TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Hari Pangan Dunia: Asia Selatan Kawasan Paling Lapar

16/10/2012 ,

Angka-angka yang dirilis oleh International Food and Policy Research Institute dalam rangka Hari Pangan Dunia mengungkapkan, Asia Selatan adalah kawasan paling lapar di dunia.

Menurut Global Hunger Index 2012, yang diproduksi bersama oleh Welthungerhilfe dan Concern Worldwide, 20 negara mempunyai tingkat kelaparan yang “sangat mengkhawatirkan” dan Asia Selatan mempunyai angka regional tertinggi 22.5. Kawasan Sahara di Afrika mempunyai angka regional 20.7.

Namun Institut itu mengemukakan, angka Asia Selatan itu 26 persen lebih rendah dari yang tercatat dalam indeks 1990, “yang mengindikasikan perbaikan kondisi kelaparan di kawasan itu.”

Global Hunger Index mencerminkan data 2005-2010 dan menggabungkan tiga indikator yang sama penting: proporsi orang-orang yang kekurangan gizi, proporsi anak-anak balita yang dibawah berat normal, dan angka kematian anak-anak balita.

Bangladesh, India, dan Timor Leste yang paling banyak mempunyai anak balita yang dibawah berat normal, yaitu lebih dari 40 persen di semua ketiga negara itu.

Angka keseluruhan Cina lebih rendah yang yang diperkirakan, setelah mencapai kemajuan signifikan dalam menurunkan tingkat kelaparan dan kekurangan gizi.

Ini dikatakan berkat “komitmen kuat untuk mengurangi kemiskinan, jaringan kesejahteraan sosial, intervensi gizi dan kesehatan, dan membaiknya akses ke air bersih, sanitasi dan pendidikan”.

Dirilisnya indeks tadi bertepatan dengan Hari Pangan Dunia, yang tahun ini bertemakan:”koperasi pertanian – kunci untuk memberi makan dunia.”

Sumber: http://www.radioaustralia.net.au

 

Harapan Baru Masyarakat Kelaparan di Hari Pangan Sedunia

Tema Hari Pangan Dunia tahun ini adalah “Koperasi Pertanian, kunci utama untuk memberi makan dunia.”

Merayakan Hari Pangan Sedunia yang berlangsung hari ini, The United Nations World Food Programme (WFP/Badan Pangan Dunia) menegaskan kembali komitmennya untuk mengakhiri kelaparan dalam kehidupan. Untuk mewujudkannya, WFP dibantu dengan beragam kelompok masyarakat, masyarakat sipil, pemerintah dan sektor swasta.

Keprihatinan WPF sangat beralasan, sebab dalam periode satu tahun kemarin, masyarakat di hampir setiap benua telah merasakan dampak buruk dan tingginya harga pangan, bencana alam dan keadaan darurat akibat perubahan iklim serta konflik yang semakin memperburuk kelaparan dan kemiskinan.

Namun, dengan bantuan sejumlah mitra WPF di seluruh dunia, ada harapan bagi jutaan orang miskin dan kelaparan di seluruh dunia.

“WFP menghadapi banyak tantangan karena kami bekerja untuk memastikan bahwa masyarakat miskin kelaparan menerima makanan yang tepat pada waktu yang tepat,” kata Direktur Eksekutif WFP Ertharin Cousin, seperti yang tertulis di rilis yang diterima Beritasatu.com.

“Dari wilayah Sahel yang dilanda kekeringan hebat untuk yang ketiga kalinya dalam beberapa tahun terakhir, hingga kerusuhan di Timur Tengah, juga kepada masyarakat yang mengalami kenaikan harga pangan karena mahalnya makanan pokok impor, WFP terus berupaya untuk memberikan bantuan pangan yang dapat menyelamatkan jiwa kepada mereka yang paling membutuhkan,” tambahnya.

Pada tahun 2011, WFP telah memberikan bantuan ke hampir 100 juta orang di 75 negara, termasuk lebih dari 11 juta anak-anak yang mendapat dukungan nutrisi khusus dan 23 juta anak-anak yang menerima makanan sekolah atau makanan untuk dibawa pulang ke rumah.

“Di Indonesia, WFP bertujuan untuk memberikan dukungan yang bersifat katalistis kepada Pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan dan gizi bagi semua rakyat Indonesia. WFP berkolaborasi dengan bersama Pemerintah berupaya membangun fondasi bagi Indonesia untuk menjadi juara dunia dalam perang melawan kelaparan,” kata WFP Indonesia Country Director, Coco Ushiyama.

“Komitmen kami mencakup tiga bidang utama yang terkait dengan keamanan pangan – dalam hal analisis dan pemetaan, manajemen bencana dan mengurangi kekurangan gizi. Strategi pelaksanaan program WFP di Indonesia dilakukan dengan pendekatan dua arah, yakni menanggapi kebutuhan pangan dan gizi secara langsung diantara masyarakat yang paling rentan, sekaligus berinvestasi dalam pengembangan kapasitas yang mendorong kepemilikan lokal dan keberlanjutan,” terangnya.

Tema Hari Pangan Dunia tahun ini adalah “Koperasi Pertanian, kunci utama untuk memberi makan dunia.” WFP bekerja sama dengan koperasi pertanian dan organisasi petani di banyak negara di seluruh dunia, memberikan pelatihan untuk membantu meningkatkan kualitas tanaman, memperkuat praktik bisnis dan meningkatkan akses pasar. Secara khusus, program percontohan WFP Purchase for Progress (P4P) telah bekerja sama dengan lebih dari 800 organisasi petani, yang terdiri dari lebih dari satu juta petani kecil, di 20 negara untuk membangun kapasitas dan memaksimalkan dampak pembangunan pengadaan makanan.

