Kehancuran sumber daya pertanian kita semakin parah. Lahan sawa telah kehilangan kesuburan akibat penggunaan pupuk kimia yang dosisnya semakin hari terus meningkat. Penggunaan pupuk kimia secara rutin menyebabkan tanah menjadi keras.
Unsur-unsur tertentu dalam pupuk kimia juga akan membunuh mikroorganisme dan memicu penyumbatan pori-pori tanah sehingga udara dan sinar matahari semakin sulit menembus. Demikian halnya penggunaan pestisida kimia dalam pemberantasan hama. Bahan kimia dalam pestisida tidak hanya membunuh musuh alami tanaman, akan tetapi juga membunuh semua mahluk yang ada di sekitarnya.
Akibatnya, keseimbangan ekologi terganggu dan rantai kehidupan berantakan. Hama tanaman tidak saja semakin imun terhadap pestisida, tetapi juga bermutasi secara genetis, menjelma menjadi hama baru yang lebih ganas. Fenomena ini sangat mudah kita temukan di desa.
Pertanian organik adalah jawaban dari persoalan itu. Pertanian organik akan mengembalikan semua proses kembali ke alam. Musim bertani akan dihitung berdasarkan “pranata alam”.
Artinya, siklus musin yang berkaitan dengan masa hidup dan berkembangnya musuh alami tanaman dihitung sehingga diperoleh perkiraan masa puncak pertumbuhan hama, kemudian dengan mudah bisa dihindarkan.
Demikian halnya dengan perputaran musim hujan dan kemarau yang akan mempermudah petani untuk memutuskan kapan saat yang tepat untuk turun tanam.
Sarana pendukung produksi seperti pupuk dan pengendalian hama tanaman dipersiapkan dengan memanfaatkan campuran kotoran ternak, mikroorganisme alami, dedaunan, dan buah-buahan tertentu dicampur menjadi adonan yang menghasilkan pupuk organik dan pestisida nabati. Dengan cara ini sistem pertanian tidak saja lebih sustainable, akan tetapi hasilnya lebih sehat, bergizi, dan ramah terhadap lingkungan.
Wahyudhi (Direktur Eksekutif BITRA Indonesia).
Sumber: Harian Tribun Medan, 27 Juni 2012 (Halaman 3).