Pertanian | Rekayasa Genetika
“Pemerintah tidak belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak ada kemandirian yang dibangun dengan ketergantungan.” Bantah Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera, atas keinginan pemerintah untuk membuka diri terhadap benih transgenik.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krishnamurti, menegaskan akan mengambil kebijakan untuk mengembangkan dan membuka diri terhadap produk pertanian hasil bioteknologi modern hasil rekayasa genetik atau disebut transgenik. Disampaikan dalam seminar bertajuk “Global Overview of Biotech/GM Crops 2010” pada 14 Maret 2011.
Menurut Wamentan, kebijakan ini diambil untuk mengatasi masalah ketersediaan pangan di masa mendatang dan juga mencegah ketergantungan Indonesia dari produk-produk impor. Alasan yang bertolak belakang, karena secara global benih transgenik dikuasai oleh perusahaan multinasional.
Pernyataan Wamentan ini melupakan pengalaman komersialisasi kapas transgenik di Sulawesi Selatan yang dilakukan pada 2001, dan berakhir dengan kegagalan, karena ekologis, sosial dan ekonomi. Janji yang digembar gemborkan perusahaan, didukung ilmuwan dan pemerintah bahwa setelah empat kali panen kapas transgenik, para petani dapat naik haji tidak pernah terbukti
Para pendukung industri transgenik
Pembicara utama dari International Service for the Acquisition of Agro-biotech Applications (ISAAA) Clive James, direktur dan pendiri ISAAA, lembaga didukung oleh perusahaan bioteknologi modern dan lembaga lainnya, seperti Monsanto, Dupont, Syngenta, Bayer dan USAID. James mengatakan bahwa transgenik adalah konsep alternatif, yang menurutnya berhasil sebagai solusi masalah pangan di dunia. Kampanye sebelumnya, dinyatakan sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan pangan, belum lama sudah berubah.
James, menunjukan bahwa luas lahan yang dipakai untuk menanam tanaman-tanaman bioteknologi dalam 15 tahun terakhir ini meningkat 87 kali lipat hingga mencapai angka 1 milliar hektar di tahun 2010. ISAAA juga mengklaim jumlah negara yang menanam tanaman Bt melonjak sebanyak 29 negara di tahun 2010 dari 25 negara di 2009. Dia mengatakan bahwa pertanian transgenik merupakan jawaban atas masalah pengan dunia saat ini dan masa depan. James juga berharap agar Indonesia bisa mengikuti jejak 29 negara lainnya untuk mengadopsi pertanian transgenik. Pada saat yang sama krisis pangan terus terjadi.
Klaim yang harus dicermati
Pertanyaan James ini disanggah oleh Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Aliansi untuk Desa Sejahtera. Tejo menegaskan, pertanian transgenik hanya akan membebani petani karena akan membuka pintu masuk perusahaan multinasional raksasa pertanian untuk menguasai pasar benih Indonesia.
“Jika keadaan demikian terjadi (pembukaan pertanian transgenik –red-) di masa depan maka petani tidak lagi bisa melakukan penyilangan-penyilangan benih sendiri seperti yang selama ini terjadi.” Ujar Tejo di Jakarta. Pemerintah hendaknya melihat kasus di Makassar pada periode 2002-2004 dimana terjadi konflik antara petani kapas dengan anak perusahaan Monsanto karena monopoli benih oleh perusahaan yang membebani petani.
Produk pertanian transgenik juga harus ditinjau ulang baik dalam sisi kesehatan, terlebih dari sisi teknologi konstruksi gen belum diketahui dengan pasti kestabilannya. Konsumen pun harus mendapat informasi yang lengkap, dan berhak menolak pemakaian produk ini.
“Konsumen sering hanya diberi tahu bahwa tanaman transgenik akan meningkatkan produksi, menambah sifat yang lebih unggul, tetapi jarang yang memberi tahu, dalam tanaman tersebut ada berbagai gen yang ditambahkan, diantaranya gen virus. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan siapa yang bisa tahu bagaimana interaksi antar gen ini terhadap kesehatan manusia.” ujar Ida Ronauli, yang tergabung dalam Koalisi Ornop untuk Keamanan Hayati. Terlebih hanya 1% dana penelitian dialokasikan untuk meneliti dampak oragnisme transgenik.
Tampaknya, pemerintah harus lebih jeli sebelum memutuskan penggunaan benih transgenik. Jika tidak, taruhannya adalah ketergantungan, kesehatan konsumen dan kesejahteraan petani yang semakin tidak pasti.
***
Lembar Fakta Pangan Transgenik
Sejarah produk transgenik
- Rekayasa genetik modern dimulai sejak Stanley dari Stanford University dan Herbert Boyer dari UCLA menggabungkan gen katak ke gen bakteri pada tahun 1973.
- Pada tahun 1983 tanaman transgenik pertama,tembakau, yang anti-biotik berhasil dibuat, selang 5 tahun kemudian kapas transgenik pertama berhasil dibuat (Cramer, 2001).
- Pada tahun 1994 perusahaan kimia raksasa Amerika, Monsanto, mengeluarkan produk transgenik pertamanya, Bosilac, untuk pakan sapi. Dua tahun kemudian Monsanto mengeluarkan produk kapas anti serangga.
Luasan:
- Menurut International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) tahun 2011. Jumlah lahan yang menggunakan tanaman transgenic sebesar 1 milliar hektar di seluruh dunia.
