
Lahan Sawah, tanaman pangan padi yang siap dialihkan pada tanaman ubi untuk industri di desa Bantan, Dolok Masihul, Serdang Bedagai.
Paling sedikit tiga desa dari dua kecamatan yang ada di kabupaten Serdang Bedagai, masyarakatnya menyatakan laju alih fungsi lahan pertanian pangan, khususnya padi sangat tinggi. Hal tersebut terungkap saat dilakukan penelitian lapangan alih fungsi lahan di Serdang Bedagai oleh tim riset BITRA Indonesia (13/02/2013) di desa Bantan, kec Dolok Masihul dan desa Manggis, kec Serba Jadi, 2 dari 25 desa yang menjadi responden penelitian ini.
Meskipun pemerintah telah membangun bendungan atau dam di Sungai Ular, namun sebahagian desa yang berada di bawan aliran bendungan sungai Ular, seperti desa Bukit Cermin, petaninya menyatakan tidak akan beralih kembali pada tanaman pangan padi. Padahal, empat tahun sebelumnya, mereka beralih dari tanaman pangan padi ke tanaman ubi dan kelapa sawit karena alasan kekurangan atau ketiadaan air.
“Kami tidak mungkin lagi tanam padi, karena tanam padi merugi, sekarang tanam ubi atau sawit taraf hidup kami meningkat, bisa beli sepeda motor”, ungkap Rahmad (45 tahun), petani dari desa Bukit Cermin.
“Masalah yang dihadapi petani, sewaktu masih menanam padi, adalah serangan hama kepinding tanah, kerepotan jaga burung (selama 1 bulan penuh, saat padi mulai menguning), minimnya air karna merebaknya tanaman sawit disekitarnya, dan besarnya modal sarana produksi dibandingkan hasil. Sementara sekarang, tanaman ubi dan sawit tidak demikian. Namun kami lebih banyak yang beralih ke tanaman ubi dibanding sawit. Ubi, tanaman yang sangat murah biaya, bahkan bisa dikatakan tidak bermodal, hanya modal tenaga, sehabis ditanam lalu ditinggal. Kami bisa cari uang dengan cari kerjaan lain atau merantau. Pulang merantau ubi sudah bisa dipanen”. Rahmad menjelaskan panjang lebar.
Pendapat Rahmad dikuatkan oleh pendapat Miskun (61 tahun), “dusun Empat (Sibarok), seluruh petaninya telah beralih fungsi dari tanaman pangan padi ke tanaman ubi dan sawit sejak 4 tahun yang lalu. Bahkan, kini setelah bendungan selesai dibangunpun mereka tidak mau kembali ke tanaman pangan padi, padahal dahulu mereka beralih jenis tanaman karena kekurangan air. Menanam ubi cari utangan gampang, toke lebih percaya jika kita nanam ubi dibanding padi. Karena tanam ubi tidak ada istilah gagal panen seperti padi.” Kata Miskun.
Pendapat Miskun dan Rahmad, membuktikan di kalangan petani, setelah mereka menanam tanaman pangan selain padi, karena berbagai macam penyebab, mereka merasa lebih nyaman dan lebih untung tidak tanam padi. Namun ketika ditanya, “bagaimana menurut hati nurani mereka jika tidak ada yang tanam padi lagi?” Umumnnya mereka tidak setuju, dengan menjawab, “harus ada yang tanam padi, jika tidak, apa makan kita nanti? Ubikan sekarang bukan ditanam untuk pangan, namun untuk pabrik memenuhi bahan baku industry.” Jawab para petani.
Petani menyatakan, anak muda yang punya lahan sekarang lebih gemar nanam ubi dengan sistem modal utang untuk pengerjaan lahan, tanam juga panennya pun diupahkan, ada juga yang dimodali oleh toke dan wajib jual ke tokenya, sehingga para petani secara tidak langsung, jadi buruh di lahannya sendiri yang minim itu.
“Sekarang, dengan harga beras lebih dari sepuluh ribu perkilogram, di kampung kami semua penduduk meminta beras raskin, bahkan yang punya mobil pribadipun minta beras raskin.” Sebutnya.
Secara kasar untuk melihat laju alih fungsi lahan dari tanaman pangan khusus padi kepada tanaman yang lain di dusun Enam, desa Bantan, dengan luas dusun 45 Ha, lahan pertanian sekitar 40 Ha (lahan padi sawah) pada tahun 2010, kini (tahun 2013) hanya tersisa 7 sampai 10 Ha saja. Sisa luas lahan sawah di dusun Enam inipun bertahan karena petani berhasil mempertahankannya dengan membuat bendungan dan tali air kecil yang terbuat dari terucuk bambu, dialirkan dari sungai Bah Kerapu. Jika tidak ada bendungan swadaya ini mungkin semua petani sudah beralih ke tanaman lain.
