BOF3 & FHI akhirnya resmi dibuka pada 22 Juni 2013. Prosesi sambutan dari Sabastian Saragih (Presiden Aliansi Organis Indonesia-AOI), Bambang Ismawan (Pembina Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia-AKSI), Achmad Ru’yat (Wakil Walikota Bogor), Sugianta Msi (Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor-IPB) dengan pemukulan kendang bersama.
Dalam sambutannya, Sabastian Saragih berharap ajang BOF & FHI bisa menjadi media untuk mempertontonkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memproduksi produk pertanian yang bersahabat dengan alam dan tidak melanggar hak asasi manusia.
“Dan secara pasti dari tahun ke tahun BOF akan semakin dibanjiri produk pertanian organik, konsumen dan pedagang produk pertanian organik. Di masa-masa mendatang BOF juga akan dibanjiri oleh importir produk pertanian organik dari negara-negara lain,” lanjut Bastian.
Sementara Bambang Ismawan, yang adalah Pembina AKSI menyatakan bangga telah mendukung BOF3 & FHI. “Kami ingin kegiatan ini tidak hanya berlangsung 1-2 kali, namun berturut-turut. Bahkan lebih sering lagi tidak hanya 1 tahun sekali dan lebih kreatif. Sehingga budaya organik bisa melekat dan menjadi bagian hidup kita,” ungkap Bambang.
Sedangkan Sugianta Msi, Wakil Rektor IPB mengatakan pengalamannya bahwa menurut Pastor Agatho (Pengembang pertanian organik di Cisarua, Bogor), organik berarti membahagiakan semua mahkluk hidup dan sekitarnya. Tidak ada yang ditumpas sehingga semuanya bisa saling memberi manfaat. Sehingga organik yang diwariskan oleh nenek moyang ini bisa memberi kelanggengan hidup. “Organik lebih sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Sementara itu, Achmad Ru’yat, Wakil Walikota Bogor mengatakan bahwa peran kebijakan dalam pengembangan organik dan herbal sangat penting. Semua upaya seperti BOF3 & FHI harus mendapat tindak lanjut dari pemangku kebijakan. Terlebih saat ini semua yang bersifat alami telah menjadi kebutuhan masyarakat.
“Selama 531 tahun Kota Bogor sangat inheren dengan masalah-masalah lingkungan. Kita punya saksi hidup berupa Kebun Raya Bogor. Sangat jelas visi sustainable development Kota Bogor,” jelasnya.
Ru’yat menambahkan dalam skala ekonomi, nilai tambah hanya terjadi antara struktur dan pendukung lingkungan. Sehingga tanpa dukungan anggaran, segala upaya lingkungan terkait organik dan herbal hanya akan menjadi simbolis. Maka yang terpenting setelah kegiatan ini, tidak hanya sebatas workshop tapi bisa lebih mempengaruhi para pengambil kebijakan untuk medukung. (ANP/SNY)
Sumber: http://www.organicindonesia.org