Sarasehan Ke-26 | Refleksi BITRA Indonesia
“Masyarakat adalah guru dalam hal membangun dirinya sendiri. Untuk itu masyarakat juga memerlukan proses saling belajar agar dapat merubah nasibnya. Salah satu cara adalah melalui sarasehan ini”. Demikian pesan Ketua Pembina BITRA Indonesia, Ir. H. Soekirman saat membuka Sarasehan ke-26 BITRA Indonesia yang diadakan di Desa Suka Damai Timur, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat.
Wakil Bupati Sergai ini juga menambahkan bahwa sarasehan ini merupakan adat istiadat masyarakat di Indonesia, seperti halnya marsiadapari (dalam masyarakat Batak) atau sambatan (tradisi gotong royong masyarakat Jawa). Pada awal berdirinya, BITRA memang telah melakukan sarasehan untuk menampung aspirasi kelompok masyarakat dampingannya. Dan setiap tahunnya sarasehan dilakukan di berbagai tempat yang berbeda dengan sistem swadaya masyarakat peserta sarasehan tersebut.
“Orang Indonesia bukan orang melancong. Padahal dengan melihat kampung orang lain akan memupuk hubungan yang erat dan menambah wawasan berpikir masyarakatnya. Untuk itu, di masa mendatang, tradisi sarasehan ini harus dipelihara dan dilestarikan sebagai sarana mempererat persaudaraan dan berbagi informasi antar kelompok masyarakat yang ada”. Jelasnya lelaki yang akrab dipanggil Bang Kirman ini.
Dalam acara perkenalan yang sekaligus dijadikan ajang testimony peserta, khusus kelompok simpan pinjam (CU), terungkap ada 1 kelompok yang hanya bermodal bersama kurang dari 1 juta, kini dalam 3 tahun CU Aman Damai tersebut telah berhasil mengembangkan dana berputar sebanyak 2,7 milyar. Ini merupakan kisah sukses yang perlu di khabarkan pada banyak orang bahwa mengelola uang secara mandiri dalam kelompok CU akan mendapatkan keuntungan yang belipat. Partisipasi peseta saat ini terdiri dari 29 Kelompok Tani/CU dan 5 Organisasi Rakyat (OR) turut aktif, baik dalam dialog, diskusi, refleksi maupun evaluasi kinerja BITRA sepanjang tahun 2011. Termasuk juga diskusi rencana program setiap kelompok yang bermitra dengan BITRA yang akan dilakukan tahun 2012. Tak heran diskusi hangat pun bergulir selama pelaksanaan sarasehan, 6-8 Maret 2012 itu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur BITRA Indonesia, Wahyudhi. Menurutnya, sarasehan ini merupakan rutinitas tahunan yang menjadi forum (media) bagi BITRA dan kelompok dampingannya untuk merancang dan melaksanakan program kerja BITRA ke depan. Pun sarasehan menjadi ajang saling tukar informasi dan berbagi ilmu yang tentunya dapat menambah wawasan masyarakat dampingan BITRA dalam hal menjawab permasalahan yang terjadi. Termasuk misalnya orientasi BITRA dalam hal mendorong perubahan program strategisnya untuk ikut serta melakukan konservasi daerah aliran sungai (DAS) dan pembangunan pertanian desa secara terintegrasi, melalui kegiatan positif untuk lingkungan hidup dan ekonomi masyarakat sekitar. Hal ini tentunya dilakukan lewat pendekatan pemberdayaan yang partisipatif melalui partisipatori rural appraisal (PRA). Terpenting adalah, antara BITRA dengan kelompok masyarakat ataupun OR terjalin kerjasama yang harmonis sebagai mitra kerja yang sejajar.
Tahun 2011, kelompok masyarakat yang aktif didampingi BITRA Indonesia 69 kelompok di 5 kabupaten/kota, yakni Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Binjai dan Labuhan Batu Utara. Adapun mengenai isu yang ada, BITRA berupaya mengangkat beberapa isu besar yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat sebagai pijakan untuk membuka cakrawala kesadaran akan hak-hak masyarakat yang selama ini tidak terpenuhi, antara lain: 1. Advokasi (Pembelaan Konflik Agraria & Gender Budgeting); 2. Pertanian Selaras Alam (Kebun Tanaman Campuran-Polikultur dan Pertanian Pangan/Hortikultura Organik); 3. Peningkatan ekonomi keluarga melalui Credit Union (CU); 4. Penelitian Pengembangan/Informasi, Komunikasi dan Teknologi; 5. Pengembangan Produk Pertanian Berbasis Masyarakat; dan 6. Kesehatan Alternatif.
Untuk mengintegrasikan antara pemberdayaan masyarakat yang dilakukan BITRA Indonesia dan yang dilakukan pemerintah sejalan, sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi, para peserta sarasehan juga dibekali materi mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang disampaikan oleh Khairuddin dari BPMDD/BPMDK Langkat; serta Muradi, Sri Ramayani dan Wira dari BPMDD/BPMDK Serdang Bedagai. Diskusi ini kiranya dapatlah menambah pengetahuan para peserta sarasehan tentang perencanaan pembangunan desa.
Selain itu, untuk mempererat suasana kekeluargaan di antara kelompok masyarakat, OR dan BITRA, kegiatan sarasehan ini juga turut dimeriahkan dengan adanya malam hiburan, berupa pemutaran film-film documenter tentang kisah sukses kelompok-kelompok yang maju untuk menyemangati kelompok yang belum maju.
“Meskipun dalam keadaan sakit stroke saya siap mengikuti semua materi, termasuk film dan lagu untuk memeriahkan malam sarasehan ini.” Demikian papar Roma Tarigan, lelaki paruh baya yang tergabung di Serikat Rakyat Binjai Langkat (SERBILA). Pada penghujung acara pada Kamis (8/3) siang, BITRA Indonesia juga tak lupa mengajak para peserta sarasehan untuk sejenak memperingati Hari Perempuan Internasional yang ke-101. (jc)