“Desa Bantan, dengan luas 1,155 Ha, hanya memiliki lahan pertanian sawah 160 Ha saja. Dusun 1, 2 dan 4, semua petaninya sudah beralih fungsi dari tanaman pangan padi kepada sebahagian besar tanaman ubi dan sawit seluas 35 Ha. Jelas Masnalia, Sekdes Bantan.
Desa Bantan memang desa yang sangat kecil. Terutama lahan pertaniannya. Desa yang setiap tahun (saat musim penghujan) didatangi bencana banjir dari meluapnya sungai Bah Kerapu ini, dusunnya tersebar diantara enclave (semacam titik-titik kecil) di dalam hamparan luas lahan perkebunan Negara, suasta asing dan suasta lokal, rata-rata kepemilikan lahan penduduk sebagai petani sangat memprihatinkan.
“Lahan yang Saya garap ada 18 rante, 7 rante punya sendiri dan sisanya sewa punya orang. Dari 7 rante yang punya sendiri, 2,5 rante (sepersepuluh hektar atau 1/10 Ha) adalah warisan dari orang tua. Orang tua Saya lahan sawahnya 15 rante, lalu dibagi kepada kami anaknya 5 orang, jadi setiap anak mendapatkan 2,5 rante.” Terang Miskun.
Menurut Rahmad dan Miskun, jika dirata-ratakan di desa Bantan, kepemilikan lahan 3 sampai 4 rante perkepala keluarga, selain ada beberapa gelintir orang tuan tanah di desa yang punya luas lahan lebih.
Pada desa Manggis, desa yang berada pada hulu bendungan sungai Ular, tahun 1980-an masih ada lebih kurang 30 Ha lahan sawah tadah hujan untuk petani dusun Satu dan dusun Dua, sekarang hanya tinggal dibawah 10 Ha saja. Itupun sudah sawah campur sawit (tumpang sari) menunggu sawit berbuah dan besar.
“Tanah disini sebagian besar sudah dimiliki orang luar, terutama orang dari Medan. Faktor utama kami tidak menanam padi lagi adalah tidak tersedianya air dan sarana irigasi. Sekarang di sawah yang masih tersisa, airnya untuk cuci tangan saja sudah susah, karena sedikitnya ketersediaan air. Jika dari dulu ada irigasi kami tidak mungkin beralih ke tanam sawit.” Jelas Sulaiman Tambunan (36 tahun) dari desa Manggis, kec Serba Jadi.
Kearifan Lokal yang Punah
“Setiap habis panen, orang tua kami dulu semua menyimpan gabah di lumbung untuk cadangan pangan. Hampir semua petani disini punya lumbung pribadi (keluarga). Lumbung terakhir yang masih tersisa waktu Saya kecil, tahun 1960-an akhir. Selain lumbung pribadi ada juga lumbung marga di kampung orang kita Tapanuli, desa Dame. Sekarang sudah habis, tidak ada lagi yang punya lumbung.” Jelas Miskun.
Penjelasan Miskun dikuatkan oleh Sulaiman dari desa Manggis, “padi bagi kami adalah tondi (semangat/roh), karna ini tanaman yang diturunkan dari moyang kami, baik secara budaya maupun pengetahuan bercocok tanamnya untuk kebutuhan hidup. Dahulu setiap rumah ada lumbung keluarga dan lumbung desa sebagai obat ni tondi (penyemangat hidup). Orang tua kami dulu wajib menyimpan gabah dan harus masih menyisakannya meskipun hanya tinggal segenggaman tangan, sebelum panen berikutnya. Jadi gabah tidak boleh putus, harus ada di dalam lumbung atau rumah dari masa panen yang lalu ke panen berikutnya.” Jelasnya.
“Dulu ada istilah makan beras baru, setelah panen, hal tersebut merupakan kebanggaan kami karena panen berhasil, istilah bisa makan beras baru tersebut merupakan martabat bagi petani di kampung, saat itu. Tahun 1994 terakhir kali kami melakukan ritual turun sawah dengan masak lemang, masak nasi yang banyak, potong ayam, lalu dimakan bersama orang satu kampung. Semua dilakukan di sawah. Acara ini dinamai ulo taon (penghujung atau penutup tahun). Meskipun sawah kami adalah tadah hujan, namun orang tua kami dahulu pandai melihat dan menghitung kapan penghujan akan datang, sehingga panen selalu berhasil. Sekarang kebiasaan ulo taon dan lumbung sudah punah.” Sulaiman menambahkan penjelasan. (isw)