“Koperasi dan terutama perempuan dalam koperasi adalah agen utama perubahan,” kata Ushiyama.

WFP merayakan Hari Pangan Sedunia bersama dengan badan-badan PBB lain dalam urusan pangan, the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) dan the International Fund for Agricultural Development (IFAD). Tiga badan PBB yang berbasis di Roma ini sering bekerja sama, berinvestasi dan meningkatkan produksi petani kecil serta meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi.

Penulis: Teddy Kurniawan
Sumber: http://www.beritasatu.com

 

Sumber Hayati Lokal Pangan
Oleh V Priyo Bintoro

Jumlah penduduk dunia dari tahun ke tahun meningkat dan membawa konsekuensi peningkatan kebutuhan pangan. Bisa jadi, cukup tersedia jumlah pangan namun belum tentu semua bisa memperolehnya karena keterbatasan daya beli atau ketidakmerataan distribusi. Fenomena itu juga terjadi di Indonesia. Karenanya, tepat Badan Dunia Pangan dan Pertanian (FAO) menetapkan tema Hari Pangan Sedunia 2012, ”Agricultural Cooperatives-Key to Feeding the World”.

Kerja sama pertanian, termasuk di Jateng, bisa dilakukan lewat berbagai cara asalkan bermuara pada peningkatan ketahanan pangan dan bisa menghapus kelaparan (kekurangan pangan). Menjadi keharusan bagi semua pemangku kepentingan, khususnya kepala daerah di Jateng, sebagai salah satu lumbung pangan, memiliki kepedulian tinggi dan pemahaman komprehensif terhadap upaya pencegahan kekurangan pangan.

Pertanian dalam arti luas bisa meliputi tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, yang seharusnya digarap se-cara sinergis. Pangan yang berasal dari sektor-sektor itu, baik langsung maupun tidak langsung, secara ideal bisa saling mendukung.

Konsep koperasi unit desa (KUD) sesungguhnya merupakan salah satu gerakan yang diharapkan oleh tema Hari Pangan Sedunia tahun ini. Tahun 1980-an, pemerintah menggenjot KUD supaya menjadi pelaku andal perekonomian. Pada dekade itu, pelaksanaan proyek pusat pelayanan koperasi (PPK) di beberapa kabupaten dimaksudkan untuk mengakselerasi perkembangan KUD.

Namun, proyek ini tak banyak membuahkan hasil seperti diharapkan, kemungkinan besar antara lain karena tidak lahir dari bawah sehingga KUD tak merasa memiliki. Ditambah, banyak penyelewengan di KUD atau PPK. Saat ini masih ada sejumlah koperasi pertanian yang eksis, bahkan tumbuh dengan amat sehat, misalnya Koperasi Persusuan SAE Pujon, Jatim.

Pemenuhan pangan yang terus me-ningkat, mendorong upaya memproduksi pangan yang lebih singkat atau lebih produktif. Contohnya, budi daya ayam broiler yang hanya butuh 4-5 minggu untuk menghasilkan 1-1,5 kg daging. Bandingkan dengan ayam lokal, dengan perlakuan yang sama hanya bisa menghasilkan kurang dari 0,5 kg daging.

Ayam ras, baik petelur (layer) ataupun pedaging (broiler), merupakan rumpun atau galur ayam impor. Sampai saat ini, bibit ayam (day old chick) 100% bergantung dari impor. Pemangku kepentingan di dalam negeri tak menguasai nenek-moyangnya (grand parent stock).

Sumber Hayati Lokal
Biasanya, jenis tanaman atau ternak dengan produksi tinggi dan dengan waktu singkat serta stabil merupakan tanaman atau ternak hasil seleksi genetis. Hal ini mengakibatkan sumber tanaman atau ternak lokal tidak mendapat perhatian, semisal kambing gembrong (asli Bali) yang tinggal 15 ekor, sapi jawa brebes, ayam kedu, serta itik magelang dan tegal. Demikian pula gayam, benguk, dan tanaman lain yang terdesak tanaman yang lebih cepat dan lebih banyak produksinya.

Tanaman atau ternak lokal tersebut seharusnya diperhatikan. Kalau tidak, bisa mengalami erosi atau pencemaran genetik, dan akhirnya punah. Untuk itu, perlu pelibatan unit penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi yang terkait, dalam upaya pelestarian atau konservasi terhadap tanaman atau ternak semacam ini.

Dengan terkonservasinya rumpun tanaman dan ternak lokal itu, pemanfaatannya bisa berkesinambungan mengingat proses pemuliaan pun perlu sumber daya genetik. Keunggulan rumpun tanaman atau ternak lokal tersebut meliputi daya adaptasi yang baik, dan sifat reproduksi yang baik karena seleksi alam.

Karena itu, peningkatan produksi pangan jangan melupakan sumber daya genetik lokal yang belum tentu kalah produktif ketimbang sumber daya genetik pendatang. Indonesia sebagai negara nomor dua terbesar keanekaragaman hayatinya setelah Brasil, harus bisa menjaganya. Lebih baik lagi bila bisa memanfaatkan kekayaan itu untuk pemenuhan pangan lokal, bahkan nasional. (10)

– Prof Dr Ir V Priyo Bintoro MAgr, Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, anggota Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com
Ilustrasi Logo: http://ekonomi.kompasiana.com

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

https://www.youtube.com/watch?v=Yg5mzpjmOrI

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107