- Jumlah lahan tersebutmeningkat 100 persen dari tahun 2005 yang hanya 500 juta ha dan dicapai dalam waktu 15 tahun sejak kmunculan komersialisasi pertama kali tahun 1996.
- Ada 29 negara yang membudididayakan tanaman transgenik pada tahun 2010, 15 negara diantaranya berkembang di luar Eropa, 4 negara berkembang Eropa dan 10 negara maju.
- Dari 15 negara berkembang di luar Eropa tersebut antara lain Pakistan, Myanmar, Cina, Argentina, Brazil, Filipina, Afrika Selatan, India, Burkina Faso, Paraguay, Uruguay, Meksiko, Honduras, Kolombia, Chili.
- 75% dari jumlah lahan total transgenik berada di negara-negara industri (FAO, 2008).
- Empat tanaman utama transgenik diseluruh dunia meliputi: kedelai, jagung, kapas dan kanola
Pangan transgenik tidak akan mampu menjawab masalah krisis pangan
- Meskipun angka lahan yang dipakai untuk tanaman transgenik seluruh dunia bertambah 100% dari tahun 2005 hingga 2010, namun angka kelaparan di deluruh dunia meningkat 15% dari 800 juta jiwa (2005) menjadi 925 juta jiwa (2010)
- Ongkos yang dihasilkan oleh pertanian transgenik lebih besar dibandingkan dengan pertanian konvensional. Budidaya kapas transgenik India membebani petani 20% lebih banyak daripada pertania tradisional, namun hasil yang didapat 40% lebih sedikit.
Produktivitas dan penggunaan pestisida
- Produk Transegenik diklaim oleh para pendukungnya lebih produktif 30-40% dari produk biasa. Namun kondisi di lapangan ternyata justru terjadi sebaliknya, di Kenya, pemerintah pada tahun 2004 mengumumkan bahwa kentang transgenik buatan Monsanto tidak anti terhadap serangan virus “Feathery Mottle” dan menurunkan angka panen dibanding pertanian konvensional.
- Pada awal dekade 2000an, Indonesia pernah mencoba membudidayakan 4.000ha lahan kapas transgenik di Bulukumba, Sulawesi Selatan, namun gagal panen dan berujung konflik. Di Bulukumba terjadi kegagalan panen kapas besar-besaran di lahan 4.364ha. Kapas transgenik hanya menghasilkan 988 kg/Ha dan sangat jauh dari yang dijanjikan pihak perusahaan penyedia benih yaitu 3-4 ton/Ha.
- Studi selama tiga tahun di 87 desa di India 2004-2007 menunjukan bahwa kapas konvensional menghasilkan 30% lebih banyak daripada kapas transgenik. (The Ecologist)
- Di AS terjadi peningkatan herbisida dan pestisida setelah menggunakan tanaman tranagenik. Di Filipina, muncul 3 gulma super baru setelah menggunakan jagung transgenik Roundup Ready. (Pat Mooney, Etc, 2011)
Konsumsi
- Data mencatat hampir 60% kebutuhan kedelai Indonesia diimpor dari Amerika Serikat dan itu adalah jenis kedelai transgenik (Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, 2009) atau sebesar kurang lebih sebanyak 1,2 juta ton setiap tahun. Itu berarti hampir setiap hari kita memakan kedelai transgenik.
- Hal tersebut melanggar UU Pangan no. 7 tahun 1996 yang menjamin kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
- Diperkirakan sekitar 250 juta orang mengkonsumsi pangan transgenik di seluruh dunia setiap harinya.
- Salah satu produk transgenik yang akan dijual ke pasaran adalah Beras Emas (Golden Rice), yang diklaim memiliki kandungan Pro-vitamin A.
- Secara metodologi, uji coba golden rice tersebut tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Prof. Robert Russel dari Tufts University School of Medicine, menyatakan bahwa ujicoba golden rice tidak dilakukan ke hewan terlebih dahulu sehingga risikonya tidak terdeteksi.
Dampak Sosial dan Budaya:
- Kejadian di Sulawesi Selatan (2001-2003) membuktikan bahwa pertanian transgenik juga dimanfaatkan sebagai sarana monopoli benih dari perusahaan besar, sehingga petani tidak memiliki ruang kreativitas untuk mengembangkan benih sendiri.
- Diantara tahun 2001-2005, 32.000 petani India bunuh diri karena terlilit hutang akibat hasil pertanian sanga
Dampak Kesehatan
- Dr. Arpad Pusztai peneliti Rusia menemukan adanya hubungan antara produk pangan transgenik dengan Kanker, berdasarkan percobaan yang dilakukan melalui Tikus yang diberi kentang transgenik. Penelitian tersebut dipakai oleh Greenpeace tahun 2007 untuk melawan kebijakan pemerintah Inggris yang menerbitkan izin impor kentang transgenik.
- Peneliti Perancis, Dr Gilles Eric Seralini dari University of Caen meneliti mengenai hewan percobaan yang diberi tiga tipe jagung hasil modifikasi genetik. Hasilnya hewan tersebut dilaporkan mengalami gejala kerusakan organ liver dan ginjal (detikhealth).
- Evolusi hama dan gulma menjadi lebih kuat juga dikhawatirkan muncul mengikuti perkembangan tanaman transgenik.
Sumber: http://desasejahtera.org