Satu di antara persoalan produksi pertanian selaras alam (PSA), istilah yang digunakan oleh Yayasan BITRA Indonesia untuk menyyebut pertanian organik, adalah sulitnya pemasaran. Sehingga, tak jarang, produksi non residu kimia ini terpaksa dijual sejajar dengan produk konvensional.
Sebagai solusi, produk akhirnya dipasarkan untuk komunitas tertentu atau di lingkungan kerja saja, sehingga pengembangan produk selaras alam kurang berkembang maksimal.
namun masalah pemasaran itu sudah mulai teratasi dengan berdirinya Jaringan Pemasaran Pertanian Selaras Alam (Jappsa), sebuah ritel modern yang menawarkan berbagai produk pertanian organik, bertempat di ruko Gideon Center, Jl Setia Budi No 144, Tanjung Sari, Medan.
Ketua Badan Pengurus BITRA, Wahyudhi, mengungkapkan hal tersebut saat diskusi di Tribun Medan, di jalan Wahid Hasyim No 37, Medan, beberapa hari lalu. Didampingi Youone Simanjuntak, manager Jappsa dan sejumlah staf BITRA lainnya, diantaranya Jumarni, Rustam Ependi, Anta Tarigan, Erika Rosmawati, dan Santi selian, Wahyudhi mengatakan, saat ini mengonsumsi makanan organik menjadi trend, sehingga penyediaan produk organik melalui Jappsa, diharapkan dapat menjawab kebutuhan tersebut.
Akan halnya kualitas produk, Simanjuntak mengatakan, quality control dilakukan dengan cara, hanya memasok produk dari petani dampingan LSM jaringan yang tersebar di sejumlah kabupaten, misalnya, Serdang Bedagai, Langkat, Simalungun, Deli Serdang, Tanah Karo dan daerah lainnya.
“Untuk saat ini produk kami sebagian besar memang baru beras organik, untuk sayuran organik tidak tiap hari tersedia, baru 2 kali dalam seminggu, ada juga produk makanan olahan organik yang kami datangkan dari luar Sumut (dari Jawa),” jelasnya.
Iya mengaku, saat ini produk yang dijual memang belum memiliki sertifikasi organik, namun sudah pernah diuji oleh laboratorium dua lembaga, dan dinyatakan bebas dari residu kimia.
Setiap bulannya, Jappsa mampu memasarkan beras antar 2 – 3 ton, terdiri dari paritas pandan wangi, ciherang, kuku balam dan ramos. Beras dijual lebih mahal Rp 3,000 – Rp 3,500 perkilogram, dibanding beras konvensional.
“Kuku balam kita jual Rp 12,500,- perkilogram. Biasanya yang telah makan beras PSA ini malas beralih pada beras konvensional, karena memang rasanya lebih enak dan kandungan gizinya juga tentu lebih baik,” ujar Youone Simanjuntak.
Sementara, staf BITRA, Jumarni mengatakan, pengembangan pertanian organik ini bakal meningkatkan pendapatan petani, karena produksinya dijual lebih mahal.(cr2)
Sumber: Harian Tribun Medan (22 Juni 2012)