Jika dulunya Pasar Bengkel identik dengan oleh-oleh berupa dodol, sekarang daerah di Perbaungan ini mempunyai ikon baru oleh-oleh. Nama oleh-oleh tersebut adalah cakar ayam. Makanan ringan satu ini sekarang menjadi salah satu oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari daerah Perbaungan. Oleh-oleh yang diolah oleh industri rumah tangga ini bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi rakyat yang bertahan dari krisis ekonomi dan membantu meningkatkan taraf hidup pelakunya. Seperti juga halnya usaha ekonomi atau industri rumah tangga lainnya.
Seperti usaha yang dikelola oleh Tiamsah. Di pinggiran rel kereta api, di sebuah bangunan sederhana ia bersama beberapa perempuan lain asyik memasak, membentuk, dan memotong ubi. Aroma gula aren kental menusuk hidung. Di tempat inilah Tiamsah membuka usaha dan mengolah cakar ayam dagangannya. Makanan ini bentuknya memang tidak sesuai dengan namanya. Terbuat dari ubi rambat dicampur gula merah, makanan ini sekarang menjadi popular di kalangan masyarakat Serdang Bedagai khususnya.
“Usaha kami sudah jalan 1 tahun dengan 10 orang karyawan. Syukurnya, penggemar usaha kita sudah banyak,” ujar Tiamsah. Usaha yang diberi nama ‘CAKAR AYAM MONICA LUBIS’ ini juga menerima pesanan sebanyak 800 s/d 1.500 bungkus dan didistribusikan ke luar daerah. “Kabanjahe, Pancur Batu, Batangkuis, Tembung, Sibolga, Kota Pinang. Kami juga sudah pernah mengirimnya ke luar provinsi, seperti di Aceh, dan juga Malaysia,” tambah Tiamsah
Usaha yang beralamat di Pasar Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Deli Serdang ini buka sejak pagi hari dan menutup toko saat menjelang Maghrib. “Tergantung pesanan. Kalau pas puasa kayak gini, jam 4 biasanya kami udah tutup. Pernah juga sampai jam 8 sampai jam 9 kalau pesanan lagi banyak,” cerita istri dari laki-laki bermarga Lubis tersebut.
“Di sini kami sebagai produsen. Kalau bahan-bahan pokoknya, kami pesan ubi gunung dari daerah Brastagi, Kabanjahe, dan Siborong-borong,” kata Tiamsah saat ditanya mengenai bahan dasar cakar ayam yang diproduksi usahanya. Alasan ia memesan dari luar daerah Sergai karena kualitas ubi di daerah tersebut mempunyai kadar air yang tinggi. “Kami biasanya pesan mulai dari 300 kg yang mau diolah dan biasanya jumlah segitu bisa membuat 650-700 bungkus. Pernah sampai 1 -2 ton dalam jangka waktu seminggu tergantung dengan pesanan,” lebih lanjut perempuan yang mempunyai 3 orang anak ini bercerita.
Teknik pembuatannya juga sederhana. Tiamsah menjelaskan kalau ubi rambat dicuci sampai bersih terlebih dahulu. Kemudian diparut dan digoreng dalam kuali hitam besar. Masih memakai sistem tradisional, di atas tungku dari batu bata, ubi-bi itu digoreng oleh dua orang wanita. “Setelah digoreng, ubi-ubinya langsung dicampur gula aren dan dicetak pakai mangkuk kecil ini,” ujar Tiamsah. Ia juga menjelaskan penggunaan semacam busa yang dipakai sebagai tempat alas cakar ayam yang sudah dibentuk. “Ini gunanya untuk menyerap minyak dari kue. Setelah dingin, barulah kue dimasukkan ke plastik. Ini supaya kue tidak amem,” kata Tiamsah sambil tersenyum. Keistimewaan lain dari jajanan yang dijual perempuan ini adalah cakar ayam buatannya tidak menggunakan bahan pengawet dan tahan sampai sebulan.
Harga yang ditawarkan juga beragam. Untuk harga ecerannya, cakar ayam Monica Lubis dihargai lima ribu rupiah. “Kalau harga dalam partai ribuan, per bungkus kita kasih tiga ribu enam ratus, dan untuk partai tolak kita kasih’ harga biasanya 4 ribu sampai empat ribu lima ratus rupiah per bungkus,” terang Tiamsah lagi.
Dengan adanya usaha industri rumah tangga seperti ini, Tiamsah bisa menopang perekonomian keluarganya, meningkatkan ekonomi keluarganya, bahkan membantu ekonomi beberapa keluarga lain yang menjadi pekerjanya. (Andi)