Sejumlah aktivis Greenpeace menggelar aksi damai di depan Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi, Rabu (12/3) lalu, di Jakarta. Mereka mengenakan atribut dan kostum bertanda “NO COAL, YES RENEWABLE ENERGY”. Aksi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap fakta biaya sebenarnya dari industri batubara yang diklaim oleh Pemerintah Indonesia sebagai salah satu penopang utama perkonomian Indonesia.
Meskipun sektor batu bara Indonesia mengalami pertumbuhan luar biasa dalam sepuluh tahun terakhir ini (produksi dan ekspor batu bara meningkat lima kali lipat antara tahun 2000 dan 2012), namun sektor ini hanya menyumbang 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan prospek pertumbuhan di masa depan yang lebih terbatas.
Industri batubara menggambarkan dirinya sebagai penggerak utama perekonomian Indonesia. Pada kenyataannya, batubara adalah industri bernilai rendah yang menyebabkan kerusakan berlebihan kepada mata pencaharian penduduk lokal, memperburuk kemiskinan dan berkontribusi minim terhadap PDB secara keseluruhan, dan bahkan prospek pertumbuhan di masa depan yang lebih rendah. Dengan kata lain, industri batubara justru telah melukai perekonomian di Indonesia.
“Pengembangan batubara tidak membantu masyarakat miskin pedesaan, karena memberi dampak negatif yang sangat kuat pada pertanian, perikanan dan sektor lain dimana jauh lebih banyak orang bergantung untuk penghidupannya,” kata Arif Fiyanto, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.
“Pemerintah harus segera menghentikan pembangunan ekonomi yang berbasis pada energi kotor batubara, karena dampaknya yang merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan warga. Dalam jangka panjang jika Indonesia masih terus melanjutkan pembangunan ekonomi yang bertopang pada batubara, maka batubara akan menghancurkan perekonomian Indonesia, dan menjauhkan negara ini dari jalur pembangunan ekonomi rendah karbon,” pungkasnya.
Sumber: hijauku.com
Foto: www.greenpeace.org