“Desa adalah sumber kehidupan. Namun kini kehidupan petani, khususnya petani tanaman pangan, sangat memprihatinkan kalah dengan petani tanaman keras. Generasi muda juga tidak lagi ingin menjadi petani karena tidak ada harapan di dunia pertanian”. Demikian terungkap dalam acara peluncuran buku yang berjudul “Serdang Bedagai Kampung Kami, Kehidupan & Keberadaan Masyarakat Desa di Sergai”, karya Ir H Soekirman yang diselenggarakan oleh BITRA Indonesia bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) di Aula Dr DH Penny, Fakultas Pertanian USU, Senin (4/3).
“Buku ini adalah gagasan agar desa bisa menjadi jembatan dalam proses pembangunan,” kata Muchyan Tambusai, panelis dalam bedah buku tersebut. Peluncuran perdana buku karya keempat Soekirman dibuka Dekan Fakultas Pertanian USU Prof DR Ir Dharma Bakti, MS dan diikuti sejumlah aktivis NGO, akademisi dan mahasiswa. Dikatakannya, “buku tersebut cukup lengkap dari sisi data termasuk sejarah desa”. “Mungkin karya ini lahir dari pengalaman empirik Pak Soekirman selama memimpin di Kabupaten Serdang Bedagai,” kata Muchyan.
Menurut Muchyan, selama 3 tahun lebih menjadi kepala Kantor Pembangunan Masyarakat Desa Pemprovsu, Ia telah mengunjungi 1.027 desa dari 5.400 desa di Sumatera Utara. Desa-desa yang dikunjungi Muchyan jauh lebih parah dibanding dengan desa yang ditulis Soekirman. Muchyan pernah mengunjungi sebuah desa yang tidak bisa dilalui kendaraan dan tidak memiliki listrik. Warga desa hanya bisa mendengarkan siaran radio RRI menggunakan baterai yang antenanya harus dipasang di tiang bambu yang tinggi.
“Pak Soekirman agak beruntung karena desa-desa di wilayahnya sudah masuk listrik dan merasakan pembangunan. Apalagi sejak Ia memimpin disana,” kata Muchyan.
Dekan Fakultas Pertanian USU Prof DR Ir Dharma Bakti MS, yang menjadi panelis kedua menyoroti bagaimana agar warga desa betah tinggal di desanya dan tidak pindah ke kota. Penyebab utama adalah tidak ada harapan dan masa depan yang baik bagi para petani karena hampir seluruh bahan pangan diimpor.
“Beras, kedelai bahkan singkong kita impor yang harganya jauh lebih murah dari produk petani kita,” kata Dharma Bakti. Disinilah seharusnya peran pemerintah melindungi para petani agar mereka tetap memiliki harapan dalam bekerja di desa. Tidak mengherankan jika lahan pertanian pangan akan beralih ke pertanian keras seperti sawit. Bahkan warga desa juga akan lebih senang menjadi tenaga kerja indonesia (TKI) diluar negeri ketimbang menjadi petani.
Ia mengajak pemerintah dan kampus bekerjasama agar bisa meningkatkan kesejahteraan petani di desa. “Harus ada terobosan dan penelitian agar petani padi kita bisa panen 4 kali setahun tidak seperti selama ini yang hanya 2 kali setahun. Dengan begitu petani kita akan meningkat kesejahteraannya sekaligus memancing banyak orang mau menjadi petani,” katanya.
Tetapi ia bangga dengan Soekirman yang masih meluangkan waktunya yang padat memimpin sebuah kabupaten dengan menulis. “Langka seorang pejabat mau menulis pengalamannya menjadi sebuah buku seperti ini,” tandasnya.
Sebelumnya, Soekirman mengatakan, buku tersebut adalah sumbangsihnya pada warga desa di kabupaten Serdang Bedagai sekaligus menjadi database. Ia menulis buku tersebut terinspirasi dari program one village one product yang mengajak satu desa menghasilkan satu produk yang dapat mensejahterakan warganya. “Namun karena tidak ada perbedaan produk yang mencolok dari masing-masing desa di serdang Bedagai, sehingga tidak bisa dituliskan,” kata Soekirman.
Buku setebal 691 halaman ini memuat 243 desa dari 17 kecamatan yang ada di Serdang Bedagai. Selain berisi data demografi, seperti jumlah penduduk dan luas wilayah. Buku ini juga menampilkan sejarah lahirnya sebuah desa dan nama para kepala desa yang pernah memimpin.
Buku ini, menurut Soekirman, disusunnya selama dua tahun dibantu Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Sergai dan diedit DR Purwadi. Ia berharap kehadiran buku ini dapat memberikan gambaran untuk mendorong pembangunan desa sesuai kebutuhannya.
“Tidak pernah ada konflik besar di desa-desa Sergai, karenanya saya beri judul kehidupan dan keberadaan masyarakat desa Sergai,” katanya. (isw)
Diolah dari sumber: http://www.gus-sukirman.com