Hamparan sawah menguning di Desa Dame, Kecamatan Dolok Masihul, menjadi saksi semangat para petani yang mengikuti kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) pada 10 Oktober 2025. Kegiatan ini digelar menjelang masa panen, ketika bulir-bulir padi mulai menunduk matang di lahan petani setempat.
Program ini merupakan bagian dari pendampingan berkelanjutan yang telah dilakukan sejak awal Juli 2025 oleh Yayasan BITRA Indonesia. Melalui kegiatan ini, petani didorong untuk memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil panen mereka.
Dalam sesi praktik di lapangan, peserta belajar teknik pengambilan sampel padi, pengukuran panjang malai, serta penghitungan butir isi dan hampa. Data yang dikumpulkan dari kegiatan ini digunakan untuk menganalisis potensi hasil panen serta mengevaluasi pola budidaya yang diterapkan. Dengan metode sederhana namun ilmiah ini, petani dapat menilai tingkat produktivitas lahan mereka sekaligus memahami dampak iklim terhadap hasil pertanian.
Salah satu peserta, Br. Munthe, mengungkapkan rasa senangnya bisa terlibat langsung dalam proses pembelajaran ini. “Selama ini kami menanam padi berdasarkan kebiasaan, tapi lewat kegiatan ini kami jadi tahu cara menghitung malai dan memperkirakan hasil panen dengan lebih pasti. Ini membuat kami lebih paham apa yang harus diperbaiki untuk musim tanam berikutnya,” ujarnya dengan penuh semangat.
Melalui Sekolah Lapang Iklim, para petani Desa Dame tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya adaptasi iklim dalam praktik pertanian. Pembelajaran langsung di sawah membuat petani lebih tanggap terhadap perubahan cuaca dan lebih siap mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga produktivitas lahan mereka.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara Yayasan BITRA Indonesia dan masyarakat tani dapat memperkuat ketahanan pangan berbasis pengetahuan lokal. Dengan semangat kebersamaan dan kemauan belajar yang tinggi, para petani Desa Dame kini semakin siap menghadapi tantangan iklim menuju panen yang lebih baik dan berkelanjutan.
Selain aspek teknis, kegiatan ini juga memperkuat ikatan sosial antarpetani. Melalui diskusi kelompok dan kerja sama di lapangan, mereka saling berbagi pengalaman tentang pola tanam, penggunaan varietas tahan cuaca ekstrem, dan strategi pengelolaan air di musim yang tak menentu. Kebersamaan ini menumbuhkan semangat gotong royong sebagai nilai dasar yang melekat pada kehidupan masyarakat desa.
Tinggalkan Komentar