TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Flag Counter

Forum Bersama Pertanian Organik Sumatra

05/10/2012 , ,

Pertanian organik di Indonesia telah cukup lama berkembang paling tidak, tercatat dimulai sekitar tahun 1970-an yang ditandai dengan lahirnya beberapa lembaga yang memfokuskan dirinya dalam pengembangan pertanian organik. Kemudian di era 80-an dan 90-an, isu ini semakin berkembang lagi dengan ditandai bertambahnya lembaga-lembaga yang bergiat dalam isu ini. Ditahun 2000-an, merupakan satu momentum penting perkembangan pertanian organik di Indonesia, ditandai dengan lahirnya program “Go Organik 2010” oleh Kementrian Pertanian. Dari program ini kemudian dihasilkan beberapa kebijakan pemerintah terkait pertanian organik, seperti SNI Pangan Organik tahun 2002, dll.

Perkembangan terkini, menurut Statistik Pertanian Organik 2010 (SPOI) bahwa total luas area pertanian organik di Indonesia tahun 2010 adalah 238,872.24 Ha, meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Angka ini mencakup luas area pertanian organik yang disertifikasi (organik dankonversi), dalam proses sertifikasi, sertifikasi PAMOR dan tanpa sertifikasi. Informasi ini menjadi sesuatu hal yang penting ditelisik dan didiskusikan terkait dengan apa sesungguhnya makna dan yang menjadi tujuan hakiki dari pertanian organik tersebut.

Paling tidak, dari beberapa rujukan yang terbaca, makna dan tujuan hakiki dari pertanian organik tersebut adalah mengarah kepada keharmonisan aspek sosiologis, ekologis dan ekonomis dalam mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat. Upaya-upaya untuk mengarahkan gerakan pertanian organik menuju kearah ini terus berkembang dan melibatkan banyak pihak, baik di kalangan pengiat isu, produsen, konsumen maupun pengambil kebijakan.

Produk pertanian organik saat ini bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat. Mulai dari petani kecil di pedesaan, pelajar dan masyarakat umum sudah sangat familier dengan kata organik. Hal ini terjadi karena dunia internasional gencar menyuarakan pentingnya budaya organik. Disamping dampak yang diakibatkan dari aktifitas kimia konvensional produk makanan telah merugikan keseimbangan lingkungan, unsur kesehatan dan keberlanjutan kehidupan sudah dipikirkan secara internasional pula.

Walaupun kenyataannya di negeri ini masih hanya terbatas slogan saja, alangkah baiknya jika diperlukan kesamaan persepsi terhadap pentingnya organik bagi masyarakat kita. Untuk itu, perlu pendekatan multi pihak agar penggiat-penggiat organik yang umumnya petani kecil tetap mendapat tempat dan karyanya mendapat apresiasi  masyarakat, khususnya konsumen. Untuk itu gerakan sadar organik harus dibangun secara terus-menerus agar merata di setiap kalangan dan simpul saling membutuhkan tercipta.

Kebuntuan yang selama ini menjadi ganjalan antara petani dan konsumen organik adalah: Petani merasa enggan dengan budaya organik karena membutuhkan tenaga yang ekstra tinggi dan biaya besar. Petani merasa kesulitan menjangkau sertifikat organic karena mahal dan rumit dilakukan. Konsumen merasa enggan mengkonsumsi produk organik karena harganya mahal. Konsumen merasa kesulitan mendapatkan produk organik.

Gerakan sadar organik merupakan gagasan awal agar kebuntuan yang selama ini menjadi pembatas komunikasi antara petani dan konsumen organik terjembatani. Juga perlunya memberikan penghargaan terhadap produk organik agar terus berkembang sehingga bisa dinikmati oleh konsumen. Dan dengan mengedepankan penghargaan, maka kebuntuan yang terjadi juga bisa diurai secara multi pihak.

Dengan dialog-dialog multi pihak yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus, akan ditemukan kejelasan dan titik temu sehingga organic menjadi kepercayaan bagi petani dan konsumennya.

Produk organic adalah karya seni yang perlu dihargai lebih. Untuk itu marilah kita tingkatkan kesadaran agar masyarakat benar-benar menghargai dan member nilai lebih terhadap karya seni organik. Konsumen berkewajiban menunjang dan memberikan subsidi guna menyemangati petani organic (seniman organik) yang adalah pelaku di lapangan.

