TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Hidup Selaras Alam Tak Harus Mahal

11/10/2013 , ,

image

Pola industrialisasi yang memproduksi makanan mengandung zat kimia berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan dalam jumlah masif mengubah budaya konsumsi masyarakat. Pola produksi itu membuat pusat-pusat perbelanjaan dibanjiri produk mengandung bahan kimia berbahaya itu sehingga masyarakat sulit memperoleh komoditas organik, yang jauh dari pengaruh zat kimia.

Sementara itu, kalaupun di sejumlah pasar swalayan terdapat makanan organik, gerainya sangat terbatas. Harganya pun melambung.

Kini komunitas dan produsen produk organik sudah bermunculan, bahkan semakin tumbuh. Mereka di antaranya berhimpun dalam wadah Komunitas Organik Indonesia (KOI) yang berupaya mempertemukan masyarakat yang ingin dan hendak menerapkan pola hidup selaras alam.

Dengan keberadaan komunitas itu, masyarakat dapat langsung membeli produk dari produsen sehingga memotong ongkos. Bahkan, siapa pun saat ini bisa menghasilkan produk organik sendiri dengan biaya terjangkau, seperti ditawarkan dalam Organic, Green, and Healthy Expo of Indonesia 3 di lapangan parkir Studio Orange Kompas TV (belakang Bentara Budaya Jakarta), Jalan Palmerah Selatan. Pameran dibuka Kamis lalu dan berakhir Minggu (6/10).

Dari 132 stan yang ada, pengunjung bisa membeli produk organik, mengonsumsi makanan organik, hingga belajar bertanam secara organik dan hidroponik. ”Siapa saja bisa membudidayakan tanaman organik, termasuk di lahan sempit seperti pekarangan rumah,” kata Soeparwan Soeleman (55), ecopreneur dan organic lifestyle advisor yang juga peserta ekspo.

Biaya membudidayakan tanaman dan sayuran secara organik pun tidak mahal. Seluruh infrastruktur yang diperlukan ada di sekitar rumah. Misalnya, memanfaatkan sampah rumah tangga, seperti kotak susu, toples bekas, dan kaleng bekas sebagai media tanam.

Selain itu, pupuk pun dapat menggunakan sampah organik di pekarangan rumah. Tanah sebagai media tanam juga tersedia di pekarangan rumah. ”Semua ada di sekitar kita, tak perlu mengeluarkan biaya besar. Hanya saja selama ini tidak tahu memanfaatkannya saja,” katanya.

Salah seorang pengunjung pameran, Rini (37), sangat tertarik menanam sayuran organik di pekarangan rumahnya. Selama ini ia kesulitan memperoleh sayuran organik.

Rini ingin bercocok tanam sendiri, tetapi tak tahu cara bertanam secara hidroponik. ”Bisa lihat langsung di sini. Biayanya pun tak mahal,” katanya.

Ketua KOI Christopher Emille Jayanata mengatakan, gaya hidup sehat memang tak harus mahal. Pameran kerja sama KOI-Kompas Gramedia itu menjembatani produsen-konsumen selain bentuk penyadaran dampak besar dari hidup ramah lingkungan dan gaya hidup sehat.

Di pameran, harga beras merah Rp 13.000, sedangkan di supermarket mencapai Rp 18.000. Pengunjung pun disuguhi berbagai informasi yang inspiratif tentang hidup selaras alam, yang tak hanya menyehatkan, tetapi juga berdampak besar bagi bumi. (K13)

Sumber: http://print.kompas.com

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107