TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Lebih Untung, Petani pun Melirik Jengkol

14/08/2016 , ,

JENGKOL – Seorang petani menunjukkan buah jengkol yang baru dipetiknya dari pohon yang ditanam secara tumpang sari dengan karet. SuaraTani.com-iwan

SuaraTani.com – Langkat| Tahun 2000-an, banyak masyarakat rela menebang pohon jengkolnya karena dianggap tidak bernilai dan mengganggu pertumbuhan karet sebagai komoditas utamanya.  Kini, anggapan itu dianggap salah karena naiknya harga jengkol dan disaat yang sama harga karet rendah.

Suparno, petani di Dusun Damar Itam Desa Mekar Makmur Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kepada SuaraTani.com, Senin (8/8), mengatakan saat ini dia mulai menanam kembali tanaman jengkol.

“Sekarang ini, harga jengkol lebih menguntungkan daripada karet. Dan, saya menanam tanaman jengkol secara tumpang sari,” jelasnya.

Saat ini, harga jengkol yang sudah dikupas di tingkat petani berkisar Rp 15.000 per kilogram (kg). Sedangkan jengkol yang belum dikupas harganya Rp 5.000 per kg.

“Di musim trek seperti sekarang ini ditambah musim kemarau panjang yang ditandai dengan minimnya curah hujan produksi jengkol hanya berkisar 50 kg per pohon. Sedangkan ketika musim penghujan atau dengan curah hujan mencukupi, produksinya bisa naik menjadi 1,2 ton per pohon,” jelas Suparno.

Saat ini, Suparno masih menanam lima pohon jengkol yang ditanamnya di antara tanaman karet miliknya. Dan, dia akan memperbanyak lagi tanaman jengkolnya mengingat harga getah karet saat ini anjlok. “Sekarang saya lagi melakukan pembibitan tanaman jengkol,” kata dia.

Suparno mengatakan, pemahaman petani terhadap jengkol kini sudah berubah. Dari sebelumnya dianggap tak lebih berharga dari karet, petani mulai menanami jengkol biarpun karet tetap dipertahankan.

Memang kata dia, ditahun 2000-an, banyak petani menebangi tanaman jengkolnya karena merasa tanaman karet lebih menguntungkan. Selain itu, tanaman jengkol juga dapat mempengaruhi produksi getah karet, menjadi lebih sedikit dan sebaliknya.

“Makanya, pemilik tanaman jengkol memilih menebangnya daripada membiarkannya hidup berdampingan dengan tanaman karet. Sebagian petani menjual pohonnya untuk diambil kayunya meskipun harganya sangat murah. Untuk 8-10 pohon jengkol harganya hanya Rp 800.000 saja,” jelasnya.

Tapi dengan harga jual jengkol kupas sekarang ini Rp 15.000 per kg di tingkat petani, bertanam jengkol sudah lebih menguntungkan dibanding karet meskipun usia tanam jengkol mulai berbuah paling cepat berumur 7 tahun. “Jengkol ini untuk investasi jangka panjang. Artinya, kalau bisa tumpang sari, di saat harga karet cuma Rp 6.750 per kg, kita pilih jengkol lah,” katanya.

Sementara itu, Suep Manto Bangun dari Kelompok Tani Usaha Bersama, di Dusun Damar Itam Desa Mekar Makmur mengatakan, saat ini petani sudah mulai membuat pembibitan tanaman jengkol untuk memenuhi permintaan bibit jengkol yang mulai banyak.  “Harapannya, petani bisa tetap mendapatkan untung ketika harga karet rendah. Bisa saling mengisi lah antara jengkol dana karet,” kata Suep. * (iwan)

Sumber: http://suaratani.com/news/headlinenews/lebih-untung-petani-pun-melirik-jengkol

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107