Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada pemberdayaan masyarakat pedesaan dan penanggulangan kemiskinan dan pertanian selaras alam, Jumat (16/10) lalu, mendapat penghargaan dari Association of Southeast Asian Nation (ASEAN). Penghargaan The Second ASEAN Leadership Award on Rural Development and Poverty Eradication ini diserahkan oleh H. E. Le Luong Minh, Sekretaris Jenderal ASEAN, di hadapan para peserta forum The 9th ASEAN Ministerial Meeting on Rural Development and Poverty Eradication and Related Meetings yang berlangsung di Vientiane, Lao PDR.
“Penghargaan ini merupakan satu pencapaian yang patut dijadikan pembelajaran oleh seluruh komunitas, begitu juga pada internal organisasi BITRA sendiri dan bagi kelompok dampingan. Karena apresiasi yang diberikan oleh ASEAN ini adalah penghargaan yang cukup tinggi dan menjadi tantangan bagi BITRA agar tetap komitmen, konsisten, fokus dan lebih inovatif lagi dalam mengembangkan gagasan-gagasan dan program-programnya yang ditujukan bagi perubahan sosial, terutama di desa-desa di mana BITRA bekerja,” kata Wahyudhi, Direktur BITRA Indonesia, usai menerima ASEAN Leadership Award.
Sebelumnya, dalam forum yang berlangsung pada 13-17 Oktober 2015 lalu dan dihadiri negara-negara ASEAN serta negara sahabat ASEAN seperti Korea Selatan, Cina dan Jepang, Wahyudhi memaparkan kerja-kerja yang dilakukan BITRA, yaitu tentang pelaksanaan program yang merupakan kerjasama dengan berbagai pihak, antara lain swasta, pemerintah, dan Organisasi Masyarakat Sipil, termasuk tentang pendampingan pertanian organik, peningkatan kapasitas petani karet dan pendampingan pertanian terintegrasi. “Dalam konteks ini, pertanian organik menjadi bagian dari kaitan pengembangan desa dan penanggulangan kemiskinan. Pertanian organik secara keseluruhan merupakan salah satu inovasi. Karena selain mengurangi dampak lingkungan, harga produk pertanian organik lebih baik daripada harga produk pertanian konvensional. Dalam ukuran tertentu, hal ini berdampak pada penanggulangan kemiskinan,” jelasnya.
Wahyudhi menambahkan, hal-hal lain yang berkaitan dengan keberhasilan BITRA adalah dalam mendapatkan dukungan pembiayaan proyek melalui dana CSR perusahaan. “Kita punya pengalaman, misalnya dengan Aqua Danone, Bank Sumut, dan saat ini sedang diskusi dengan pihak Bridgestone. Pengalaman inilah yang kita bagi pada forum tersebut,” ujarnya.
Bahkan usai presentasi, beberapa peserta forum mengajak BITRA untuk berdiskusi lebih mendalam tentang bagaimana BITRA bisa melakukan hal-hal yang menyangkut soal CSR. “Ternyata tidak semua negara mendapat kesempatan pendanaan CSR. Terkait dengan kerangka kerja pembangunan global, yaitu Sustainable Development Goals (SDG’s), yang disahkan September lalu di New York, ada 17 isu yang harus direspons oleh semua negara di dunia, termasuk negara-negara di ASEAN. Dan karena tidak semua isu ini bisa dibiayai negara, maka alternatifnya adalah menggunakan dana CSR,” tambahnya.
Kepada partner BITRA, baik yang ada di dalam maupun di luar, Wahyudhi berpesan, marilah membangun kerjasama yang lebih baik lagi untuk mendorong perubahan di desa, terutama sejak disahkannya UU Desa. Karena desa kini menjadi pusat seluruh aktifitas pembangunan. Seperti tekad pemerintah: membangun dari desa. “Oleh karena itu, marilah semua pihak, baik pemerintah maupun non-pemerintah (LSM) membangun sinergitas agar amanat UU Desa bisa terwujud,” katanya.
Dari kesepakatan SOMRDPE, pada 2017-2018 mendatang, Indonesia diharapkan dapat menyelenggarakan tiga kegiatan menyangkut sharing pengalaman pembangunan desa dan penanggulangan kemiskinan serta manajemen risiko bencana pada level desa dan rumah tangga. Mengenai kesepakatan yang merupakan bagian dari Forum ASEAN ini, Wahyudhi menghimbau pihak pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) agar lebih membangun kerjasama dengan LSM-LSM lain yang memiliki kerja cukup banyak juga di desa-desa. “Karena sharing justru akan lebih bermanfaat kalau peserta sharingnya banyak. Kalau kesempatan hari ini ada pada BITRA, maka ke depan, LSM lainnya bisa diajak. Atau bisa mewakili daerah-daerah yang ada, sehingga sharing lebih berwarna dan lebih bervariasi,” tuturnya. (jc)