Memasuki usia ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia tentu saja selain ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kemerdekaan, patut juga direnungkan dan disadari bersama bahwa iklim kemerdekaan belum secara nyata memerdekakan diri anak bangsa dari belenggu keterpurukan dan keprihatinan. Kemerdekaan yang diyakini sebagai jembatan emas menuju terwujudnya tujuan-tujuan nasional Indonesia juga masih belum maksimal disadari.
Penyelenggara negara tidak memiliki kesadaran akan tanggung jawab dan kewajibannya terhadap hak asasi manusia (HAM) sehingga sikap “setengah hati” mengelola negara dan pemerintahan acapkali terjadi. Soliditas pemimpin bangsa kita juga semakin menampakkan potret buruk karena masifnya korupsi politik di seputaran mereka. Perilaku culas dan semangat memperkuat basis kepentingan kelompok mendominasi perilaku berkehidupan berbangsa kita.
Prinsip bernegara dan berpemerintahan secara baik dan bertanggung jawab hanyalah doktrin mati yang berhenti di level normatif belaka dan bergeser menjadi sekadar teriakan pencanangan berbalut seremonial dan rutinitas. Kesadaran akan tanggung jawab bernegara dan bepemerintahan yang baik itulah maka di usia 66 tahun kemerdekaan Indonesia patutlah kita semua melakukan beberapa hal mendasar bagi Indonesia, yakni pertama senantiasa menjunjung tinggi rekatan kebangsaan Indonesia melalui Pancasila sebagai ideologi nasional dan common denominator (titik kesamaan bersama) seluruh anak bangsa. Kedua senantiasa menjadikan cita-cita dan tujuan nasional sebagaimana digariskan dalam Pembukaan UUDNRI Tahun 1945 sebagai peta jalan dan arah serta masa depan keindonesiaan kita.
Ketiga, senantiasa menyadari amanah kemerdekaan dan dengan usaha sadar pula mampu merawat kemerdekaan itu dengan memusnahkan segala perilaku culas dan koruptif dalam kepengelolaan negara dan pemerintahan. Terakhir, memiliki keberanian dalam keteladanan dan kesederhanan sebagai penyelenggara negara dan pemerintahan.
Sederhana memang. Begitupun, hal ini hanya bisa terealisasi baik jika pemimpin bangsa menempatkan dirinya terdepan dan mampu menjadi panutan. Jika tidak, enerji kebangsaan kita akan terus terkuras menyiasati kebodohan-kebodohan para pemimpinnya. Inilah sesungguhnya penghianatan terhadap nikmat kemerdekaan Indonesia. Oleh karena inti kemerdekaan bagi sebuah negara adalah kemampuan memerdekaan anak-anak bangsanya dari kebodohan dan kemiskinan serta perilaku culas dan koruptif para pemimpinnya, maka selain rakyat harus benar-benar sadar dalam menentukan pemimpin pilihannya dengan benar, juga seluruh proses penyelenggaraan negara dan pemerintahan harus dikawal/diawasi untuk mewujudkan tujuan nasional Indonesia© Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia & Sejahtera Rakyatnya. (rel)
MAJDA EL MUHTAJ
Kepala Pusham Unimed
Sedang berada di Thailand dalam rangka mengikuti
Konferensi Internasional Human Rights & Human Development, 17-20 Agustus 2011