
Panen perdana padi organik di desa Lubuk Bayas, dilakukan Bupati Serdang Bedagai, Ir H Soekirman, anggota DPRD, Dinas Pertanian dan BITRA Indonesia.
Kepala desa (Kades) Stabat Lama, M. Rasid dan Kades Lubuk Bayas, Ruslizar, SE., pada 15-22 November mendatang, akan mengikuti kegiatan The 3rd ASEAN+3 Village Leaders Exchange Program di Guangxi, China. Kegiatan pertukaran kepala desa se-ASEAN+3 ini merupakan salah satu media untuk mempromosikan upaya, inovasi dan pengalaman baik (best practices) pemerintah desa dalam membangun desa dan menanggulangi kemiskinan di pedesaan. Bersama 2 kades lainnya, dari Lombok Tengah dan Lombok Timur (Provinsi Nusa Tenggara Barat), kedua Kades asal Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini mewakili Indonesia dalam kegiatan tersebut.
Menurut Rasid, di kegiatan ini dia akan mempresentasikan tentang konservasi bantaran Sungai Wampu yang dilakukannya bersama masyarakat Desa Stabat Lama, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat.
Rasid menambahkan, Desa Stabat Lama yang berbatasan langsung dengan Sungai Wampu itu bagian yang tak terpisah dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), yang menjadi warisan dunia (tropical rainforest heritage of Sumatera) karena TNGL menjadi hulu berbagai sungai yang ada di Sumatera Utara dan Aceh. “Oleh sebab itu, konservasi Sungai Wampu di bagian hilir mutlak diperlukan karena berfungsi sebagai penyangga kelestarian lingkungan TNGL, DAS Wampu dan konsentrasi pemukiman penduduk di sekitar aliran Sungai Wampu,” katanya.
Adapun Ruslizar, S.E., Kades Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, secara terpisah mengatakan, pada kegiatan pertukaran kepala desa yang didampingi Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini, dia akan mempresentasikan sistem pertanian padi organik yang ada di Lubuk Bayas serta pembuatan pupuk cair dan padat organik oleh kelompok tani. “Kita akan promosikan sarana produksi pertanian dan padi organik ini di China, termasuk pupuk cair organik yang dikelola petani Lubuk Bayas,” ujarnya.

Kepala Desa Stabat Lama (tengah, topi putih) menunjukkan pohon Jabi-jabi sebagai tanaman lokal yang akarnya mampu menahan erosi tebing sungai, pada Tim Riset Konservasi Sungai Wampu.
Baik Rasid maupun Ruslizar mengakui bahwa kegiatan yang mereka lalukan ini tak lepas dari perhatian dan pendampingan BITRA Indonesia pada kelompok masyarakat di desa mereka masing-masing. “Terpilihnya kami mewakili Indonesia dalam pertukaran pengetahuan bagi Kepala Desa ini juga merupakan rekomendasi dari BITRA Indonesia,” ujar Ruslizar, Kamis (12/11) di kediamannya.
Rusdiana, wakil direktur BITRA Indonesia mengatakan, rekomendasi ini diajukan karena sebelumnya BITRA bersama delegasi Kemenko PMK menghadiri forum The 9th ASEAN Ministerial Meeting on Rural Development and Poverty Eradication and Related Meetings yang berlangsung di Vientiane, Lao PDR, Oktober lalu. “Dalam forum tersebut, BITRA mempresentasikan praktik-praktik baik pelaksanaan program yang merupakan kerjasama antara swasta, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil, di antaranya tentang pendampingan pertanian organik dan juga konservasi sungai,” jelasnya. (jc/ed:iws)