
Husin pemilik & penangkar bibit jabon di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Dari menangkarkan jabon, dalam sebulan Ia mampu meraup omzet Rp 15 juta. Dalam perbulan ia mampu memasarkan 5.000 batang bibit jabon, dijual rata-rata Rp 3.000
Berbisnis di sektor agribisnis begitu banyak menjajikan keuntungan. Usaha yang bisa digeluti di bidang ini juga sangat banyak, salah satunya adalah pembibitan. Seperti bibit jabon (anthocephalus cadamba) misalnya.
Adalah Husin, pemilik dan penangkar bibit CV Usaha Makmur di Tanjung Morawa Deli Serdang, salah seorang yang telah melakukan penangkaran bibit jabon. Penghasilannya pun dari usaha ini cukup menggiurkan. Tak kurang, omset yang ia peroleh perbulan mencapai Rp 15 juta. Pasalnya, dalam perbulan ia mampu memasarkan sekitar 5.000 batang bibit jabon yang dijual rata-rata seharga Rp 3.000 perbibitnya.
Dengan omset sebesar itu, bila dipotong biaya produksi yang telah ia keluarkan, dalam perbulan ia masih bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 7,5 juta perbulan. Sedangkan biaya produksi yang harus ia keluarkan yakni untuk pembelian benih jabon dari pulau Jawa sekitar Rp 5 juta. Namun dnegan modal segitu, ia telah mendapatkan ratusan ribu bibit yang dapat ia terus kembangkan. Sementara modal produksi lainnya yang harus ia keluarkan adalah untuk pembelian wahana penanaman bibit, pupuk serta upah kerja karyawannya.
“Baru sekitar enam bulan lalu saya mengurus bibit jabon dan memasarkannya, dan kini sudah terjual lebih dari 75.000 batang jabon dalam berbagai ukuran. Untuk harga jual dari Rp400 perbatang ukuran sosis dan Rp 2,000 hingga Rp 3,000 ukuran 40 cm – 50 cm,” ujarnya.
Di lahan seluas satu hektar tepatnya di Dusun III, Desa Dagang Klambir Km 16,5 Kecamatan Tanjung Morawa, Husin tertarik memasarkan bibit jabon karena meningkatnya permintaan bahan baku kayu alam tersebut semenjak adanya larangan penebangan pohon dari hutan alam, maka jabon dengan keunggulannya menjadikan tanaman kayu ini booming sejak 4 tahun belakangan.
“Pohon jabon ini jadi favorit karena permintaan banyak. Meskipun sebelumnya saya tidak tahu wawasan dalam mengembangkan bibit tanaman hutan yang tergolong mahal,” jelasnya.
Sembari menunjukkan bibit jabon halus di kertas koran, Husin yang juga salah satu pendiri Asosiasi Penangkar Tanaman (Aspenta) Sumut ini menjelaskan keunggulan jabon. Pertumbuhan jabon lebih cepat dari tanaman kayu lainnya yakni, umur 4 hingga 5 tahun dengan lingkar batang berdiameter 40 – 50 centimeter sudah bisa dipanen. Selain itu, dengan masih sedikitnya pembudidaya jabon di Sumatera Utara, menjadikan pembibitan jabon memiliki prospek yang besar.
“Saya beli benih dari Jawa, saya coba kembangkan di sini dan alhamdulillah meskipun beberapa kali pernah gagal, tapi dari kegagalan itu saya justru tertantang untuk mencari celah dimana salahnya, dan untuk ini membutuhkan keseriusan mulai pikiran tenaga dan sumber daya lainhya,” ucapnya seraya menambahkan sering terbangun pada dini hari hanya untuk melihat pertumbuhan bibit jabon.
Meski penjualan bibit menguntungkan karena memenuhi permintaan dari penangkar, dinas ataupun masyarakat, namun sampai saat ini pembelian bibit tidak menentu. Tapi, terkadang dalam sebulan kosong pembeli tapi bulan berikutnya ramai. Bila dikalkulasikan rata-rata sebulan 5.000 bibit jabon terjual untuk usia 3 hingga 4 bulan. Sedangkan yang masih dalam sosis jumlahnya tak terhitung. ”Itu kalau yang tumbuh 20% dari keseluruhannya sudah syukur, karena ada banyak kemungkinan untuk dalam pertumbuhannya, misalnya kurang dalam penyiraman, dan kegagalan lainnya,“ ungkap Husin.
Sementara itu jumlah bibit yang masih dalam sosis menurutnya sudah terjual kira-kira 75.000 batang. ‘’Yang membeli yang masih dalam sosis biasanya penangkar- penangkar lain, mereka membeli untuk dijualnya kembali kepada konsumen lain, ini sebagai kerjasama antar penangkar,’’ ujarnya.
Tanaman jabon ini, lanjut Husin, sedang booming sejak beberapa tahun belakangan tapi masih belum begitu populer di masyarakat umum karena harganya yang masih tergolong tinggi. Padahal dengan meningkatnya kebutuhan kayu di masyarakat dan larangan dari pemerintah menebang kayu di hutan, maka kayu jabon menjadi alternatif untuk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Jabon sudah merupakan tanaman tren dan masih didominasi kelas atas atau elit. Jadi perlu kampanye lebih efektif untuk mengenalkan jabon lebih memasyarakat lagi dengan harga terjangkau oleh masyarakat kelas bawah. Masyarakat juga dapat belajar bagaimana mengembangkan dari pembibitan sampai bisa dijual,” pungkas Husin. (dewantoro/Khazanah Leuser)
Sumber & Foto: http://khazanahleuser.wordpress.com