Melalui dialog multi pihak ini, diharapkan tercipta mekanisme kesadaran pasar yang lebih efisien sehingga mampu menekan biaya operasional. Dengan demikian harga produk organik bisa ditekan atas kehendak dan  kesadaran antara produsen, pasar dan produk organik itu sendiri.

Tanggal 9 – 10 Oktober, merupakan hari bersejarah bagi pertanian organik di Sumatra. Pasalnya pada 2 hari tersebut diselenggarakan Forum Bersama Pertanian Organik Sumatra, dengan thema “Membangun sinergi para pihak untuk penguatan petani organik dalam menguatkan mutu produk dan mengembangkan pasar organik berkeadilan”. Acara ini diselenggarakan oleh Aliannsi Organis Indonesia (AOI) yang sekretariat nasionalnya berada di bogor bekerjasama dengan BITRA Indonesia, medan.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan 2 hari ini berupa Talkshow/Seminar Pertanian Organik dan Pasar Berkeadilan, Workshop PGS (Participatory  Guarantee  Systems) Indonesia, yang diselenggarakan di Medan, dimana publik dari berbagai kalangan yang berkaitan dengan pertanian organik, petani (kelompok tani organik), para peneliti, pengusaha pertanian organik dan konsumen produk pertanian organik, juga akademisi, pakar lingkungan dan pers/media, diundang untuk mengikuti kegiatan, lalu dilanjutkan dengan Pertemuan Regional Anggota AOI Sumatra, yang akan diikuti oleh internal anggota AOI yang akan dilangsungkan di Parapat.

Tujuan dari kegiatan forum bersama ini, antara lain: Menjalin relasi yang lebih baik antar pihak yang peduli terhadap perkembangan pertanian organic. Mendorong terciptanya hubungan yang sinergi antara produsen organic dan konsumen organik. Memahami standar pertanian organik yang di implementasikan oleh petani organik. Mengetahui kebutuhan organic dan produksi organik yang ada di wilayah setempat. Membangun pemahaman dan harapan yang sama mengenai Pertanian Organik, Perdagangan yang Berkeadilan dan sistem pengawasan mutu di kelompok petani. Mengali dan merumuskan Potensi dan Masalah Pertanian Organik, Perdagangan yang Berkeadilan dan Sistem pengawasan mutu di kelompok petani  dikawasan Sumatra. Mengali dan merumuskan masukan dan gagasan untuk pengembangan Pertanian Organik, Perdagangan yang Berkeadilan dan Sistem pengawasan mutu di kelompok petani di Kawasan Sumatra. Mensosialisasikan kaidah dasar sistem PGS bagi pihak yang tertarik mengembangkan PGS di kawasan Sumatra. Mensosialisasikan PAMOR Indonesia ke anggota AOI di Sumatra.

Dengan hasil yang diharapkan bersama oleh pihak penyelenggara: Terbangunnya pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai Pertanian Organik, Perdagangan yang berkeadilan dan  sistem pengawasan mutu di kelompok petani. Tergali dan terumuskannya potensi dan masalah mengenai Pertanian Organik, Perdagangan yang Berkeadilan dan sistem pengawasan mutu di kelompok petani di kawasan Sumatra. Tergali dan terumuskannya masukan dan gagasan dalam pengembangan Pertanian Organik, Perdagangan yang Berkeadilan dan sistem pengawasan mutu di kelompok petani di kawasan Sumatra. Tersosialisasikannya kaidah dasar PGS Indonesia kepada para pihak yang tertarik mengembangkan PGS di kawasan Sumatra. Tersosialisasikannya sistem PAMOR Indonesia khususnya di anggota AOI Sumatra. Adanya kesepakatan bersama forum untuk mengembangkan 1 pilot project penerapan PAMOR Indonesia di kawasan Sumatra. (Isw)

Ilustrasi: www.organicindonesia.org

Detail penjelasan kegiatan dapat dibaca di sisi…

Bahan/materi kegiatan yang banyak diminati peserta dapat dibuka di sini:

Materi 1

Materi 2

Materi 3

Materi 4

Materi 5

Materi 6

Kliping Berita Kegiatan:

 

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107