Aliansi Organis Indonesia (AOI), bekerjasama dengan Wehasta Trawas dan Univeritas Narotama Surabaya pada 25 Juni 2011 menggelar talk show bertajuk ‘Pertanian Organik sebagai Budaya Hidup.’ Acara yang merupakan wadah untuk memberi penghargaan, kesepahaman para petani organik, konsumen organik dan pengambil kebijakan di Jawa Timur ini sekaligus menjadi ajang untuk berbagi antar pihak yang memang punya kepedulian terhadap kegiatan pertanian yang ramah lingkungan.
Kegiatan yang digelar di auditorium Universitas Narotama Surabaya ini juga melibatkan banyak pihak dan petani yang datang dari wilayah Kediri, Lamongan, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Banyuwangi. Di ajang ini AOI berkesempatan untuk mensosialisasikan pertanian organik di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan juga membidik Surabaya karena kota ini berpotensi sebagai salah satu pangsa pasar organic yang cukup kuat. Melalui berbagai kegiatan yang telah dilakukan dengan PAMOR di Wilayah JATIM, AOI juga berupaya melakukan berbagai gebrakan organic baik itu melalui seminar, talk show, pelatihan, penjaminan organis, dll.
“Yang cukup penting adalah bagaimana mendorong masyarakat sipil untuk mengkampanyekan pertanian organik, karena ini merupakan dorongan bagi pemerintah untuk segera bergerak. Sedangkan kami di AOI, diminta atau tidak diminta itu sudah kewajiban kami,” kata Rasdi Wangsa, Direktur Eksekutif AOI, ketika ditanya Restu Indah sang pembawa acara mengenai gebrakan-gebrakan yang telah dilakukan AOI selama ini.
“Saya mengandalkan kejujuran supplier dan sertifikat. Dan kalau kita melakukan dengan jujur, tidak susah,” ungkap DR. Ir. Lily Agustina, MS, dosen Universitas Brawijaya Malang, yang juga adalah salah seorang nara sumber di acara tersebut ketika ada yang menanyakan mengenai banyaknya produsen nakal yang dengan seenaknya mencantumkan label organic di produknya. Karenanya beliau menyambut baik kegiatan AOI dan PAMOR di wilayah JATIM yang membantu petani kecil melalui program sertifikasi PAMOR INDONESIA.
Sementara itu, Ahmad Arif SP, Pengurus PAMOR di wilayah Jawa Timur, yang juga menjadi salah seorang nara sumber di acara tersebut mengatakan bahwa yang dihargai dalam sertifikasi adalah kemauan produsen untuk berbuat baik. Beliau memaparkan bahwa penjaminan PAMOR INDONESIA awalnya muncul karena sertifikasi pihak ketiga dirasa tidak melindungi petani kecil. Karenanya AOI membangun PGS (Participatory Guarantee System) yang di Indonesia lebih dikenal sebagai PAMOR INDONESIA . “Siapa yang mau berpikir untuk petani kecil? Kami membangun PAMOR untuk trust. Petani kecil lebih jujur,” katanya di acara tersebut. “Kalau kita membeli dari petani kecil, maka kita membeli produk kejujuran,” tambahnya. (SNY)
Sumber: http://www.organicindonesia.org