“Semua seperti mimpi,” ungkap Sardi (50), warga Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Sei Lepan, Langkat, saat mendapati kenyataan pahit bahwa anak kesayangannya telah tiada.
Seperti yang diceritakan orang tua korban, Sardi di Rumah Sakit Putri Bidadari, saat JWD Mekar Makmur membesuk, tanggal 31 Juli 2025. Hari itu, cerita Sardi, Minggu, 27 Juli 2025, sekitar pukul 15.00 WIB, Dea Khairunnisa (13) berpamitan kepada orang tuanya untuk mandi di sungai bersama teman-temannya. Usai mandi, mereka pulang berboncengan menggunakan sepeda motor. Namun, nahas menimpa Dea saat melintasi jembatan darurat yang hanya terdiri dari dua keping papan sepanjang dua meter. Salah satu papan patah, menyebabkan Dea terjatuh ke dalam parit sedalam dua meter dan tertimpa sepeda motor yang dikendarainya.
Lebih tragis lagi, standar sepeda motor yang tidak dilengkapi karet pelindung menancap tepat di kepala Dea. Dalam kondisi luka parah, ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Putri Bidadari di Stabat. Setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari, pada Kamis, 31 Juli 2025, pukul 18.30 WIB, Dea menghembuskan napas terakhir.
Kepergian Dea meninggalkan luka mendalam bagi kedua orang tuanya. Meski mereka telah mencoba mengikhlaskan, kesedihan tak dapat disembunyikan. Ungkapan duka cita pun mengalir dari teman-teman dan para guru di SMP Negeri Satu Atap Afdeling VII Desa Sawit Hulu, tempat Dea menuntut ilmu.
Kejadian ini menjadi pengingat keras akan pentingnya keselamatan infrastruktur desa. Jembatan darurat yang tidak layak pakai seharusnya tidak menjadi akses utama warga, apalagi anak-anak. Tragedi ini bukan hanya kehilangan satu nyawa muda, tetapi juga alarm bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk segera memperbaiki fasilitas umum demi mencegah korban berikutnya.
Mari kita jadikan duka ini sebagai dorongan untuk perubahan. Demi keselamatan anak-anak kita, demi masa depan yang lebih aman.(Suparno | JWD Mekar Makmur)
Tinggalkan Komentar