan senilai Rp 210 triliun. Subsidi listrik senilai Rp 72 triliun. ”Jika pola Sugih Mukti Mandiri sudah menyebar ke seantero negeri, subsidi sebesar itu bisa dialihkan ke sektor lain,” ujar Dendi.

Setiap hari, 154 peternak Sugih Mukti Mandiri yang memelihara 315 sapi perah itu juga menghasilkan sekitar 6 ton kotoran sapi atau 180 ton per bulan. Dengan takaran satu ember kotoran sapi dan satu ember air, mula-mula diaduk dalam mikser besi lalu dialirkan ke reaktor biogas. Melalui pipa kecil, gas dari reaktor itu dialirkan ke rumah penduduk di atas kandang-kandang sapi itu.

Ampas reaktor itu tidak berbau dan bisa langsung dijadikan pupuk organik. Enam ton kotoran sapi itu potensial ditanami cacing yang pertumbuhannya 10 kali lipat dalam sebulan. Jadi, kalau semua sudah berjalan, potensinya akan menghasilkan 3 ton cacing yang harganya sekitar Rp 2.000 per kg.

”Cacing bisa dijadikan makanan pokok ikan lele. Permintaan lele sangat tinggi dan sudah ada permintaan 8 kuintal per hari,” ujar Yaya Sunarya, Sekretaris Gapoknak Sugih Mukti Mandiri. Harga lele di tingkat petani sekitar Rp 14.000-Rp 15.000 per kg. Biaya produksi bisa ditekan karena makanan pokok jenis ikan yang tahan hama penyakit ini bisa dihasilkan dari kotoran.

Pupuk organik bekas cacing itu volumenya tidak berubah dan menghasilkan pupuk organik bekas cacing (cascing) yang harganya sekitar Rp 40.000 per kg. Jadi, setelah diolah jadi bahan reaktor, 6 ton kotoran sapi yang masih bau itu berpotensi menghasilkan 3 ton cascing yang tidak berbau. ”Unsur hara cascing ini sangat tinggi karena akan menumbuhkan tanaman, terutama sayuran, tiga kali lipat daripada pupuk biasa,” ujar peternak.

Di produk utamanya, setelah berkelompok, 154 peternak sapi perah di lereng timur Gunung Tangkubanparahu ini ternyata bisa mandiri. Selain meningkatkan produktivitas dan kualitas susu sapi, peternak ini mampu menaikkan nilai jual dari Rp 4.800 menjadi Rp 14.000 per liter dari produksi yoghurt.

Gapoknak Sugih Mukti Mandiri kini bisa memproduksi sekitar 3.000 liter susu per hari. Sebanyak 600 liter di antaranya dibuat aneka yoghurt dengan harga rata-rata Rp 14.000 per liter. Kelompok ini juga memproduksi susu segar pasteurisasi. Pemasaran produknya menembus pasar kabupaten/kota se-Jabar.

Oleh: Dedi Muhtadi
Kompas, 13 Juni 2014
Sumber:  http://print.kompas.com
Diupload ulang dari: www.organicindonesia.org

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107